
Malam itu hujan datang begitu deras, sama hal nya dengan cairan bening yang keluar dari mata Chika, rasanya sulit untuk menghentikan barang sejenak saja.
Seharusnya hari-hari ini menjadi momen bahagia bagi mereka yang sedang dikaruniai seorang putra. Tapi, tidak untuk dirinya. Kehadiran putra pertama yang belum sempat diberi nama, justru membuat orang menganggapnya semakin remeh.
Selama ini dia sudah cukup sabar, menghadapi Emil yang sering abai akan kondisi tubuh dan kandungannya. Tapi, pria itu lupa, kalau kesabaran seorang manusia juga ada batasnya.
Ia cukup sadar diri, karena hadirnya bayi dalam rahimnya adalah sesuatu kesalahan besar. Seharusnya dia tidak menikung Riella dan membuat hidup Emil carut-marut seperti ini.
Sampai detik itu, ia merasa 'ya, sudahlah mungkin takdir memang tidak pernah bersahabat dengan hubungannya dengan Emil.' Dia merasa hubungannya dengan Emil adalah suatu kekeliruan.
"Mama sudah pernah bilang padamu, Mil! Berapa kali, mama minta untuk melepas wanita itu! Dia sudah membuat malu nama baik keluarga! Kamu tahu nggak, kehadirannya saja sudah membuat keluarga kita seperti dilempar kotoran! Bagaimana kalau anak itu benar-benar cacat! Kamu nggak ngerti gimana perasaan mama dan papamu!"
Chika merasa tertohok dengan ucapan mertuanya. Rasanya begitu menyedihkan sekali menjadi dirinya.
"Ma, sudahlah semua sudah terjadi. Bayi itu sudah lahir!" Balas Emil. Chika mulai mencari tempat persembunyian untuk mendengar obrolan mereka.
"Ringan sekali kamu ngomongnya! Dia itu aib, keluarganya saja sudah mengusir karena hamil di luar nikah! Kalau kamu masih bertahan itu namanya kamu bodoh!! Buka pikiranmu Emil, pilih istri atau anak kamu!! Mama nggak akan bisa menerima keduanya! Serahkan dia di panti atau kamu yang akan menjatuhkan talak untuknya!"
"Ma, kenapa harus begitu?! Chika baru saja melahirkan jadi jangan bahas itu dulu! Dia ibu dari anakku! Jadi mohon jang—
"Bayi itu belum tentu anakmu, Emil! Dia itu pela-kor, bisa saja dia tidur dengan banyak pria! Bayi itu pasti anak hasil sumbangan sper ma orang lain. Kali ini mama berani jamin, kalau Chika tidak hanya berhubungan denganmu! Di luar sana pasti ada pria beristri yang jadi korbannya!" Wanita itu mengatakannya tanpa beban, dia tidak sadar kalau ucapannya melukai hati seorang Chika.
__ADS_1
"Mamamu bisa saja benar! Pikirkan nasib perusahaan juga! Papa sudah gagal mencalonkan diri gara-gara kalian, masa iya kita harus kehilangan klien hanya demi wanita yang sudi membuka pahanya lebar di depan pria beristri."
"Cukup, Ma, Pa! Emil lelah, jangan membahas ini dulu!" sentak Emil, yang mulai emosi. Tampak jelas raut lelah di wajahnya.
Chika yang melihat suaminya berjalan ke arah kamar, lekas masuk ke kamarnya terlebih dahulu. Setelah mendapati Emil tiba di dalam kamar, Chika berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Sayangnya, semekar apapun senyum yang ia berikan untuk Emil, tidak pernah mendapat sambutan baik dari suaminya.
Pria itu langsung mendatangi kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Chika, tengah menghibur diri dengan menatap wajah terlelap bayi merah di atas ranjang. Menatap putranya dengan mata berembun, dan ini sangat tidak nyaman.
"Bagaimana mama mau memberi nama untuk kamu, kalau papamu saja tidak pernah mau berbicara baik-baik dengan mama," gumamnya, menatap wajah putranya.
Bayi itu tampak menggemaskan saat terlelap seperti ini. Chika sendiri melahirkan secara normal, dengan berat 3000 gram, cuma perawat yang membantunya berjuang. Entah sengaja atau tidak, saat dia menelpon Emil mengabari kalau dia hendak melahirkan, pria itu bilang sedang berada di luar kota.
Chika sampai lupa tujuannya keluar kamar. Awalnya tadi dia berniat untuk mengambil susu, khawatir nanti malam putranya akan terbangun. Tapi, semuanya lupa karena mendengar obrolan suaminya.
"Sebentar ya, Sayang. Mama ambil kotak susu dulu." Dia kemudian kembali berjalan keluar kamar, meninggalkan putranya di atas ranjang.
Obrolan kedua orang tua Emil rupanya masih berlanjut. Chika kembali menghentikan langkahnya di tempat tadi. Kali ini dia benar-benar ingin marah. Karena dua orang itu berniat buruk terhadap dirinya. Chika pun kembali membatalkan niatnya untuk pergi ke dapur.
Saat kembali masuk kamar, Chika mendapati Emil yang sudah berdiri menggendong putranya. Cukup lama ia memandangi dua orang itu, karena Emil tidak menyadari kehadirannya. Dia cukup paham kalau Emil tahu dia ada, pasti akan segera menyerahkan bayi itu padanya.
Sampai saat ini dia juga masih bingung, apakah pria itu mencintai atau tidak. Atau sejauh ini hubungan mereka hanya sebatas mencari kepuasan saja. Chika tersenyum miris, menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tadi anakmu menangis jadi aku menggendongnya!"
Sudah biasa dia mendengar kata 'anakmu' keluar dari bibir Emil. Jadi ia sudah cukup kuat untuk mendengarnya lagi.
"Su-sunya habis, air su-suku juga belum lancar. Aku akan keluar dulu untuk membeli su-su. Apa aku bisa menitipkannya padamu?" tanya Chika sembari mengambil dompetnya yang ada di dalam laci.
"Pergilah! Aku akan menjaganya."
Senyum Chika semakin lebar, untuk pertama kalinya dia mendengar suara Emil yang terdengar lebih lembut dari biasanya. Setelah mengambil jaketnya di dalam lemari Chika bergegas pergi dari rumah itu. Menitipkan bayi yang belum lama dilahirkan kepada Emil, suami yang menikahinya secara agama saja.
"Bu Chika!"
Suara panggilan itu membuat Chika tersadar. Ia menoleh ke arah kepala yayasan yang saat ini masih duduk di tempatnya.
"Iya, Pak!" Jawabnya sopan, meski dia sudah mengenal baik pemilik yayasan, dia harus menjaga attitude nya.
"Bukannya kamu yang ingin bertemu dengan mereka? Kamu bisa mengatasinya, kan?" tanya Gangga pada Chika.
"Tentu saja! Saya akan menemani Sheva bermain!" Chika tersenyum tipis ke arah pria kecil di depannya. Lalu menuntunnya keluar ruangan. Meninggalkan Kania yang masih perlu melengkapi berkas Sheva di ruang kepala yayasan.
"Sheva, kamu main apa, Nak?" tanya Chika bertanya dengan suara serak. Hatinya menjerit keras, cairan bening mulai menggenangi kelopak matanya, saat melihat Sheva hanya mampu menunjuk ke arah perosotan yang ada di taman.
__ADS_1