
Rasa-rasanya ia tidak rela berpisah dengan Sheva secepat ini. Dia masih ingin melihatnya lebih lama lagi, menatap pria kecil yang begitu pendiam itu. Tapi, panggilan dari seorang wanita yang berdiri tak jauh dari taman, membuat Sheva menoleh ke arah wanita itu.
Sekilas Chika ikut menoleh ke arah Kania. Kesan pertama yang dia dapatkan dari wanita itu adalah sosok wanita yang baik. Mungkin Kania juga berhati malaikat karena sudah menerima kondisi putranya, tanpa peduli status mereka. Sedangkan dia justru meninggalkan Sheva. Memilih menyerah karena tidak sanggup untuk menderita lebih lama lagi.
"Bu Chika, maaf merepotkan," ucap Kania sopan. Wanita itu berjalan menghampiri Chika lalu duduk berdua di kursi putih arena bermain.
Dalam hati Chika bersyukur karena ternyata Kania tidak membawa Sheva pulang. Jadi, dia bisa melihat putranya lebih lama lagi. Chika tahu jelas kalau Sheva itu adalah putranya. Meski Kania tidak menyematkan nama itu di email, tapi dari nama belakang Sheva ia sudah bisa menebak kalau dia adalah anak Emil.
"Mungkin saya akan lebih banyak bertemu dengan Ibu. Pak Gangga bilang ibu akan menjadi wali kelas Sheva," sambung Kania, saat tidak mendengar respon apapun dari Chika.
Sekilas Chika tercenung, sosok wanita di depannya ini begitu lembut, tutur katanya begitu enak didengar. Bukan hanya itu, dari badannya Kania juga memiliki bentuk tubuh yang bagus. Jika sekilas dilihat Kania lebih mirip dengan Eriella, sahabatnya dulu yang mungkin sekarang sangat membencinya. Pantas saja, kalau Emil memilih wanita itu untuk jadi pasangannya.
"Tidak apa-apa, Mbak." Chika membalas singkat.
"Sheva anak pintar kok, Bu! Pasti Bu Chika akan heran. Dia cuma terlambat bicara." Kania kembali menjelaskan.
"Apa ada alergi tertentu? Biar saya bisa menghindarinya saat berada di sekolah."
Kania tampak berpikir, sambil melihat Sheva yang sibuk bermain sendiri. "dia nggak bisa makan kacang-kacangan. Efeknya akan bentol-bentol sama batuk-batuk, hanya itu sih, Bu."
"Saya akan mengingatnya." Chika menjawab sopan sembari menatap ke arah Sheva.
__ADS_1
"Sebelum ini, saya sudah muter-muter nyari sekolah yang pas untuk Sheva. Tapi banyak sekolah di sini yang menolak karena keterbatasan Sheva. Di Jakarta pun begitu. Mereka justru meminta Sheva dimasukan ke SLB. Padahal, saya sudah ngotot menjelaskan, kalau Sheva hanya lambat bicara, dia bisa berpikir normal. Bahkan soal yang diberikan Bu guru di sana mampu diselesaikan dengan baik. Jawaban dia juga lebih baik dari anak normal lainnya!" ada emosi besar yang ingin diluapkan Kania, terlihat dari sorot matanya yang tampak memerah.
Chika tidak ingin melewatkan setiap kata yang diucapkan Kania, seakan tengah menerima laporan dari wanita yang baru pertama ditemui itu.
"Heran, hanya karena alasan malu dengan ada anak yang memiliki keterbatasan, mereka menyia-nyiakan Sheva."
Chika semakin geram, saat mendengar kalimat itu. Tapi dia tidak mampu menunjukan rasa kesalnya.
"Mohon bantuannya saat Sheva berada di sekolah ya, Bu Chika."
Lagi-lagi Chika hanya menganggukan kepala. Dia tidak mau mengeluarkan suaranya, khawatir jika nanti akan menangis.
"Mommy!" seru anak kecil dengan rambut yang diikat dua, gadis itu berlari kecil menghampirinya. Tentu Chika menyambutnya dengan tangan terbuka.
Sebenarnya Kania itu tipe wanita yang suka bicara, tapi karena memiliki bos yang pendiam, hobi nya itu dia pendam rapat.
"Iya." Chika menjawab singkat.
"Mommy, au pemen!" Airin menengadahkan tangannya, ingin minta permen yang selalu disimpan Chika.
"Apa anak ibu normal?" tanya Kania lagi, membuat Chika mengernyit, menatapnya dalam. "Maksud saya, kalau anak ibu normal kenapa harus sekolah di sini? Banyak, kan sekolah yang baik untuk anak se-usia anak ibu!"
__ADS_1
"Airin masih 4 tahun. Dia hanya belum bisa mengucapkan beberapa konsonan huruf." Chika menjelaskan singkat, lalu kembali menutup mulutnya rapat.
"Mommy au pelmen, uwa!" Mintanya lagi sambil menunjukan dua jarinya ke depan wajah Chika.
"Buat siapa, kok dua?" Chika berusaha bertanya.
"Itu!" Airin menunjuk ke arah Sheva. "Kacian nggak unya temen!"
Saat Chika mengikuti arah pandang yang ditunjuk Airin bibirnya pun tersenyum lebar. Ia kemudian memberikan dua permen yang ada di saku bajunya. Bukan permen lollipop yang diberikan Chika, hanya permen kis rasa barley yang ia letakan di telapak tangan m Airin.
Usai menerima itu, Airin lekas berjalan menghampiri Sheva. Tanpa rasa malu dia memberikan satu permennya pada Sheva. Pria itu tidak langsung memakan permen pemberian Airin. Dia justru menyimpannya di saku seragamnya.
Kania yang melihat itu hanya mampu menggeleng. "O, ya Bu Chika, Sheva mengalami sugar rush sejak bayi. Tapi sekarang lebih mendingan sih. Papanya tidak mengizinkan dia minuman manis kecuali kalau pas besoknya hari libur. Takut begadang."
"Baik, saya akan mengingatnya."
"Jadi, jangan tersinggung kalau Sheva menyimpan permen itu, karena dia sendiri paham mana yang baik dan tidak untuk dikonsumsi."
Hati Chika semakin perih, ternyata banyak hal yang sudah terlewati. Dia memang tidak pantas untuk kembali bertemu dengan mereka, karena di samping Sheva dan Emil sudah ada Kania.
Melihat Kania sibuk dengan ponselnya, Chika justru semakin asyik menatap interaksi tubuh dari dua anak itu.
__ADS_1
"Sheva, ayo pulang, Sayang! Papa udah sampai, dia nunggu kita di depan!"
Mendengar teriakan Kania, tubuh Chika mendadak sulit digerakkan. Dia berharap Emil tidak akan masuk ke area sekolah dan bertemu dengannya.