Begin Again

Begin Again
Pernikahan


__ADS_3

Satu ketukan terasa di bagian urat nadi seorang pria yang kini menjabat tangan penghulu. Itu adalah sebuah isyarat supaya calon mempelai pria segera mengucapkan kalimat qobul.


Pria dengan baju pengantin warna putih itu, terlihat menarik napas dalam-dalam. “Saya terima nikah dan kawinnya, Kania binti almarhum Chandra Wijayanto dengan mas kawin tersebut di bayar TUNAI!” Pria itu berhasil mengucapkan kalimat qobul dengan lantang dan dalam tarikan napas.


“Bagaimana saksi, SAH?” penghulu menatap ke arah saksi.


“SAHHHHH ….” Tamu yang hadir berteriak dengan sangat lantang, membuat kedua mempelai yang kini duduk bersanding tersenyum simpul, sembari membuang napas lega.


Doa dipanjatkan begitu khusyuk, tamu yang hadir di sana turut mengaminkan apa yang diucapkan sang penghulu. Kini kedua mempelai sudah halal secara agama dan hukum negara. Mereka berdua diperkenankan untuk bertukar cincin sebagai pengikat hubungan keduanya.


Binar kebahagiaan terpancar dari bibir keduanya, keluarga besar juga tamu undangan. Sheva yang duduk di samping Airin ikut bahagia melihat Kania sudah menikah.


“Apa kamu bahagia, Sheva?!” Airin bertanya dengan suara pelan, nyaris berbisik tepat di samping telinga Sheva.


Sheva memandangi Kania yang tampak begitu cantik hari ini. Wanita itu benar-benar terlihat mempesona dengan balutan kebaya putih tulang, yang menempel pas di tubuhnya.


Sheva menganggukan kepala, meski perasaanya kini campur aduk. Dia menoleh ke arah Airin, yang tampak begitu bahagia.


“Kamu tenang saja, cepat atau lambat pasti papa Emil akan segera menemukan jodohnya. Seperti papaku!” Gadis kecil itu mengusap punggung Sheva dengan lembut, tahu saja kalau kini Sheva sedang merasa kehilangan sosok pengasuh yang selama ini merawatnya.


“Mereka saling cinta, Sheva … jadi kamu jangan bersedih karena papaku sangat mencintai Mommy Kania.” Airin mengoceh lagi, berlagak paling tahu dengan isi kedua orang tua nya itu.


“Ka Nia bilang sangat menyayangiku. Kalau dia tinggal dengan kalian, aku pasti akan kesepian!” Sheva berkata jujur, meluapkan isi perasaanya saat ini. “Aku akan semakin kesepian, papa akan sibuk keluar kota, hanya ada bu Sum yang pikun itu yang akan menjadi temanku,” sungutnya.


“Shutt! Nggak boleh julid, kamu mau dibikin bisu lagi sama Allah!” gadis itu mengingatkan. Tapi tetap saja, kata-katanya itu tak dipedulikan oleh Sheva. Bocah sebelas tahun itu masih saja murung dengan wajah ditekuk. Keceriaan itu mendadak sirna saat menyadari Sheva akan kesepian.

__ADS_1


“Kamu boleh tidur di rumahku. Banyak kamar kosong di sana.” Airin berusaha membujuk, bocah kecil yang lebih tua darinya itu. Ia kemudian merogoh saku gaun yang dikenakan. “Hari ini adalah hari bahagia untuk keluargaku, mungkin permen ini bisa memperbaiki perasaanmu saat ini. Supaya kamu bisa ceria lagi!”


Tanpa basa-basi Sheva menerima permen pemberian Airin. Dia membukanya pelan, lalu memasukan ke dalam mulut, menguyah permen rasa jeruk itu dengan tenang.


Sejak ibun pergi Sheva selalu semangat masuk sekolah. Dia tidak pernah absen belajar, kecuali saat sedang sakit. Sheva seperti siswa normal lain, atau bahkan melebihi. Dia punya daya juang tinggi untuk belajar, meminimalisir kesalahan saat mengerjakan soal. Sehingga dia bisa mendapat nilai sempurna.


Dalam pikiran Sheva dia menyadari dirinya memiliki kekurangan. Jadi, setidaknya orang tidak akan fokus pada kekurangannya saja. Dia punya niat menarik perhatian orang dengan prestasinya.


Berkat saran dari Gangga yang meminta Emil untuk mengantar Sheva ke teraphy otot dan saraf, perlahan Sheva bisa berbicara. Meski kadang mengeluh lelah, tapi upaya nya itu membuahkan hasil yang relevan. Tepat ketika teraphy yang dijalani memasuki tahun ke empat, bocah itu bisa lancar berbicara.


Namun, ketika Gangga memintanya untuk pindah ke sekolah normal seperti anak lain, Sheva enggan menerima. Dia kekeh menjadi siswa terbaik di Yayasan Surya Mentari.


Bahkan, Sheva menjadi perwakilan siswa disabilitas, dalam ajang lomba olympiade matematika di Jakarta, bersaing dengan anak normal lain. Mungkin kalau sampai ada yang mengetahui kecerdasan Sheva, pihak tertentu tidak akan mengizinkan Sheva bersekolah di Yayasan Surya Mentari.


Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk membuat mereka melangkah menuju pelaminan. Dan sekarang, mereka berdua terlihat sangat serasi. Senyum indah terbit di bibir Gangga, begitu pun dengan Kania, terlihat sangat bahagia walaupun pernikahannya tidak dihadiri oleh keluarganya.


Bu Aini serta keluarga besar Gangga dari Salatiga turut hadir memeriahkan acara pernikahan mereka berdua. Acara sederhana yang hanya diisi oleh kerabat dekat dan keluarga besar.


Hubungan Emil dan Gangga pun membaik. Terkadang Sheva dititipkan kepada Gangga, saat pekerjaan mengharuskan pria itu pergi ke luar kota untuk. Mereka bagai keluarga yang lama terpisah. Walau sebenarnya tidak memiliki hubungan darah.


“Sheva! Kenapa di situ?!” tegur Emil, yang baru saja datang. Ya, pria itu baru saja datang, wajahnya terlihat begitu letih saat ini. Bahkan, wajah pria itu jauh lebih tua dibanding dengan pria seusianya.


“Rame, Pa! tahu sendiri kalau Sheva selalu pusing berada di keramaian,” ucap Sheva, memberikan alasan yang tepat pada papa Emil.


“Ayo kita kasih salam dulu sama Kakek Agus sama Nenek Aini.” Emil membenarkan kemejanya, dia benar-benar terlihat kacau hari ini, karena begitu pesawatnya landing, dia harus bergegas ke acara Kania.

__ADS_1


Sheva menerima uluran tangan Emil. Berjalan bersama pria itu, meninggalkan Airin yang kini sudah mendapatkan teman baru.


“Wah, sih ganteng! Kamu itu cocoknya jadi anaknya papa Gangga, papamu itu nggak ada cakep-cakepnya!” ucap Nenek Aini setelah bersalaman dengan Sheva. Dia menggoda Emil yang terlihat begitu kacau. "Mama ini serba salah, mau ngenalin kamu ke Gendis, tapi kok wajahmu kucel begitu!" kata Bu Aini.


"Tidak perlu repot-repot, Mama Aini. Emil bisa cari sendiri."


Bu Aini tertawa kecil. "Ya, bagus kalau masih ada niat nyari istri. Kan, kasihan Sheva nanti kesepian di rumah." Bu Aini beralih menatap Sheva. “Kamu harus sering-sering main ke rumah Airin, Sayang …” ucap ibu Aini.


“Siap, Nenek.” Sheva mempertegas dengan anggukan kepala.


Obrolan itu mencair begitu saja, setelah mendengar nasihat dari Bu Aini, Emil mengucapkan selamat kepada Gangga dan Kania, disusul Sheva yang mengikutinya.


“Bapak jadi ke Jakarta?” tanya Kania saat tangan Emil sudah terlepas dari telapaknya.


“Ya, rencana setelah ba’da azhar kita ke Jakarta.”


“Sheva semangat ya! Kakak cuma bisa doain semoga Sheva bisa mengerjakan soal-soalnya.”


“Terima kasih, Kak. Seharusnya papa Gangga menunda bulan madunya biar kakak bisa dampingi aku.”


"Kenapa nggak bilang ke papa Emil? Kan, dia yang ngasih tiket papa ke Tawangmangu."


Mendengar itu, Emil lekas mengajak Sheva menjauh dari mereka berdua. Dia tidak ingin mengacaukan acara bulan madu Kania.


“Foto dulu, Pak!” Kania berteriak, kembali menarik lengan Sheva supaya berdiri di sampingnya. Dan Emil diminta untuk berdiri di samping Gangga.

__ADS_1


__ADS_2