Begin Again

Begin Again
Pertemuan


__ADS_3

Emil semakin lekat menatap ke arah Kania. Seolah mencari keseriusan dari kalimat yang baru saja dilontarkan wanita itu.


"Kau mau menikah denganku?" Emil balik tanya, wajahnya menunjukan keseriusan, "Kalau mau, lengkapi dulu surat-suratmu lalu kita daftar ke KUA." Emil tak lepas menatap perubahan wajah Kania.


"Hahaha …." Kania terbahak, lalu membuang napas kasar. "Canda, Pak! Becanda, jangan serius gitu! Senam bibir dulu!" sambungnya, lalu beralih menatap Sheva.


Emil mengalihkan pandangannya ke arah Sheva. "Aku juga cuma becanda!" kata Emil, kemudian. "Siapa juga yang mau sama aku. Jadi orang tua yang baik untuk Sheva saja belum bisa. Gimana mau jadi imam untukmu." 


Kania kembali tertawa, saat melihat kesedihan yang dipancarkan Emil, hatinya terdorong untuk mengungkapkan alasan dia mau bekerja dengan pria itu.


"Sebenarnya, saya punya adik down sindrom. Sayangnya, dia sudah meninggal. Itu yang mendorong saya ingin merawat Sheva, terlebih Sheva tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Jadi, saya merasa perlu menyayangi Sheva seperti anak-anak pada umumnya. Tanpa berharap ingin jadi istri atau pengganti mama untuk Sheva."


Emil membuang napas lega, syukurlah kalau Kania tidak ada niatan menjadi istrinya, soalnya dia sendiri tidak yakin bisa mencintai lagi. Mengingat hatinya sudah mati rasa terhadap sosok perempuan.


Selang beberapa menit mereka berdiam diri, Emil merasakan tarikan di pakaian yang dia kenakan. Sheva memintanya untuk melihat ke arah obyek yang saat ini ditunjuk.


Emil pun menurut, menatap lekat ke arah gadis yang berdiri di seberang jalan. Gadis cantik dengan rambut dikuncir dua berdiri di samping wanita yang sedang memesan sesuatu. Semakin lama dia menatap wanita itu, perasaan Emil kian remuk redam.


Terlebih ketika seorang pria keluar dari mobil sedan. Ada rasa marah yang mendadak ingin segera diluapkan. 'Sialan! Apa penantianku akan berbuah seperti ini? Rupanya aku menunggu wanita yang sudah menjadi milik orang lain!'


Napas Emil tercekat di tenggorokan. Selama ini dia menanti orang yang salah! Rupanya mantan Chika sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru. 


Emil memutar tubuhnya, tak ingin lagi melihat kebahagian mereka karena itu sama saja menikam batinnya. "Sudah habis? Kita pulang, yuk!" Emil beranjak dari kursi, bersiap untuk melakukan pembayaran. Tapi tarikan baju yang kembali dirasa membuatnya menunduk ke arah Sheva, Seolah bertanya; ada apa lagi?


Bibir putranya itu mengerucut, kepalanya bergerak-gerak menunjuk ke arah mereka yang sedang membeli permen kapas, Airin.


"Sheva, kan anak papa nggak boleh makan permen kapas."

__ADS_1


Pria itu menggeleng, menunjuk ke arah Airin. Emil belum siap bertemu dengan mereka saat ini. Dia butuh menata hatinya yang kini hancur akan fakta yang terjadi di depannya. Chika sudah menikah bahkan mereka sudah dikaruniai putri cantik.


"Sheva, besok ya. Papa lupa kalau hari ini ada janji bertemu teman."


Putranya itu hanya bungkam, tapi tidak menolak saat Emil membawanya naik motor. Dia harus segera pergi sebelum berpapasan dengan Chika. 


Setelah selesai membayar, Emil bergegas membawa Kania dan Sheva pulang. Dia ingin memulangkan keduanya sebelum nanti mengambil mobil yang masih berada di bengkel.


Setelah mereka tiba di rumah, Emil meminta Sheva untuk masuk terlebih dahulu. "Nia, aku titip Sheva."


"Bapak mau kemana?" selidik Kania.


"Saya mau ngambil mobil di bengkel. O, ya … kamu bisa catat apa yang dibutuhkan di rumah. Saya akan mampir ke supermarket. Nanti kamu kirim lewat pesan ya!"


"Iya, Pak."


"Baik, Pak," sahut Kania dari dalam rumah.


Tempat bengkel mobil memang tidak begitu jauh, tapi untuk pergi ke supermarket cukup memakan waktu lima belas menit. Beruntung saat tiba di salah satu mall ternama di Solo Kania sudah mengirim list barang-barang apa saja yang harus dibeli. Jadi ia langsung mengambil troli, bersiap untuk mengambil keperluan rumah selama satu bulan.


Lama berkeliling, Emil mulai mengambil satu persatu barang belanjaan, sampai akhirnya dia membaca titipan Kania.


"Apaan nih, Kania! Masa iya nyuruh aku beli ginian? Lama-lama nyebelin juga tingkahnya!" Bergumam sembari berjalan ke arah produk wanita. Tiba di tempat itu, Emil memastikan lagi apa yang diinginkan Kania saat ini. Dia menelepon wanita itu, untuk memastikan apa yang diinginkan Kania.


"Mau yang apa? Tolong sebutkan detail merk-nya."


" …."

__ADS_1


"Oke Charm. Aku udah di depan produk yang kamu sebutkan. Di sini ada banyak pilihan, ada warna biru dan orange, kamu mau yang mana?"


" ...."


"Yang sampingnya ada sayap atau yang biasa?" tanya Emil lagi usai mendengar jawaban orange dari Kania.


" …."


"Satu lagi, panjangnya berapa centi? Besok lagi jangan minta aku beli ginian!"


" …."


"Kamu minta berapa?"


" …."


"Satu?! dilarang dibuka, Niah … jangan main-main sama bosmu!" Suara Emil melemah, tapi diiringi rasa geram yang semakin menguat, karena tak tahu malunya wanita itu menitip pembalut padanya. Namun, wanita di ujung panggilan, terkekeh. Begitu bahagia bisa membuat Emil kebingungan seperti ini.


"Satu bungkus pak Emil." Suara Kania terdengar lembut, Emil pun mengambil satu bungkus pesanan Kania, memasukan benda itu ditumpukan paling atas.


Saat Emil hendak melanjutkan berbelanja, netranya justru menangkap sosok Chika yang juga sedang mendorong troli. Wanita itu berdiri di lorong yang sama dengannya. 


Dua pasang mata yang saling memendam kerinduan itu saling mengunci. Mereka sama-sama membeku di tempat masing-masing. Sampai pandangan mereka terputus saat seorang gadis berseru memanggil nama Chika.


"Mommy, atu au ini!" Gadis itu tampak lari terjingkat-jingkat menunjukan betapa dia bahagia berbelanja dengan mommy nya. 


Berbeda dengan Chika, Emil justru berusaha mengisi udara yang kian menipis di rongga dadanya. Ini tidak adil! Sheva tidak pernah merasakan apa yang gadis itu rasakan!

__ADS_1


 


__ADS_2