Begin Again

Begin Again
Dilema


__ADS_3

“Hallo … ada apa, Mas?” mata Chika melirik ke arah Emil yang tengah memperhatikannya. Pria itu tahu kalau dia sedang berbicara dengan Gangga. Bahkan, Emil sendiri yang memintanya untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Kamu lagi di mana? WO kita ngajak ketemuan hari ini.”


Chika bingung hendak menjawab apa, bisa-bisanya ia melupakan janjinya pada Gangga dan Airin saat kembali dalam pelukan Emil.


“Ma—mas apa kita bisa bicara dulu, sebelum bertemu dengan pihak WO? Ada hal yang ingin aku sampaikan. Ini mengenai rencana pernikahan kita.” meski ragu Chika tidak ingin menundanya lagi, akan ada hati yang tersakiti kalau dia tidak segera memutuskan. Merasakan genggaman tangan Emil yang semakin erat, Chika beralih menatap pria itu. Hanya senyum tipis yang pria itu berikan.


“Ow, ya sudah. Kamu berangkat ke yayasan, kan, hari ini? kita bicara di ruanganku nanti.”


“Iya.”


“Atau kamu aku aku jemput sekalian?” tawar pria itu.


“Nggak perlu, Mas. Aku akan berangkat sendiri.” Chika menolak. Dia masih ingin membicarakan perihal Gangga pada Emil.


“Ya, sudah aku tunggu kamu di Yayasan.”


Setelah panggilan itu mati, Chika meletakan ponselnya di atas ranjang. Diam sejenak, memikirkan kata-kata untuk berbicara pada Emil.


“Ada masalah?!” tanya Emil. Dia begitu penasaran dengan aksi diamnya Chika saat ini.


“Kak … a—ku …


“Chika, sudah kubilang padamu, sekarang ada aku jangan pernah melewati masalahmu sendiri.”


Chika tidak lupa saat Emil mengatakan itu padanya. “Aku harus membicarakan hubungan kita pada mas Gangga.”


“Mau kubantu?”


Chika melepas genggaman tangan Emil, berdiri dari posisinya. “Aku ….”


“Chika, kau nggak akan mengulangi kesalahanmu untuk ke dua kalinya, kan?” kata Emil dengan nada tegas.


“Aku sedang berusaha untuk tidak melakukan itu.”


“Kapan kamu mau bertemu dengannya?”


Chika masih belum siap mempertemukan dua orang itu. Dia harus berbicara pelan-pelan baik dengan Emil maupun dengan Gangga. “Masalahnya ... keluarga besarnya terlanjur berharap banyak padaku, mendiang ibunya Airin menitipkan mereka padaku.”

__ADS_1


“Lalu? kamu nggak lupa, kan kalau masih punya aku dan Sheva?!”


Chika menganggukan kepala. Dia cukup sadar dengan kondisinya saat ini.


“Biar aku yang membantumu menjelaskan pada mereka.”


“Kak ... aku bisa mengatasinya sendiri. Tapi, please sabar dulu," Chika menolak bantuan Emil.


“Aku mau sabar, aku akan menunggumu sampai kapanpun kamu mau. Asal ... kamu juga harus janji, kalau penantianku ini tidak berakhir sia-sia.” melihat Chika tidak merespon Emil kembali melanjutkan ucapannya. “Jangan melakukan hal bodoh Chika!” peringkatnya.


Chika mengambil handuk yang menggantung di balik pintu, “Kak Emil, keluar dulu. Aku mau mandi, kita bisa membicarakan ini sambil mencari sarapan.”


“Okey, aku akan menunggumu di depan.” Emil beranjak dari posisinya, berjalan keluar kamar.


Pagi ini, mendadak tertarik untuk membuatkan Chika sarapan, melihat wajahnya yang sebab Emil yakin kalau wanita itu tidak mempedulikan kondisi perutnya.


Emil menghela napas kasar, saat melihat isi kulkas Chika. Isinya jauh dari kata layak, hanya ada es batu di freezer dan air dingin di bagian pintu. Selain itu beberapa bungkus mie instan aneka rasa terletak di rak bagian paling bawah.


“Gimana mau gendut kalau makannya saja begini!” Emil memutuskan menutup kembali pintu kulkasnya. Jika di rumah mungkin dia bisa menunggu di meja makan sambil menatap Kania yang sedang menyajikan makanan, tapi di sini Emil harus bergerak sendiri. Bahkan, berniat sekali membuatkan sarapan untuk Chika.


Melihat beberapa butir telur ada di baskom samping kompor, Emil memutuskan untuk membuat telur ceplok. Dia hanya menyajikan di atas meja usai menyiapkan semuanya. Saat pintu kamar terbuka, dia bisa melihat Chika dengan pakaian yang sudah rapi. Wajahnya terlihat tanpa make up, hanya bibirnya saja yang terlihat lebih basah.


“Sarapan dulu sini, setelah ini aku akan mengantarmu?!” Emil menarik kursi untuk Chika, meminta wanita itu supaya duduk di sampingnya. “Kamu nanti pulang jam berapa, aku jemput sekalian ya. Setelah itu kita bisa langsung ke rumah sakit.”


Mendengar penolakan Chika, mendadak Emil khawatir kalau wanita itu hanya mempermaikannya. Sedari tadi wanita itu selalu menolak niat baiknya. Dia semakin takut, kalau Chika mengatakan ingin memulai semuanya dari awal, hanya karena tidak ingin kehilangan waktunya bersama Sheva.


“Seberapa persen ucapanmu bisa kupegang?” tanya Emil. “Kau akan ke rumah sakit? menemani Sheva?”


“Iya, setelah aku pulang dari yayasan.”


“Jam berapa?”


“Aku belum tahu.”


“Pastinya saja, kamu akan selesai jam berapa, nanti aku akan menjemputmu?”


“Kak ….”


“Chika ….” Emil membalas dengan nada yang sama lembutnya. “Aku khawatir, Sheva terlanjur berharap padamu. Tapi kamu justru ….”

__ADS_1


Chika menghindari tatapan Emil, ia menundukan kepala, lebih fokus ke telur ceplok yang terlihat matang sempurna. “akan aku usahakan untuk tetap bersama kalian.”


“Gimana kalau gagal?”


“Kak, kegagalan itu risiko buat aku. Setidaknya aku pernah mencoba. Aku masih cinta kamu, aku menyayangi Sheva. Tapi, kita tidak bisa memaksakan kehendak Tuhan.”


“Kenapa kamu harus pergi ke Solo, dan bertemu mereka? Kenapa juga kamu harus mempertahankan anak itu. Kamu bukan ibu kandungnya. Sheva jauh lebih membutuhkan kamu.”


“Kak, mereka orang yang selalu ada di saat aku terpuruk!”


“Kamu tidak akan terpuruk kalau malam itu tidak pergi dari rumah!” balas Emil, cepat.


“Kakak yakin?” tanya Chika. “Yang ada kak Emil nggak pernah sadar kalau sebenarnya kakak cinta sama aku!”


Emil membuang napas kasar, memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. “Lalu ... keputusan apa yang akan kamu pilih? Apa kamu akan tetap menikah dengan pria yang tidak kamu cintai?”


“Aku sedang berusaha menjelaskan semuanya pada Mas Gangga. Mudah-mudahan dia mengerti posisiku.”


Emil tak mau membahas ini lagi waktu akan terus berjalan dan Chika bisa terlambat mengajar, “makanlah dulu! aku akan mengantarmu ke Yayasan.”


Chika mengangguk lalu mengambil nasi di depannya, menikmatinya dengan telur dan kecap.


“Lebih enak dari makan mie, kan?”


Chika menoleh menatap Emil, lalu tersenyum tipis. Dia baru menyadari kalau sedari tadi pria itu terus menatapnya.


Keadaan saat ini, membuat dada Emil berdesir. Andai semua bisa berjalan mudah, apapun yang wanita itu inginkan akan ia penuhi.


“Kak Emil sibuk apa sekarang?” tanya Chika, berusaha mengalihkan perhatian Emil.


“Sekarang?”


Chika mengangguk.


“Sibuk mikirin nomor telepon penghulu yang akan menikahkan kita,” jawab Emil sembari tersenyum tipis.


Chika berdecak sebal, “bukan itu yang aku maksud?”


“Iya ... iya aku paham. Sama dengan hubungan kita. Aku memulai lagi dari awal toko meubel warisan kakek.” Emil melihat reaksi Chika yang tampak biasa saja. “Apa kamu keberatan kalau sekarang aku miskin? penghasilanku mungkin tak lebih banyak dari Gangga.”

__ADS_1


Chika menggeleng cepat. “selama ini aku sudah terlatih hidup sederhana, pasti akan berjalan lebih mudah.”


Emil tidak mengucapkan langsung di depan Chika. Dia berjanji dalam hati, kalau suatu hari nanti akan memberikan kehidupan yang pantas untuk Chika.


__ADS_2