Begin Again

Begin Again
Mendadak Haus


__ADS_3

...Selamat Membaca...


...Jangan lupa! 😉...


...Like 👍...


...Komentar...


...Vote...


...----------------...


"Masuk saja! Pintunya nggak dikunci kok!" Emil berteriak dari arah dapur, saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar. Ia tidak mungkin meninggalkan rebusan spaghetti-nya yang hampir lunak.


Tidak lama terdengar suara pintu terbuka pelan. Emil lekas mengangkat kepalanya, menatap wanita dengan balutan dress coklat berjalan ragu memasuki rumahnya.


"Aku di dapur, masih ingat, kan arah dapur mana?"


Tanpa di tanya begitu pun Chika sudah tahu keberadaan Emil saat ini. Tubuh pria itu terlihat jelas berada delapan langkah dari posisinya saat ini. "Kok sepi?" tanya Chika, melangkah mendekati dapur.


"Iya. Kan, masih di rumah sakit."


"Hlah? Bukannya tadi Kak Emil bilang; kalau udah di rumah ya?"


"Kamu tanyanya ... Kak Emil sekarang di mana? Ya aku jawab di rumah karena aku sedang pulang."


"Jadi Sheva masih di rumah sakit?" tanya Chika, memperjelas lagi.


Emil mengangguk. Lalu tersenyum tipis. "Duduk!" titahnya sembari menggedikan dagunya ke arah meja makan. "Aku lapar, jadi bikin spaghetti! Kamu mau? Kamu sudah makan belum? Sini makan sama aku, tubuhmu kurus sekali!"


Mata Chika masih menyisir setiap ruangan yang tampak sama dari tujuh tahun yang lalu. Ia sengaja mengabaikan pertanyaan Emil karena merasa perutnya masih penuh. "Nggak ada siapa-siapa di sini?"


"Kan, ada kita berdua!" jawab Emil.


Melihat Chika masih setia di posisinya. Emil kembali bangkit dan menuntun tubuh Chika supaya duduk di sampingnya. Seharian ini ia tidak bisa berpikir jernih. Otaknya dipenuhi oleh jawaban dari Gangga akan keputusan Chika yang hendak membatalkan pernikahan itu. "Gimana hasilnya?"


Chika gelagapan. Ia berusaha meraih paperbag yang tadi dibawa. "Aku beliin Kak Emil pudding. Aku jamin pasti kak Emil bakalan suka. Langganan aku juga." Chika membuka kotak, untuk mengalihkan nervous-nya. Tapi, tetap saja tindakannya itu berhasil diketahui Emil. Pria itu menghentikan gerakan tangannya, meletakan kotak putih berisi puding coklat di atas meja. Kemudian menggenggam tangan Chika erat-erat.


"Chika ... jangan menghindar. Ceritakan apapun itu, aku siap mendengarnya! Aku di sini, siap membantumu kalau kamu memang membutuhkanku."


Chika berusaha menenangkan diri. Dia belum cukup berani untuk berkata jujur pada Emil. Tapi tatapan pria itu, membuatnya takut akan kehilangan mereka untuk kedua kalinya.


"Mas Gangga ... Dia masih ingin melanjutkan pernikahan kami."


Genggaman tangan Emil mengendur, matanya menatap Chika nanar. "Bagaimana denganmu sendiri?!"


"Aku sedang berusaha supaya lepas darinya."


Emil cukup lega mendengar itu. "Biar aku membantumu! Biarkan kita berjuang bersama! Jangan cuma kamu yang berusaha." Emil merasa ini untuk kebaikan hubungan mereka berdua. Jadi, ia harus berjuang bersama demi bisa mewujudkan keluarga bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau berjuang untukku, Kak!" gumam Chika.


Keduanya kini saling berpandangan, masih terpancar jelas sorot kerinduan dari manik keduanya. Seolah-olah hanya berpandangan saja, rasa rindu bisa melebur.


"Apa aku harus bikin kamu hamil dulu, biar kamu bisa terlepas darinya!"


Pupil mata Chika melebar. Lalu pukulan telak mendarat di pundak Emil. "Jangan melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya!" peringat Chika.


Emil terkekeh melihat ekspresi Chika. "Kenapa ujian cintaku banyak banget ya!"


"Apa kita nggak jodoh? Tapi ego kita yang memaksa untuk berjodoh." Chika melepas genggaman Emil. Ada rasa takut jika itu fakta yang harus terjadi.


"Nggak! Kamu jodohku. Kalau kamu bukan jodoh untukku, Tuhan nggak mungkin melibatkan mu di dalam mimpiku! Tuhan tidak mengizinkan aku untuk menunggumu pulang! Kamu pikir? Enam tahun lebih aku memilih sendiri itu karena apa? Itu karena aku sedang menunggumu pulang!" sanggah Emil.


"Padahal di Jakarta cewek cantik banyak, pintar juga banyak. Tapi ke—


"Nah itu karna jodohku di sini! Kita sedang diuji. Kalau kita berhasil, kita berdua akan hidup bahagia. Jika kita menyerah, kita cuma dapat luka!" potong Emil.


"Teori macam apa itu?!" Chika terkekeh. "Kak Emil sekarang lebih dewasa yah!"


Dipuji begitu Emil merasa bangga. "Kamu juga. Lebih kalem, lebih anggun!"


Chika ikut tersipu diiring tawa kecil. "Ini di Solo, aku mau brutal takut ditegur sama tetangga! Di kira hidup di hutan."


"Tapi aku suka. Asal, hatinya nggak ikut lembek!"


"Buruan makan keburu spaghetti-nya dingin."


Chika mengernyit, "Kok mamanya Sheva?"


"Fakta, kan? Emang mau di panggil apa?"


"Kenapa nggak Ibu saja?"


"Terlalu banyak yang menggunakan itu."


Chika yang mendengar hanya memainkan bibirnya. Sedangkan Emil diam-diam mengganti caller id Chika di ponselnya. Setelah berhasil di simpan ia menunjukan di depan wajah Chika.


"Ibun?" Gumam Chika menatap Emil tak percaya. "Bagaimana bisa?" protesnya.


"Dari pada ibu! Lebih baik Ibun!"


"Di kira ubun-ubun nanti!" celetuk Chika, sambil mengamati Emil yang tengah memakan spaghetti. Berulang kali pria itu menyodorkan garpu ke arah mulutnya tapi Chika menolak. Perutnya masih penuh karena habis makan bersama Bu Aini.


"Apapun panggilannya, yang penting tidak merubah makna kalau kamu adalah mamanya Sheva."


Chika merasa terharu dengan ucapan Emil, ia merasa tak pantas untuk menjadi ibu dari Sheva karena sudah meninggalkan Sheva dalam kondisi haus. Tapi rasanya ia tidak ingin lagi meneteskan air mata di depan pria itu. Chika kemudian beranjak dari kursi, "boleh minta minum, mendadak aku haus!"


"Ambil saja di kulkas!"

__ADS_1


Chika melangkah menuju dapur. Mengambil botol mineral berisikan minuman air dingin. Saat hendak kembali ke kursinya ia melihat Emil berjalan menghampirinya dengan piring kosong di tangan. Pria itu hendak meletakan piringnya ke wastafel. Tapi secepat kilat Chika menahannya. Mengambil alih piring itu berniat membantu Emil untuk mencuci.


"Enggak usah biar aku saja!" tolak Emil.


"Kak Emil mandi sana! Habis itu antar aku ke rumah sakit. Aku mau ... minta maaf sama Sheva."


"Eh tapi baju Sheva belum aku siapin. Tadi niatnya, mau ambil baju ganti anak kita."


"Ya, udah nanti biar aku siapin kamarnya sebelah mana?" tanya Chika. Lalu membawa piring itu untuk dicuci.


"Samping kamar kita dulu."


Chika tentu saja ia ingat dengan kenangannya bersama pria itu. Pria yang ia curi dari sahabatnya sendiri. Bermalam-malam mereka berdua di sini menikmati percintaan, tanpa peduli banyak hati yang terlukai. Kalau ditanya, apa dia menyesal? jelas. Chika sangat menyesal.


"Kak, udah sana mandi!" minta Chika saat melihat Emil justru mengikuti langkahnya. Pria itu berdiri di balik tubuh Chika seolah sedang menunggu wanita itu menyelesaikan pekerjaannya.


Chika sedikit menoleh ke arah Emil. Mencari tahu apa yang diinginkan pria itu. Chika mempercepat gerakan tangannya untuk mencuci piring. Supaya bisa mengerti akan keinginan pria itu.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Chika sembari memutar tubuhnya menghadap Emil. Ia terkesiap saat Emil justru meletakan tangan panjangnya di sisi tubuhnya, bertumpu pada meja kabinet di sana.


"Kak! Jangan bikin aku terkejut!" peringat Chika.


"Aku nggak sabar deh, Bun. Pengen lihat kamu masak pagi-pagi. Terus aku peluk kamu dari belakang. Tanpa takut dimarahi tetangga!" Wajah Emil hendak mendekat tapi segera ditahan oleh tangan Chika. "Ci*um dikit, boleh?"


Chika menggeleng.


"Kecup aja!"


"Aku akan merasa bersalah nanti kalau kamu tetap melakukan itu."


"Hey, Ibun ... Secepatnya aku akan membawamu pulang. Kita akan memulai semuanya dari awal."


Chika mengangguk. Itu benar, itu memang impiannya. Tapi, jalan untuk menuju ke sana tidak semudah yang mereka berdua pikirkan.


Melihat wajah Chika yang diam saja, Emil berusaha mencuri kesempatan. Ia mendaratkan bibirnya di sudut bibir Chika, lalu bergerak menangkap bibir tipis yang langsung terkatup rapat saat menyadari gerakannya.


Bukan Emil orangnya, jika tidak mampu menaklukan wanita itu. Gerakan bibir pria itu begitu lembut, sehingga berhasil membuai si wanita hingga bibirnya berhasil terbuka sempurna. Kini lidah Emil mulai bermain-main, mence-cap, me-lu-mat, hingga terdengar lenguhan merdu dari bibir Chika.


Chika mengutuk dirinya saat kesadarannya mulai terkikis. Kedua tangannya kini bahkan sudah mengalung di leher Emil. Tubuh mereka saling menempel, tidak ada jarak lain selain kain yang menutupi tubuh mereka berdua. Beruntung saja ponsel di saku celana Emil berdering, dirinya bisa selamat dan terbebas hari ini. Tapi entahlah besok!


"Sialan, ganggu banget!" Gumamnya, setelah melepaskan bibirnya dari bibir Chika. Ia kemudian mengangkat panggilan suara dari 'Nia Kania'.


"Bapak di mana? Kok lama banget!" bukan sapaan melainkan pertanyaan dan protes yang pertama menyapa telinga Emil.


"Masih di rumah, kenapa?"


"Nggak papa. Takutnya Pak Emil ketiduran! Ya sudah kalau bisa bapak buruan datang, dicariin Sheva."


Sembari mengatur degup jantungnya yang bergejolak Chika diam-diam ikut menguping pembicaraan Emil. Jarak mereka cukup dekat jadi tanpa menggunakan pengeras suara pun ia bisa mendengar obrolan singkat itu.

__ADS_1


Setelah panggilan suara terputus, Emil bergegas pergi meninggalkan dapur. Hingga langkahnya terhenti saat terdengar suara Chika bertanya padanya.


"Apa Kak Emil yakin, tidak ada cinta di antara kak Emil dan Kania?"


__ADS_2