Begin Again

Begin Again
Makan Malam


__ADS_3

Sejujurnya, Chika masih merasa was-was untuk melepas Sheva pergi bersama sang nenek. Takutnya bocah sebelas tahun itu tidak bisa mengendalikan emosi, mengingat dia memiliki sifat seperti Emil. Tapi apa boleh buat, ibu Ineke sendiri yang meminta Sheva untuk ikut dengannya.


Sejak kehadiran ibu Ineke, Sheva tidak mau mendekatinya. Dia tetap keras kepala tidak mau menegur ibu Ineke. Dan bukankah aneh melihat dua orang itu mendadak akrab, seperti cucu dan nenek yang saling menyayangi.


Ketika senja nyaris berlalu, Chika mulai mencemaskan keberadaan mereka berdua. Dia tidak tahu harus mencari ke mana. Dia hanya bisa menunggu di teras rumah, berjalan mondar-mandir menunggu mereka pulang.


Tidak lama terdengar suara ponsel Chika berdering nyaring, nama Emil tercetak jelas di layar ponselnya saat ini. Dia bingung harus menjelaskan atau tidak, takut pria itu ikut mencemaskan keberadaan Sheva dan menganggu pekerjaanya.


“Hallo, apa Ibun sudah mandi?”


Chika merasa kesal saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Emil. Berulangkali dia membuang napas kasar untuk meredam emosinya.


"Hallo, apa Ibun sudah mandi?" ulang pria di seberang panggilan.


“Kenapa tanyanya begitu? aku lagi frustasi, mikirin kemana perginya Sheva dan ibu, sejak pukul tiga tadi mereka pergi berdua saja, aku tidak diizinkan untuk ikut. Ak—ku bingung harus mencari mereka ke mana, Kak.”


“Udah tenang, mereka ada sama aku, Ibun!” respon Emil. Berkata jujur karena faktanya memang seperti itu.


“Kamu?”


“Ya, mereka bersamaku. Jadi jangan cemas ya! Sekarang Ibun mandi! lima menit lagi aku sampai rumah. Kita makan malam bersama, Okay.”


“Serius Sheva sama kamu, Kak?” Chika masih ragu, bagaimana bisa putranya itu bersama Emil? apa tadi ibu Ineke meminta untuk di antar ke tempat kerja suaminya?


“Iya, Ibun, mereka ada bersamaku!”


“Kenapa nggak ngabari aku dari tadi, sih? Aku tu stress mikirin ibu. Aku takut Sheva bakal nyelakain Ibu.” Chika mengeluarkan kekhawatirannya.


Emil justru terkekeh. “Udah, sekarang Ibun masuk kamar dan mandi, empat menit lagi aku sampai.”

__ADS_1


“Ema—


Chika mengerang kesal ketika ponsel itu justru dimatikan oleh suaminya. Tapi hatinya sedikit lega, karena ternyata Sheva ada bersama suaminya dia tidak perlu cemas, pasti pria itu bisa mengatasi Sheva.


Chika memutuskan untuk masuk ke rumah, menuruti apa yang diperintahkan Emil. Dia sendiri bingung harus mengenakan pakaian apa. Jujur dia tidak memiliki pakaian yang bagus untuk makan malam bersama Emil. Takutnya, apa yang dikenakan sekarang akan membuat Emil malu. Pria itu menjelma menjadi pengusaha mebel sukses, pasti akan ada orang yang mengenalinya.


Lima belas menit berkutat di dalam kamar mandi, Chika akhirnya selesai, dia bergegas keluar bersiap mengenakan pakaian apa saja yang masih pantas untuknya.


Chika tersentak saat mendapati Emil sudah terbaring di ranjang dengan tangan sibuk bermain ponsel. Pria itu hanya melirik ke arahnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Mana sheva, Kak?” selidik Chika saat tak mendapati siapapun di rumahnya.


“Ada sama mama, kita mau makan malam, Sayang ... jadi mereka sudah menunggu kita di sana.” Emil menjelaskan singkat.


“Dalam rangka apa? Aku tadi sudah masak, loh!” Chika berusaha menolak permintaan Emil. Ya, dia memang sudah memasak, untuk makan malam penghuni rumah. Kalau malam ini mereka akan makan di luar, otomatis masakannya tidak ada yang memakan.


“Kakak jemput mereka saja deh, habis itu bawa mereka pulang! biar aku makan masakku.”


“Udah ya … aku nggak terima penolakan. Mendingan ibun cepat-cepat ganti baju! Lalu kita siap-siap, karena acara makan malam dimulai pukul tujuh.” Emil berusaha tegas. Dia tidak ingin waktunya habis hanya untuk membujuk Chika.


Wanita itu mengalah, dia berjalan ke arah lemari, mengambil pakaian yang menurutnya masih pantas dipakai untuk acara makan malam.


“Mbak, masuklah! Istriku sudah selesai mandi!” minta Emil pada seseorang yang sedari tadi menunggu Chika di luar kamar. “Dia baru ganti baju,” sambung Emil mengiringi langkah wanita itu. Dia beranjak dari ranjang, lalu memberitahu Chika. “Ibun, ini ada MUA, yang akan membantumu berdandan.”


“Kak!”


“Udah nurut ya! untuk malam ini saja!” perintah Emil, lalu segera berlalu menuju kamar mandi. Dia tidak ingin Chika semakin banyak tanya dan membuat acara malam ini gagal.


Chika memutar tubuhnya menghadap ke arah wanita yang berdiri di dekat pintu masuk kamar. Wanita berambut pendek itu meminta Chika untuk duduk di depan layar kaca. Bersiap untuk dirias.

__ADS_1


“Apa Mbak tahu acara makan malam diadakan di mana?” tanya Chika sesaat setelah wanita itu mulai merias wajahnya.


“Saya tidak tahu, Mbak. Tugas saya hanya merias wajah Mbak Chika.”


Chika pun tak menanggapi lagi. Dia memilih diam sampai petugas MUA itu selesai merias wajahnya.


"Sudah selesai," ucap wanita itu, tampak puas dengan hasil karyanya.


Chika mengamati wajahnya yang terlihat jauh lebih muda. Mendadak rasa percaya dirinya menurun saat melihat pakaian yang saat ini dia kenakan.


“Dandanan ini tidak cocok dengan blouse bunga yang aku kenakan. Apa bisa Mbak menggantinya lagi? aku tidak nyaman dengan ini. Kalau bisa yang natural saja!” minta Chika.


Wanita itu tersenyum simpul ke arah Emil yang baru saja memasuki kamar. Setelah selesai mandi tadi, pria itu izin keluar untuk menghubungi seseorang, dan ketika selesai menelepon Chika kini sudah terlihat anggun dan cantik. “Mas Emil di manakah buju mbak Chika?”


“Oh, masih ada di ruang keluarga. Kamu ambil, dan minta istriku untuk memakainya.”


“Kak!”


“Sttt … malam ini saja! Kamu diam dan menurutlah, semua akan baik-baik saja!”


Lagi-lagi Chika tidak menolak permintaan suaminya, dia seperti boneka yang menjadi mainan pemiliknya. Penurut.


Sampai akhirnya petugas MUA membawanya masuk ke ruang ganti, membantu Chika mengenakan gaun warna putih itu. Baju itu terlihat sangat cantik, Chika menduga harga baju itu pasti mencapai jutaan rupiah. Tapi melihat tatapan Emil, dia juga tidak ingin mengeluarkan protes, itu sama saja akan buang-buang waktu dan membuat pria itu mengomelinya lagi.


Hampir tiga puluh menit Chika baru selesai mengenakan pakaian. Dia kemudian keluar dari ruang ganti. Mendapati Emil mengenakan jas senada dengan gaunnya Chika hanya bisa mengulas senyum kecil.


“Kita seperti mau nikah, Kak!”


Emil tak menanggapi berlebihan. Dia justru meminta Chika untuk meletakan tangan kanannya di lengan. “Kita memang mau menikah! Kali ini bukan nikah-nikahan, Tapi nikah beneran.” Emil kemudian menuntun Chika keluar kamar, membawa wanita itu ke tempat acara. Kejutan besar sudah menanti di luar sana. dan dia yakin kalau Chika tidak akan kecewa dengan apa yang sudah ia berikan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2