Begin Again

Begin Again
Penolakan Sheva


__ADS_3

Tulisan SD Harapan Bangsa terpampang jelas di depan tubuh Emil. Ia menatap sejenak gedung bangunan dua lantai tersebut, sebelum akhirnya, melangkah menyusul Kania yang sudah berjalan mendahuluinya.


Wanita itu terlihat begitu semangat, berjalan sambil menggandeng tangan Sheva memasuki halaman sekolah. Berbeda dengannya yang membutuhkan waktu untuk menata hati.


Seharusnya, Emil kebal mendengar bentuk olokan orang yang dijumpai. Bukan hanya sekali, bahkan tak terhitung lagi mendengar bagaimana cara orang memandang putranya.


Rupanya Emil keliru, bukan olokan yang ia dapatkan saat melangkah memasuki gedung. Melainkan sebuah sapaan ramah dari seorang guru yang berpapasan dengan mereka.


Kebetulan, saat mereka datang, suasana sekolah terlihat sepi karena jam pembelajaran sedang berlangsung. Jadi, Sheva bisa bebas menyentuh benda yang dilewati, tanpa rasa takut.


“Mari, Bu, Pak ... saya hantarkan ke ruang kepala sekolah,” ucap seorang guru wanita sembari memberi ruang untuk Kania berjalan terlebih dahulu.


Bagi mereka yang tidak tahu, pasti akan menilai Sheva seperti anak kecil yang tumbuh normal seperti umumnya. Namun, saat mereka bertanya sesuatu pada Sheva, biasanya ekspresi langsung berubah, enggan berkomentar bahkan mundur tanpa berkata apapun lagi.


Emil sendiri sudah menyiapkan diri sebaik mungkin untuk mengontrol emosinya. Sayangnya, ketika dia berada di dalam ruangan kepala sekolah. Tatapan pria yang baru saja ditemui itu, begitu lekat memperhatikan sang putra.


Setiap detik yang terlewati Emil tak lepas memperhatikan pria itu. Seolah ucapan Kania yang menjelaskan panjang lebar, perihal prestasi Sheva diabaikan begitu saja.


Aliran darah Emil semakin memanas, terlebih mendapati pria itu menatap remeh ke arah Sheva. Kalau diizinkan mungkin dia akan memasukan pria itu ke dalam sumur, saja! “Sudah puas memandangi putra saya?!”


Pertanyaan dari Emil membuat Kania berhenti berucap. Wanita itu beralih menatap Emil yang bersiap meluapkan kemarahannya. Tangannya terulur menahan lengan Emil yang hendak melayang.

__ADS_1


“Saya tanya! Apa Anda sudah puas menatap anak saya! Aneh!?” sentaknya, menatap bengis ke arah pria yang memiliki kepala botak tengah.


Pria itu tak gentar, dia justru menatap Emil dengan tatapan meremehkan. “Pak, Anda salah kalau datang ke tempat ini! Sekolah kami tidak menerima siswa berkebutuhan khusus seperti Sheva!” ujarnya gamblang.


Tangan Emil mengepal kuat, mendengar penuturan guru tersebut. Ia ingin sekali melayangkan pukulan, tapi tangan Kania sedari tadi menahan lengannya.


“Tak jauh dari sini ada sekolah SLB, jadi silakan putra Bapak dimasukan ke sana saja! akan ada banyak siswa yang sejenis dengan putra Anda!”


“Pak, Sheva pintar dalam bidang akademik. Dia hanya speech delay! otak dan pendengarannya berfungsi dengan baik!”


“Seharusnya speech delay dialami usia lima tahun ke bawah, ini Sheva sudah 6 tahun, dan hanya satu kata yang mampu ia ucapkan. Jadi, mohon maaf kalau kami tidak bisa menerima Sheva. Sebaik apapun prestasinya di bidang akademik itu percuma kalau komunikasi dengan orang saja tidak lancar!”


“Suatu hari nanti kamu akan melihat, nama Sheva ada di mana-mana! Camkan itu!” Emil lalu mendekat ke arah Sheva yang duduk menyendiri di sofa. Ia langsung menggendong putranya, membawa anak itu keluar dari ruang kepala sekolah.


Tentu saja Emil bisa melihat raut kesedihan di mata Sheva. Hanya saja dia tidak tega untuk sekedar bertanya. Bukan takut melihat Sheva menangis, tapi dia mengkhawatirkan dirinya sendiri yang tidak tahan untuk tidak menitihkan air matanya di depan Sheva. Anak itu tidak boleh melihatnya bersedih, Sheva harus tahu kalau ada dia punya papa yang selalu menyayanginya.


“Ada sekolah yang lebih baik dari ini. Sheva mau?” tawarnya.


Di dalam dekapan Emil pria kecil itu menulis sebuah kalimat yang membuat perasaan Emil semakin hancur.


Apa karena ini mama juga tidak mau menemui Sheva?

__ADS_1


Emil hanya diam, terus berjalan meninggalkan SD Harapan Bangsa. Demi apapun dia tidak mampu menjawab pertanyaan yang terlalu sering dipertanyakan Sheva. Sebab, dia sendiri tidak tahu benar alasan Chika pergi darinya.


Melihat Emil hanya diam saja, Sheva kembali sibuk dengan pulpen dan kertas kecil di tangannya.


Kalau cuma papa yang mau menerima Sheva. Biarkan Sheva belajar dengan papa dan kak Kania saja!


“Sheva enggak mau sekolah di tempat umum?” tanya Emil.


Sheva menggeleng cepat. Lalu menulis lagi di kertas; mereka semua tidak mau berkawan dengan Sheva, di dunia ini cuma papa yang sayang Sheva.


Meski Emil seorang pria yang kuat, tapi dia tidak mampu menahan rasa sedih akan kalimat yang ditulis Sheva.


“Kasih papa satu kesempatan lagi, jika yang terakhir ini gagal. Papa janji akan membawakan guru terbaik yang ada di kota ini,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Sheva mengangguk, sambil menunjukan jari telunjuknya di depan wajah Emil.


"Oke, satu kesempatan!" sahut Emil lalu membuka pintu mobilnya.


“Pak, kita coba ke SD Alpha, siapa tahu menerima Sheva. Tidak jauh dari sini kok.” Kania yang sedari tadi mengikutinya, mulai berbicara, sembari menunjukan list sekolah yang menjadi rekomendasinya.


“Tunjukan alamatnya, kita akan datang ke tempat itu!” perintahnya pada Kania. "Kamu duduk di belakang dulu ya, Nia!" perintah Emil, sambil menerima ponsel yang diberikan Kania.

__ADS_1


__ADS_2