Begin Again

Begin Again
Boleh Minta Satu Lagi?


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Dua mangkok soto kecil sudah tersaji di atas meja. Chika tinggal menunggu Emil yang masih berada di toko alat listrik untuk membeli lampu. Angin diluar warung terasa berhembus kencang, sepertinya sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi. Chika khawatir karena pria itu tak kunjung kembali ke warung.


Chika masih menunggu sembari memandangi dua mangkok soto di depannya. Tiba-tiba saja ia teringat akan orang tuanya. Papa menyukai soto begitupun sang mama yang memfavoritkan soto Betawi.


Dia tidak lahir dari keluarga miskin, di Jakarta papa dan mamanya terkenal di kalangan bisnis. Dulu, demi Emil ia rela melepas semuanya. Dicoret dari daftar anggota Sampai akhirnya, malam itu, hanya Kenzo lah yang menjadi penolongnya.


Pria itu menitipkan pada sosok Gangga, pria yang sudah beristri. Saat itu Gangga tidak tahu kalau sang istri mengidap penyakit kanker. Dia pikir tubuh kurus istrinya itu, efek kehamilan karena seringnya mual dan muntah. Hingga akhirnya nyawa Aura tidak tertolong saat melahirkan Airin.


"Kok nggak makan duluan, Ibun?" Suara lembut itu mengejutkan Chika. Pandangannya berpindah pada Emil yang sudah membawa plastik hitam di tangan.


"Aku nungguin Kakak. Ayo makan mumpung masih hangat!" ajaknya.


Emil menurut, dia duduk tepat di depan Chika. Segera menyantap soto yang katanya seger itu. Tapi benar, Chika tidak berbohong. Saat ia menyuap satu sendok kuah dari mangkok, rasa gurih dan hangat menyerang mulutnya.


Chika yang sedari tadi memerhatikan Emil terkekeh kecil. "Enak, Kak?" ia bertanya, tingkah Emil mengingatkan dirinya akan sosok papa yang selalu menyeruput kuahnya terlebih dahulu sebelum menikmati semangkok soto.


"Enak. Aku boleh nambah, kan?"


Chika mengangguk, menahan tawa. Padahal mangkok di depan Emil belum habis. "minta aja sama penjualnya."


“Kamu mau lagi enggak?”


“Enggak, aku udah cukup kok!” Chika menjawab, sambil memasukan tempe goreng ke dalam mangkoknya. Sedangkan Emil berseru pada penjual soto untuk menghantarkan satu mangkok lagi.


Di saat mereka tengah menikmati makan malam. Gemuruh hujan mulai terdengar, air hujan turun begitu deras. Mereka berdua hanya saling pandang, lalu tertawa bersama.


“Sepertinya, Tuhan mengizinkan kita untuk berdua lebih lama lagi,” tutur Emil.


"Asal dalam kondisi waras sih nggak papa," balas Chika.

__ADS_1


Air hujan yang jatuh masih setia menemani mereka berdua. Mangkok di atas meja sudah kosong menyisakan teh hangat yang tinggal setengah gelas. Mereka berdua terpaksa numpang berteduh di warung soto itu.


"Sepertinya bakal lama, deh, Kak." Chika mulai gelisah mengingat ini sudah pukul sepuluh malam. Mendadak pikirannya penuh Sheva.


"Iya. Tapi awan gelap masih tampak jelas di atas sana," respon Emil, "mau nekad sambil mainan hujan? Biar kaya lagi bikin serial India!"


Chika tersenyum simpul, ia merasa Emil tengah meledeknya. "Aku bukan Sheva, ya!"


"Kita belum pernah, hujan-hujanan bareng. Dari pada kita di sini kelamaan. Aku tahu kamu juga sudah mengantuk."


"Nanti kalau Kakak sakit, siapa yang akan ngurus Sheva?"


"Ada, Ibunya!" Emil beranjak dari alas tikar, membayar tagihan makanan yang tadi dimakan. Setelah itu ia mengajak Chika untuk berjalan bersamanya. "Ayo!" Ajaknya sembari melepas kemeja lengan panjang yang dikenakan.


Chika sempat melarang, karena ia pikir Emil tidak menggunakan kaus dalam. Tapi setelah melihat kaus dalam yang dikenakan. Chika menurut berteduh di bawah kemeja yang dibentangkan lebar oleh Emil.


Mereka berdua berjalan cepat, sesekali tertawa bersama ketika air hujan berhasil membasahi baju mereka berdua. Rasanya percuma menggunakan kemeja itu, karena pada akhirnya baju mereka sama-sama basah kuyup.


"Habis ini kamu wajib mandi pakai air hangat, takut nanti masuk angin!" Pesan Emil, kakinya masih melangkah, tubuhnya sedikit menunduk menyamakan tingginya dengan Chika.


Chika abai, seolah tak mendengar apa yang baru saja dikatakan Emil. Ia melangkah, berjalan menuju kamar pribadi untuk mengambil handuk kering. Saat kembali menemui Emil, ia sudah mengganti pakaiannya, lalu menyerahkan handuk itu kepada Emil.


"Ibun, coba lihat! Kurang terang nggak?" Pria itu berusaha menarik perhatian Chika. Ia menarik tangan Chika supaya mendekat ke arah kamar mandi.


"Udah, kok. Terima kasih. Ini baju buat Kakak, ganti dulu pakai ini. Nanti Kak Emil sakit!" Chika menyerahkan kaus warna putih pada Emil.


Sedangkan pria itu masih ragu untuk menerima, dia hanya menatap tak suka ke arah kaus big size di tangan Chika. Pikirannya mulai nakal, membayangkan jika kaus itu milik pria yang pernah singgah di rumah Chika. Bisa saja, kan?


"Cuma ini, bajuku yang berukuran besar. Jadi pakailah dulu, Kak! Sepertinya muat kalau dipakai Kak Emil."


"Hem." Ia sedikit lega saat mendengar istilah 'bajuku' yang diucapkan Chika. Tangannya terulur mengambil kaus tersebut. "Boleh minta satu lagi?" Pinta Emil sembari menahan tawa. Melihat ekspresi kesal yang diperlihatkan Chika membuatnya semakin ingin menggodanya.

__ADS_1


"Apa?"


"Buatin aku teh!" Ucapnya.


"Kak?!"


Emil meringis, "dingin habis hujan-hujanan. Satu gelas saja."


Chika membuang napas pelan. Bukankah kalau dia menuruti pria itu, tandanya mereka berdua akan lebih lama lagi menghabiskan waktu bersama? Sial! Sepertinya pria itu sengaja ingin berlama-lama dengannya. Pikir Chika, ia melangkah ke arah dapur demi membuatkan minuman panas untuk Emil. Sedangkan pria itu kini duduk di kursi kayu yang ada di depan kamar Chika.


Lima menit berlalu, Chika sudah kembali, dengan membawa dua cangkir minuman hangat. Satu berisi teh panas dan satunya lagi berisi kopi. Emil menyesap perlahan teh buatan Chika, rasa hangat menghantam dadanya saat ia mulai menikmati minuman itu.


"Kamar mandinya bocor." Emil membuka suara setelah beberapa saat hening.


"Iya." Chika tahu kalau kamar mandinya bocor. Tapi dia tidak sempat memanggil tukang karena sibuk mengajar dan setelah itu sibuk mengatur Airin.


"Enggak minta diperbaiki tukang? Atau mau aku saja yang mem—"


"Enggak perlu, Kak!" potong Chika, "biar kapan-kapan saja aku panggil tukang." Sambungnya, berbohong. Palingan kalau tidak ada orang dia akan manjat sendiri di atas genteng.


Emil mengangguk, paham. Hujan di luar masih saja deras. Keduanya hanya duduk berdua saja. Tidak ada hiburan apapun di sana karena Chika memang tidak memiliki televisi.


"Kak Emil!" Chika meletakan cangkir di tangannya ke atas meja.


"Hm ...."


"Kakak nggak pulang?"


"Belum, di luar masih hujan." Emil justru melipat kedua kakinya duduk bersila di atas kursi kayu. Hujan pun sebenarnya tidak akan jadi masalah kalau Emil berniat pulang, toh dia juga pakai mobil. Dasarnya saja dia masih ingin berlama-lama dengan Chika.


"Kak. A—aku tadi pergi sama ibunya mas Gangga." Chika memberanikan diri untuk mengatakan kejadian tadi pada Emil, siapa tahu pria itu mau membantu mencari solusi untuknya.

__ADS_1


Emil masih terdiam, pandangannya tertuju ke arah Chika. Seakan mempertanyakan alasan, kenapa harus pergi berdua?


"Iya, Kak. Ibu Aini kekeh menginginkan kami menikah."


__ADS_2