Begin Again

Begin Again
Tangisan Sheva


__ADS_3


Makan siang kali ini tidak senikmat yang ada di bayangan Emil. Ia pikir, makan siang bersama wanita masa lalunya akan menambah kelezatan tersendiri. Fakta yang terjadi, dia justru seperti menelan duri-duri dari ikan bakar yang tengah dinikmati. Dia perlu mengunyah lebih lama lagi, supaya bisa masuk dengan mudah ke perutnya.


“Kania, belikan aku rokok di depan!” minta Emil, usai menghabiskan makanan di piringnya. Ia pikir, ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Sheva.


“Biar aku yang membelikan, Kania masih makan.” Chika yang sudah selesai makan berusaha menyela, menawarkan bantuan.


“Tidak perlu, biar Kania saja.” Emil menolak cepat tawaran Chika. Kania memang belum selesai makan, karena dia menyuapi Sheva terlebih dahulu. Gadis itu selalu mengutamakan Sheva, dan Emil sudah sering mendapati Kania melakukan hal yang sama saat di rumah.


“Siap, Pak. Sudah ... bu guru duduk saja! sudah biasa kalau pak Emil meminta saya membelikan rokok.” Kania kemudian beranjak dari alas tikar, dia pergi begitu saja meninggalkan gazebo, demi memenuhi permintaan Emil.


Melihat Kania sudah berlalu, kini Emil beralih menatap Sheva yang sedang bermain dengan tablet. Pria kecil itu tengah memainkan game puzzle. Ia pun dengan sabar menunggu, memerhatikan jemari Sheva yang memindahkan potongan gambar dan menggabungkan lagi dengan yang pas, hingga membentuk sebuah gambar yang begitu indah.


Suara tepuk tangan yang dibuat Emil membuat Sheva tersenyum malu-malu, dia menunduk malu saat Chika ikut tersenyum simpul.


“Sheva pintar!” puji Emil, sembari mengusap rambut Sheva. “Sini dulu tabletnya, Papa simpan. Papa ingin bicara serius sama Sheva.” Emil mengambil alih tablet itu dari tangan Sheva, menyimpannya terlebih dahulu takut fokus Sheva mendadak hilang karena berpindah ke tablet.


Setelah suasana cukup tenang, Emil beralih menatap Chika. Mengisyaratkan wanita itu untuk mengatakan sendiri pada Sheva. Tapi Chika menggeleng, dia tidak sanggup dan memilih untuk tidak mengatakannya.


Berbeda dengan Emil, ia merasa lebih cepat lebih baik. Karena pada akhirnya, baik sekarang atau nanti itu tidak akan merubah fakta kalau Chika adalah mama kandung Sheva.


Emil sedikit menggeser posisi duduknya mendekati Sheva, ia khawatir Sheva akan shock saat mendengar penjelasan darinya.


“Sheva ….”


Mendengar panggilan Emil, Sheva lekas memerhatikan dengan seksama wajah papanya, mengisyaratkan pada sang papa untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Sheva pernah bilang ke papa, kalau Sheva ingin bertemu mama? Sheva juga pernah bilang kalau setiap hari selalu menunggu mama pulang ke rumah, kan?” Emil berusaha bertanya tentang fakta itu pada putranya. Dia tidak ingin dikira mengarang cerita oleh Chika.


Tanpa membuat Emil menunggu jawaban lebih lama lagi, Sheva mengangguk cepat, membenarkan ucapan Emil.


“Kalau Sheva bertemu dengan mama kandung Sheva … apa yang akan kamu lakukan?” tanya Emil. Kali ini Sheva tidak menjawab dengan bahasa tubuh. Dia membuka buku catatan kecil yang selalu dia bawa ke mana-mana. Lalu sibuk menuliskan sesuatu di note itu.


‘Maaf. Mama maafin Sheva. Sheva tidak seperti anak lain. Sheva mau peluk mama, Sheva mau bobok sambil dibacakan cerita oleh mama. Sheva sayang mama, mama cepat pulang Sheva kangen.’


Mata Emil memanas saat membaca tulisan Sheva. Dia memalingkan wajahnya ke hamparan rumput yang ada di taman pemancingan. Dia sedang berusaha menguatkan hati, supaya tidak terlihat rapuh di depan Chika.


“Sheva!” panggil Emil lantang, dia sudah tak bisa menunda lagi. “Yang ada di depanmu saat ini, adalah mamamu. Ibu guru Chika itu mama yang selama ini Sheva tunggu kedatangannya.”


Chika yang mendengar kalimat itu, langsung menatap ke arah Emil. Berbeda dengan Sheva, anak itu masih berusaha memutar ulang apa yang baru diucapkan Emil.


“Sheva nggak mau peluk mama?” tanya Emil, berusaha membuyarkan lamunan Sheva. “Ibu Chika mamanya Sheva! Dia yang sudah berjuang sekuat tenaga melahirkan Sheva,” jelas Emil lagi.


“Sheva, apa kamu mendengar apa yang papa katakan?” tanya Emil setelah sekian lama tidak ada respon apapun yang ditunjukan putranya.


Sheva menganggukan kepala pelan. Dia kemudian memainkan kembali pulpen dan note di tangannya.


‘Mama … maaf kalau Sheva nakal.’


Hanya kalimat itu yang Sheva tulis di kertas yang baru disodorkan kepada Chika. Sangat jauh berbeda dengan yang ditulis pertama tadi.


Chika yang menerima tulisan Sheva, justru beranjak dari posisinya. Ia pergi begitu saja tanpa merespon apapun yang ditulis Sheva. Chika tidak menyadari, jika sikapnya itu justru menyakiti Sheva. Dia merasa, dirinya tidak diterima baik oleh Chika. Air mata Sheva berjatuhan, saat melihat Chika berjalan meninggalkannya.


“Mammmmaaaa …” ucap Sheva dengan suara pelan.

__ADS_1


“Sheva,” ucap Emil membawa tubuh putranya ke pelukan. “Jangan cengeng dong!” ujarnya berusaha menenangkan. “Mungkin mama-nya Sheva sedang menyiapkan hadiah untuk Sheva. Atau dia belum siap karena Sheva sudah sebesar ini. Kamu aja tidak ingat kapan mama pergi, jadi mama nggak mengira kalau Sheva sudah setinggi sekarang.” Emil berusaha menghibur Sheva, padahal dia sendiri juga remuk atas perlakuan yang ditunjukan Chika saat ini.


Sheva memeluk erat tubuh Emil, dia menangis tanpa suara di pelukan sang papa. Dia dibuat hancur oleh pertemuan pertamanya dengan sang mama. Padahal dia ingin dipeluk seperti teman-temannya yang sering mendapat pelukan sebelum berangkat sekolah.


“Kita pulang?!” tawar Emil, yang langsung diangguki oleh Sheva. Bersamaan dengan itu, Kania datang dengan sebungkus rokok di tangan.


“Kita pulang dan kamu yang bawa mobil!” minta Emil saat Kania baru saja mendaratkan bo*kongnya di alas tikar. Padahal dia hendak melanjutkan makan ikan bakarnya.


“Pak, enggak tungguin saya makan dulu? ini belum habis, Pak. Kan, sayang kalau dibuang.” Kania berusaha merayu, karena keinginannya untuk makan masih menggebu.


“Kamu mau aku tinggal di sini?” ancam Emil.


“Ya enggak, Pak.”


“Makanya kita pulang sekarang, nanti aku pesankan sopepood!” ajak Emil memaksa Kania untuk ikut bersamanya.


“Bu Chika mana, dia nggak pulang bareng kita?” Kania celingukan mencari sosok Chika, tapi tidak menemukan keberadaan wanita itu.


“Sepertinya dia ingin pulang sendiri.” Emil kemudian berjalan lebih dulu sembari menggendong Sheva. Diikuti Kania yang membawa barang-barang putranya.


Menurut Emil, hari ini menjadi liburan terburuk untuk Sheva. Dia berjanji, mulai sekarang tidak akan peduli lagi dengan wanita itu.


“Kalau mama menolak Sheva. Masih ada papa yang siap menjadi papa sekaligus mama buat kamu, oke, Boy!” Emil bergumam sembari melangkah keluar dari pemancingan.


Kania sendiri tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan majikannya saat ini. Wajahnya terlihat galau sekali, seperti putus cinta dengan pacar pertama.


Sedangkan di tempat lain, Chika masih berusaha menenangkan diri. Hanya satu kalimat yang ditulis Sheva, tapi membuat rasa bersalah itu semakin terasa. Bagaimana bisa anaknya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergiannya. Dan yang seharusnya meminta maaf itu dia, bukan Sheva.

__ADS_1


__ADS_2