Begin Again

Begin Again
Pak Aiman


__ADS_3

‘Di atas sana, pasti ibun bangga melihat kamu bisa sampai di titik ini anak ganteng!’


Sebuah kalimat itu tertulis jelas di bawah foto seorang anak laki-laki yang tengah memegang piala. Foto itu diunggah oleh salah satu wanita dengan akun KaNia. Foto yang sudah sebulan lalu diupload di medsos-nya dan baru hari ini, wanita bernama Ika itu melihatnya.


Bibir Ika tersenyum masam, netranya terus menatap foto di layar ponselnya. Meraba lembut pipi seorang anak kecil yang sekarang diperkirakan berusia 11 tahun. Dia Sheva Elyan Handoko, bocah kecil yang sebentar lagi beranjak remaja. Melihat senyumnya saja seolah memberikan kebahagian untuknya. Biarkan dia saja yang tahu, kalau selama ini rindunya tak akan berakhir.


Lima tahun yang lalu, tidak ada yang mengetahui ke mana dia pergi. Gangga tak pernah lagi mencampuri urusannya. Bahkan pria itu enggan memberikan nomor rekeningnya. Begitu banyak, hutangnya pada pria itu. Tapi, Gangga bilang dia sudah ikhlas membantunya.


Chika mulai nyaman berada di tempat baru. Di salah satu desa yang ada di kabupaten Purwodadi. Walau sebenarnya tidak begitu jauh dari kota Solo. Tapi dia enggan untuk sekedar melihat Sheva. Chika hanya takut akan kembali terluka.


Di tempat baru, Chika mengajar di sebuah taman kanak-kanak. Pulang mengajar, dia membantu di warung makan salah seorang wanita yang tinggal di Dusun Siluman.


Chika memasukan ponselnya ke dalam tas. Lalu bersiap untuk turun dari angkot. “Kiri, Pak!” seru Chika, ketika mobil omprengan yang dia tumpangi hampir melewati perempatan jalan. Mobil warna hijau itu berhenti mendadak, dan Chika bergegas turun.


Di depan sana, ada sebuah warung makan yang terlihat begitu ramai. Dan di sanalah Chika menghabiskan waktunya, melayani pembeli yang singgah. Tidak banyak yang Chika dapatkan dari pekerjaannya itu, tapi karena kebaikan pemilik warung, Chika bisa nyaman tinggal di tempat ini.


Namanya Bu Jamal, bukan janda, statusnya masih digantung sama suaminya yang sudah puluhan tahun meninggalkan Dusun Siluman. Beliau memiliki dua anak perempuan yang sudah berkeluarga. Mereka semua turut membantu Bu Jamal menjalankan warung makan sederhana milik wanita itu. Chika tersenyum tipis mengingat pertemuan pertamanya dengan Bu Jamal.


Chika berjalan sembari menunduk, melewati jalan bebatuan terjal menuju warung makan Bu Jamal. Jika hujan datang, jalanan ini sulit dilewati, dan dia terpaksa melepas sepatu pantofelnya.


Tiba di warung Chika lekas mengganti pakaian di dalam kamarnya. Pekerjaan apapun Chika lakukan selagi itu masih dalam lingkup kata halal. Meski tak jarang, ia mendengar seseorang menawarinya tidur bersama, tapi Chika tidak pernah meresponnya. Cukuplah dulu dia menjadi buruk, seburuk-buruknya wanita, dia tidak ingin lagi mengulangi kesalahannya.


“Nanti pak Aiman mau datang, Mbak Ika!” seseorang memberitahu begitu Chika memasuki area warung makan.


“Pak Aiman? Yang juragan kayu itu, Mbak?” tanya Chika pada putri pertama Bu Jamal.


“Leres ( benar ).” Rini menjawab singkat.


“Ngapain, Mbak?” tanya Chika penasaran. Dia mulai menuangkan teh kental ke dalam gelas, melayani seorang pelanggan yang memesan teh panas.

__ADS_1


“Katanya ada orang yang mau nebas (membeli) jati-nya. Tapi masih deal-dealan masalah harga. Nanti mau ngajak mampir ke sini, buat makan siang.”


Chika mengangguk, lalu berjalan melewati Rini, bersiap menyajikan teh panas tersebut.


“Jam berapa mau datang, Mbak? Aku nanti pamit ke kamar ya! males ih! Nanggepi pak Aiman.” Chika berusaha mencari tempat aman.


Rini terkekeh, “Yo, Mbak santai saja! Nanti kalau dia nyariin Mbak Ika, kulo tak sanjang Mbak Ika nembe pacaran (aku akan bilang Mbak Ika baru pacaran).”


Chika menggeleng sambil tertawa pelan, geli saja mendengar alasan yang akan disampaikan Rini kepada pak Aiman.


“Soto loro (dua), Mbak!” seru seseorang yang baru saja datang.


“Unjukane nopo (minumnya apa), Mas?”


“Es teh, es jeruk ,” jawab pelanggan.


Obrolan mereka terjeda karena datangnya pembeli. Rini meninggalkan Chika, untuk membuatkan pesanan. Sebentar lagi, orang yang menggali ladu akan beristirahat. Itu artinya, warung makan akan semakin ramai.


“Mbak Ika makan dulu, nanti keburu rame. Kalau udah rame, nanti lupa makan!” Rini berusaha mengingatkan.


“Gampang, Mbak. Kebetulan tadi ada sisa snack dari anak yang absen. Jadi, lumayan buat ngeganjel perut.”


“Lah, Mbak snack anak TK palingan cuma arem-arem isi jipan. Buat jalan dari ujung sana ke sini, udah entek (habis) tenagane.”


Chika terkekeh, ucapan Rini benar adanya. Perutnya sudah kosong lagi sekarang. Sayangnya, ketika dia sudah mengambil piring kosong, para penjajah warung sudah datang. Gerombolan dari penggali sudah berdatangan.


Warung seketika berubah menjadi ramai, aroma keringat dari kuli panggul serta pencakul ladu mulai menguar bercampur dengan aroma soto yang merebak ke segala penjuru.


“Nasi pecel ….”

__ADS_1


“Soto ….”


“Kare tambahi oseng-oseng ….”


Suara itu bersahut-sahutan, melelahkan pelayan yang bekerja di warung Bu Jamal. Hampir satu jam mereka melayani pelanggan yang berdatangan, teriak, berjalan mondar-mandir, dan perlahan warung itu mulai sepi, kuah soto di kuali nyaris habis, uang di kotak bu Jamal tampak penuh saat ini.


“Udah, Mbak Ika istirahat dulu, isi perut. Udah rada sepi kok.” Santi anak kedua Bu Jamal menimpali. "Nanti biar aku yang ngatasi, Mbak."


“Yakin, Mbak?” tanya Chika memastikan.


“Wes, Nduk tinggalen! Mengko yen keno asam lambung gulung komemg!” sembur bu Jamal mengingatkan Chika. Wanita itu kadang suka berbicara kasar tapi dibalik kalimatnya itu dia adalah sosok wanita penyayang.


“Ya sudah aku istirahat dulu,” ucap Chika. "Nanti jam dua aku balik lagi ke depan," sambungnya.


“Iya wes, jam telu yo ra popo!”


“Bu, kulo istirahat!” teriak Chika dengan nada kaku. Walau sudah lama tinggal di pulau jawa dia pun masih terlalu kaku untuk berbicara menggunakan bahasa jawa, apalagi bahasa krama inggil, mungkin hanya satu dua yang dia bisa.


“Yo, Cah ayu.”


Chika kembali ke belakang, rumah bu Jamal. Di tangannya terdapat semangkok nasi soto yang masih mengepulkan uap. Dia berjalan, melewati lorong toilet yang disediakan untuk pelanggan.


Saat tiba di ruang tv Chika memilih duduk di tempat itu, menikmati semangkok soto di tangannya. Dia tidak tahu menahu jika pria yang dipanggil pak Aiman itu kini sudah tiba di warung, memesan makanan yang ada di sana.


Hingga semangkok soto di tangannya habis, Chika bergegas kembali ke warung untuk meletakan mangkok itu ke wadah cucian piring. Laras, si pencuci piring memintanya untuk meninggalkan mangkoknya di sana. Tidak mengizinkan Chika kembali ke warung karena pak Aiman sudah datang.


"Buruan sembunyi!"


"Iya, iya, Mbak!" sahut Chika, seraya berlari kecil memasuki rumah tapi sepertinya terlambat karena pak Aiman lebih dulu mengetahui keberadaanya.

__ADS_1


"Mbak Ika!" teriak pak Aiman.


Suara itu benar-benar mengejutkan Chika. Dia terpaksa berhenti, membalikan badan untuk sekedar merespon teriakan pak Aiman.


__ADS_2