Begin Again

Begin Again
Yayasan Surya Mentari


__ADS_3

Di luar sana matahari sudah menunjukan jati dirinya, malu-malu di balik awan yang sedikit keabuan. Merdunya kicauan burung gereja belum mampu menggugah Emil yang masih terlelap di atas kursi. 


Semalam suntuk pria itu tidur di sana, tanpa ada yang membangunkan dirinya, untuk sekedar pindah ke ranjang. Lagi pula siapa juga yang berani mengusik tidur seorang Emil? Bahkan, Kania yang sudah 5 tahun lebih bekerja dengannya, tidak berani.


Hanya Sheva yang boleh mengganggunya. Cuma pria kecil itu, yang diperbolehkan mengusik ketenangannya. Seperti pagi ini, sebuah kecupan mendarat di pipi Emil. Kecupan itu terasa lembab, siapa lagi pelakunya kalau bukan Sheva. 


Mata Emil sebenarnya masih terasa lengket karena dia memang begadang hingga subuh. Tapi guncangan pelan di tubuhnya memaksa dirinya untuk membuka mata. Saat matanya sudah terbuka lebar, sebuah senyuman simpul menyambut penglihatannya. 


Sedikit pun tidak ada raut cemberut yang ditampilkan putranya. Padahal ia cukup paham sebesar apa rasa kecewa Sheva saat ini.


Sheva justru menyatukan jari jempol dengan telunjuknya, setelah itu meletakkan tersebut di sudut bibir mungilnya sendiri, menggerakkannya dua kali. Sedangkan tatapannya berubah sayu.


Emil yang melihat itu tersenyum simpul, sambil mengusap dengan lembut pipi putranya. "seharusnya papa yang meminta maaf sama Sheva. Kemarin papa nggak bisa menemani Sheva bobo. Papa sibuk kerja." Emil cukup paham dengan bahasa isyarat yang tadi digunakan Sheva. Karena terkadang untuk mengungkapkan kalimat singkat, Sheva lebih sering menggunakan bahasa isyarat. 


Berada di titik ini tentu tidaklah mudah, baik Emil maupun Sheva. Dulu, ketika Sheva berusia 10 bulan, ada masalah dengan pendengarannya. Dokter memintanya untuk melakukan terapi.


Begitu banyak orang yang berkata, kalau Sheva tidak akan mampu mendengar seumur hidup. Sheva anak pembawa sial. Sheva bayi terkutuk, anak kesalahan dan masih banyak lagi.


Namun, Emil tidak peduli, dia tetap berusaha, pantang menyerah untuk menjalani pengobatan terbaik untuk Sheva. Sampai semuanya terbukti. Di umur 4,5 tahun pendengaran Sheva mulai membaik. 


Kegembiraanya itu hanya sesaat, kenyataanya Tuhan masih menguji keimanannya. Satu hari setelah itu, dokter memvonis Sheva mengidap apraksia, gangguan pada saraf otak yang membuat putranya kesulitan berbicara. 


Mengingat kenangan itu, ingin sekali Emil memberikan tepuk tangan keras untuk Sheva. Putranya itu luar biasa hebat, bahkan sejak masih dalam kandungan mamanya, Sheva sudah berjuang keras untuk bertahan hidup, mungkin kondisi Sheva saat ini, efek dari obat-obatan yang dulu sering dikonsumsi Chika.


Tentu bukan hanya Chika yang salah. Chika tidak akan melakukan semua itu tanpa izin darinya. Dialah otak dari semua yang dilakukan Chika.


"Sheva, untuk saat ini ... papa belum nemu sekolah yang tepat untuk kamu. Gimana kalau Sheva belajarnya sama kak Nia dulu? Jadi, Sheva lepas seragamnya ya?" Tatapan Emil tertuju ke arah jemari Sheva yang bergerak cukup lama di alat tulis yang menggantung di leher.


'Sheva mau sekolah di Yayasan Surya Mentari.'

__ADS_1


Tulisnya yang langsung bisa dibaca oleh Emil.


"Sheva, papa udah membaca informasi tentang yayasan itu. Papa rasa itu tidak baik untuk kamu. Jadi, tunggu dulu ya, untuk sementara kamu belajar sama kak Nia, papa akan cari sekolah terbaik untuk kamu. Janji!" menyodorkan kelingkingnya di depan wajah Sheva.


Sheva justru menurun kelingking Emil, diiringi gelengan kepala cepat. Tanda jika dia menolak tawaran papanya. Dengan gerakan terburu, Sheva menulis kalimat panjang lebar. Bahkan Emil tidak diperbolehkan membaca tulisan itu sebelum dia selesai menulis.


'Kata kak Nia, buat apa sekolah umum tapi teman-teman Sheva tidak mau berteman dengan Sheva. Lebih baik Sheva sekolah di Yayasan, mereka semua pasti mau berteman denganku. Sheva akan punya teman banyak, papa mungkin akan iri karena temanku lebih banyak!'


Tulisan Sheva memang tidak begitu rapi menurut Emil. Tapi untuk anak seumuran dia, pasti banyak orang yang akan memberinya dua jempol.


Emil menatap tulisan itu cukup lama. Jantungnya berdentum kuat, menyalurkan himpitan di area dadanya. Dia merasa diingatkan kalau Sheva butuh tempat di mana temannya bisa menghargai kekurangannya. Bukan teman yang akan selalu menghinanya.


Emil merengkuh tubuh Sheva. "Banyak hal yang bisa papa pelajari dari kamu. Terima kasih, Anak pintar. Kamu adalah guru kehidupanku. Papa banyak belajar dari kamu. Termasuk belajar sabar."


Dipuji seperti itu, Sheva justru menggelengkan kepala. Dia justru membuat gerakan dengan tangannya, Sheva menunjuk ke arah dadanya sendiri dengan telunjuk kanan, lalu mengangkat kepalan tangan kirinya di depan dada, setelahnya tentu telunjuk kirinya mengarah ke arah Emil. 


Emil mengangguk sembari tersenyum lebar. "Papa juga sayang sama Sheva. Sayang banget! Nggak ada yang bisa ngalahin."


Emil terdiam, lidahnya kelu ketika Sheva bertanya soal cintanya pada sang mama. Sebenarnya tidak perlu ditanya lagi, pasti mereka akan tahu, kalau dia mencintai mamanya Sheva, Chika. Tapi, buat apa dia menjelaskan pada Sheva, toh dia tidak bisa menghadirkan mamanya di tengah-tengah mereka saat ini.


"Pak Emil sudah bangun?" Suara Kania membuat Emil terbangun dari bayangan Chika. Netranya beralih menatap Kania yang baru saja memasuki kamar putranya. Gadis itu selalu ramah, kapanpun dia berinteraksi.


"Iya, belum lama, kok. Kenapa?"


"Em, saya cuma mau bilang, Pak kalau hari ini saya dan Sheva hendak mendatangi yayasan Surya Mentari," jelas Kania.


"Jam berapa kamu akan pergi?" tanya Emil.


"Mungkin pagi, Pak, sekitar pukul delapan."

__ADS_1


Emil menatap ke arah jam dinding. Lalu beranjak dari kursi. Dia ingat kalau pagi ini akan bertemu dengan pengusaha jati belanda. Jadi dia tidak bisa mengantar Kania ke Yayasan Surya Mentari. "Kamu bawa mobil ya, Nia. Biar aku yang bawa motor. Kebetulan hari ini aku ada janji dengan orang," pesan Emil.


"Bapak nggak papa naik motor?"


"Enggak papa. O, ya!  Mungkin aku akan pulang malam lagi. Tolong titip Sheva ya." Emil kemudian menatap putranya, yang duduk di kursi yang dia tempati. "Sheva, janji sama papa, nggak boleh nakal. Nurut sama kak Nia. Okey?" Pesan Emil.


Beruntung Sheva anak penurut, jadi Emil tidak kesusahan untuk membujuk putranya. "Kalau waktumu mepet, lebih baik kamu berangkat duluan saja. Takutnya jalanan macet."


 Kania menganggukan kepala, lalu menggandeng tangan Sheva. "Sheva, ayo salim dulu sama papa Emil!" Perintah Kania yang langsung dilaksanakan anak didiknya. 


Setelah mencium Sheva, Emil menatap putranya dan Kania yang berjalan meninggalkan kamar. Setelah hilang tertelan pintu kamar, ia bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setengah jam berlalu, saat Emil tengah menikmati sarapan, sebuah panggilan masuk ke nomornya. 



"Pak Emil, apa bapak masih di rumah?" tanya Kania dengan suara panik.


"Iya, ada apa?"


"Pak, maaf, ban mobilnya kempes."


"Kempes?" Emil beranjak dari kursi meninggalkan sarapannya begitu saja. 


"Iya, pak."


"Kirimkan lokasimu sekarang, aku akan menjemput kalian!" perintahnya sembari berjalan menuju garasi untuk mengambil motor matic nya.


"Baik, Pak!"

__ADS_1


Kini Emil sudah berada di atas motornya, sibuk membaca pesan Kania yang baru saja masuk. Usai mendapati titik lokasi Kania, Emil lekas menarik tuas gas motornya, menjemput Kania dan putranya. 


__ADS_2