
“Permisi, Bu Jamal … apa warungnya masih buka?” Emil berteriak di depan pintu, saat ketukan tangannya tidak mendapat jawaban. Sesaat menunggu, hasilnya tetap sama. Tidak ada sosok yang keluar dari dalam rumah.
Emil menoleh ke arah Sheva yang sudah berdiri di samping pintu. Wajah bocah kecil itu tampak kesal. “Udah dibilang tutup! Kenapa enggak beli bakso aja sih, Pa? Kita balik ke perempatannya tadi, perut Sheva udah kosong, nih!” saran Sheva.
“Jauh, Sheva! Ini juga sudah petang. Takutnya nanti kita tersesat.” Emil berusaha menolak, dia lelah kalau harus kembali ke lokasinya tadi.
“Papa alesan terus! buruan perut Sheva sudah lapar.” Bocah itu kembali mengeluh seraya mengusap perutnya. Dan Emil hanya bisa menggeleng saat melihat sikap Sheva saat ini, sama persis seperti Ibunnya. Enggak sabaran.
“Permisi bu Jamal ada, Mbak?” Emil bertanya saat melihat bayangan seseorang tengah berjalan di dalam rumah. Lampu rumah belum dinyalakan, jadi Emil tidak mampu melihat siapa pemilik bayangan itu.
Sayangnya wanita itu tidak menjawab. Dia justru melangkah semakin jauh. Emil yang melihat itu justru menduga dia sedang berbicara dengan hantu atau sejenisnya. Kalau manusia pasti akan berani menemuinya. 'Berani sekali hantu itu nongol di depanku!' batinnya, khawatir di dengar Sheva dan membuat bocah itu ketakutan.
Hingga tak lama kemudian, seseorang tampak berjalan mendekatinya. Wanita dengan rambut dicepol tinggi itu menyapa Emil dengan ramah. “Mas Emil?! Sampean temannya pak Aiman, kan?” ujarnya basa-basi.
“Betul, Mbak.”
“Loh, ada apa, Mas? Ada yang ketinggalan di warung? eh, tapi tadi tidak ada apa-apa tu, Mas.”
“Bu—bukan, Mbak!” sanggah Emil. “Saya cuma mau tanya, apa warungnya masih buka?”
“Woalah, udah tutup, Mas. Udah dari jam empat sore tadi. Ada apa?” Rini yang sedang menjamu Emil mulai penasaran.
Emil mengusap tengkuknya sambil menatap Sheva. “Ya, sudah, Mbak. Sebenarnya saya cuma mau mampir nyari makan. Kebetulan anak saya belum makan, tapi kalau udah tutup ya sudah tidak apa-apa, saya cari tempat lain saja.”
“Ow, gitu? Di sini mana ada warung malem-malem, Mas. Ada pun mas Emil harus naik motor dulu baru dapat.” Pandangan Rini beralih pada Sheva. “Owalah, kasihan kamu, Dik!” Rini iba saat melihat Sheva. “Masuk aja, yuk! Makan bareng, tapi menunya juga nggak lengkap kayak di warung. Cuma lele Lombok ijo. Kalau mau ayo masuk, kita makan bareng!” ajak Rini, berusaha mendekat ke arah Sheva, tapi buru-buru dihentikan oleh Emil.
“Enggak perlu, Mbak. Saya nyari tempat lain saja.” Emil menolak, sungkan kalau makan di rumah bu Jamal. Terlebih lagi di dalam rumah sana mendadak begitu ramai. Jadi, dia tidak mau mengganggu kebersamaan bu Jamal dengan keluarganya.
"Yas sudah Mas Emil, Misal nanti nggak dapat warung makan, balik ke sini saja."
"Baik, Mbak." Saat Emil hendak naik mobil, Sheva justru mendekat, berbisik padanya jika dia ingin buang air kecil. “Tahan ya, sebentar lagi kita sampai penginapan kok.”
__ADS_1
“Papa! nanti kalau Sheva kena ken-cing batu gimana? Kata bu guru, nggak boleh nahan-nahan pipis.” Sheva menggerakkan kakinya, menahan sesuatu yang meminta dikeluarkan.
“Ow, adik mau pipis? Ayo, sini mbak antar! Biar papamu nyari makan buat kamu. Dititipin di sini saja dulu, Mas. Nanti silakan jemput lagi.” Rini menyarankan saat raut Emil tampak sungkan.
“Enggak perlu, Mbak!” lalu menoleh ke arah Sheva. “udah sana buruan pipis, habis itu kita nyari makan,” ucapnya setengah kesal. Dan Sheva langsung menerima uluran tangan dari mbak Rini, yang menuntunnya memasuki rumah.
Emil memutuskan untuk menunggu di dalam mobil. Berharap Sheva tak lagi membuang-buang waktu. Berulangkali Emil menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan, dia sudah menunggu selama lima belas menit, tapi Sheva tak kunjung menampakan batang hidungnya. Dia hanya khawatir Sheva membuat ulah di dalam rumah itu.
Pandangan Emil menatap lurus ke arah pintu masuk. Namun tak mendapati siapapun di sana. Dan setelah waktu berjalan hampir tiga puluh menit, Sheva baru keluar dari dalam rumah bersama Rini.
“Terima kasih, ya, Mbak … sampai ketemu besok ya!” pamit Sheva sopan, lalu segera masuk ke dalam mobil.
“Kamu pipis atau apa sih, Papa jadi santapan nyamuk, Sheva!” Emil mengeluh, ketika mobil yang ia kendarai sudah melaju meninggalkan rumah Bu Jamal.
“Mungkin nyamuknya tahu kalau papa Duda! Jadi naksir. Sheva aja nggak kok!” kata Sheva.
Emil menghembuskan napas kasar. “Jadi, kita beli bakso tadi ya?” tanyanya.
“Katanya lapar?! plin-plan!”
“Sheva sudah makan, Pa! tadi di dalam rumah itu, Sheva dipaksa buat makan. Kan, kata bu guru kita nggak boleh nolak rezeki.”
“Terus papa makan apa hari ini?”
“Karena tadi Sheva baik, jadi dibawain sama mbak Rini. Katanya nanti buat Mas Emil. Mbak tadi bilang begitu,” ucap Sheva jujur.
“Sheva… kenapa baru bilang? Kan, papa sungkan kalau ditolong terus sama dia.”
“Ya, enggak papa! Mereka juga dapat pahala kok dari usaha menolong kita! Simbiosis mutualisme malaikat mencatat kebaikannya, perut kita juga kenyang!”
Emil menyerah, mengaku kalah berdebat dengan Sheva. Dia mengurungkan niatnya untuk bertolak lagi kembali ke perempatan lampu merah. Toh, Sheva sudah membawakan makanan untuknya.
__ADS_1
Di sisa perjalanan mereka hanya diam. Sheva memutar-mutar kedua jari jempolnya. Entah apa yang ada di pikiran bocah itu, yang jelas dia tidak sadar jika mobil yang dikendarai Emil sudah berhenti di depan rumah pak Aiman.
“Sheva ayo!” sentak Emil, ketika sudah berada di teras rumah dia hendak mengunci mobilnya.
“Iya, sabar, Pak Duda!” canda Sheva, menyusul masuk ke dalam rumah. Tiba di dalam rumah, Sheva menghempaskan tubuhnya ke kursi. Lalu menatap Emil yang tengah melepas kemejanya. “Papa! kapan orang mati akan dibangkitkan? Apa ibun sudah dibangkitkan? Kok tadi aku lihat Ibun?”
“Ngaco kamu!”
“Papa mikir Sheva bohong? Enggak Papa, Sheva beneran lihat Ibun. Tapi dia nggak lihat Sheva.”
“Palingan kamu terlalu kangen sama Ibun.” Emil turut duduk di seberang Sheva.
“Apa Papa juga pernah seperti itu?”
“Enggak. Enggak pernah, sama sekali.” Emil menjawab cepat serta penuh percaya diri.
“Berarti Papa bukan suaminya ibun? Suami istrikan harusnya kaya Kania sama papanya Airin. Saling sayang! Kalau papa nggak pernah lihat ibun, berarti Papa nggak rindu, kalau nggak rindu berarti enggak sayang, kan?”
Emil diam cukup lama, menatap Sheva lekat. “Terserah Sheva mau bilang apa!”
“Papa …” rengek Sheva.
“Sheva, yang kamu lihat itu bukan Ibun. Kita bahkan tidak pernah absen untuk membawakan bunga untuk Ibun. Kalau kamu lihat ibun berarti itu hantu.”
“Tapi kakinya nginjek tanah, kok! Kalau hantunya secantik ibun aku ya nggak takut.”
Emil menggaruk kepalanya kesal. “Papa lapar, sini makanan buat papa.”
Sheva memberengut kesal karena belum puas dengan jawaban Emil. Dia meraih tasnya, menyerahkan sebungkus nasi untuk sang papa. “Papa besok kerja?”
“Iya, makanya buruan cuci kaki, terus bobo! Kita harus berangkat pagi-pagi.”
__ADS_1
‘Ah, nggak! Lebih baik besok aku pura-pura sakit. Biar papa nggak bawa aku pergi. Aku masih harus memecahkan hantu itu!’ Sheva tersenyum kecut, membayangkan apa yang hendak dilakukan esok hari.