
Di balik setir kemudi yang Emil kendalikan, bayangan pria terlelap di bangku kayu itu sulit dihilangkan dari kepalanya. Bagaimana pria itu mendengkur pelan, terlelap meski matahari sudah memancarkan sinar, selimut tebal yang sudah tergeletak di lantai membuktikan kain itu bekas dipakai.
Spekulasi buruk pun bermunculan, di kepala Emil menduga si pria tengah memulihkan tenaga usai bercin*ta semalam suntuk dengan Chika. Dan di sini bukan hanya hatinya yang terluka, bahkan tenaganya seolah disedot habis usai menyaksikan kejadian pagi tadi. Bayangan sosok pria bernama Gangga berakhir. Kini beralih dengan kalimat-kalimat pembelaan yang diucapkan Chika. Seharusnya, wanita itu tidak perlu bersikap semanis seperti semalam. Kalau ternyata, bahkan dia bersedia disentuh pria lain.
"Bang*sattt! Dia lupa kalau aku pernah membujuk Riella dengan kalimat itu!" wajahnya terlihat murka. Emil memukul klakson mobil, hingga beberapa orang fokus ke arah mobilnya. Dia seolah tutup mata dengan tatapan pengendara lain yang tertuju padanya.
Emil tidak habis pikir, bisa-bisanya dia melupakan sifat buruk yang dimiliki wanita itu? Sifat buruk Chika memang tidak bisa dirubah. Dia lupa kalau Chika suka menggoda pria. Dan dia salah satu korbannya.
Gemuruh di dadanya tidak mampu ditahan. Setelah melewati lampu merah, Emil terpaksa menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Andai dia tidak nekat datang pagi-pagi ke rumah wanita itu, hanya untuk mengantar sarapan. Dia tidak akan melihat kejadian tadi. Dan mungkin Chika akan terus membohonginya.
Getaran ponsel yang ada di dashboard mengalihkan pikiran Emil dari sosok Chika. Membaca nama Kania sebagai pengirim pesan singkat ia pun lekas membaca pesan tersebut.
Kania : Bapak masih di rumah? Bapak tidak lupa, kan kalau pagi ini Sheva sudah diperbolehkan pulang? Sedari bangun, Sheva mencari Bapak!
Emil tidak membalas pesan Kania. Semalam dia memang tidak kembali ke rumah sakit. Selain karena hujan yang turun semalam suntuk, tubuhnya tidak bisa berkompromi, ia tidak mampu menahan kantuk yang menyerang. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidur di rumah.
Emil kembali menyimpan ponselnya, bersiap melanjutkan perjalanan menuju. Ia berusaha menyingkirkan ingatannya tentang kejadian tadi pagi di rumah Chika. Dia hanya ingin Sheva menjadi prioritasnya.
Tiba di rumah sakit Emil berlari kecil menuju kamar Sheva. Tiba di ruang perawatan yang di tempati Sheva, bocah itu sudah duduk di tepi brankar, terlihat jelas dia sedang menunggu kedatangannya.
"Hallo Boy, capek ya nungguin papa?" tanya Emil. Di saat berhadapan dengan putranya, Sheva tampak menatap ke arah pintu, seakan mencari sosok lain yang datang bersama papanya.
“Ayo Sheva. Kita pulang!” ajak Kania yang sudah menenteng barang-barang Sheva selama menginap di rumah sakit.
Meski ada perasaan kecewa yang begitu besar di hati Sheva, bocah itu tetap menggandeng tangan Kania. Dia mengikuti langkah Kania yang membawanya keluar gedung.
Mereka bertiga berjalan bersisian, Sheva berada di pinggir, samping Kania. Dia hanya diam sambil memeluk boneka tangan yang dibawa oleh Ibun.
“Kania, aku punya tugas buat kamu."
__ADS_1
"Ya, tugas apa, Pak?" sahut Kania.
"Setelah aku mengantarkan Sheva dan kamu pulang ke rumah. Kamu bisa kan mengantarkan aku ke ruko? Dan setelah itu kamu wajib ke sekolah Sheva untuk cabut berkas. Aku berencana memindahkan sekolah Sheva.”
Dari raut wajah yang ditunjukan Sheva. Bocah itu ingin sekali memprotes keputusan sang papa. Tapi, dengan keterbatasan yang ia miliki dia hanya menggenggam erat-erat tangan Kania. Dia mengungkapkan protes dan hanya Kania yang mengetahui apa yang ingin disampaikan.
“Pak?!” Kania berusaha membujuk atasannya.
“Aku nggak terima bantahan, Nia! Lebih baik kita segera pulang.”
Biaya administrasi sudah diselesaikan oleh Kania. Jadi, mereka langsung menuju tempat parkir. Emil tak mampu membaca protes dari Sheva. Tahu pun rasanya percuma karena apa yang sudah diputuskan akan sulit untuk dirubah.
“Atau begini saja Nia! Kamu antar aku dulu ke ruko. Setelah itu kamu bawa Sheva pulang! Ingat jangan bawa Sheva ke Yayasan!” Emil berbicara layaknya orang yang sedang bingung. Kania pun tidak berani protes, saat melihat wajah Emil yang tak sedap untuk dipandang.
Beberapa menit berlalu, mereka akhirnya sampai di ruko milik Emil. Pria itu menekan klakson mobilnya begitu keras, saat mendapati sebuah mobil mewah berada di halaman parkir rukonya. Mobilnya tidak bisa masuk karena dihalangi mobil tersebut.
Saat tiba di ruko yang menjadi gerai karya yang dimiliki Emil. Sebuah mobil mewah terparkir menghalangi mobilnya yang hendak masuk.
Namun, ketika pemilik mobil mewah itu keluar dari ruko, ia pun memilih turun dan meminta Kania membawa Sheva pulang ke rumah.
“Aku bisa naik ojek! Jangan pedulikan aku,” jawab Emil. “Jangan lupa perintahku tadi!”
Kania mengangguk, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan ruko yang ditempati Emil.
Sedangkan pria itu, menghampiri tamu yang berkunjung ke ruko. Dia tidak mengira, kalau sepagi ini pria itu sudah datang ke rukonya. “Gue belum ada uang untuk membayar hutang-hutangku ke lo! Jadi, silakan pergi!” usir Emil terlihat tak suka saat melihat kedatangan tamunya.
Pria yang menjadi lawan bicaranya itu tampak marah, kesal karena kedatangannya di ruko milik Emil sudah disalah artikan.
“Lo tidak berniat membawa gue masuk ke ruang kerja? Sinar matahari pagi memang baik untuk kesehatan. Tapi apa kata istriku kalau tubuhku gosong!” mengangkat lengannya untuk menutupi sinar matahari yang mengenai matanya.
“Brengsek!” Melewati tubuh Kalundra dengan menyenggolkan pundaknya.
__ADS_1
“Bukannya lo tadi sudah masuk? kenapa harus meminta izin.”
“Iya, juga sih. Sebenarnya gue udah nunggu lo cukup lama di sini.” Kalun terbahak, lalu menarik kursi plastik yang ada di depan meja kerja Emil.
Ruangan itu tampak sederhana, tidak ber-ac hanya kipas Maspion yang menempel di dinding. Biasanya ruangan itu dipakai untuk menerima tamu yang hendak memesan dalam jumlah banyak.
“Jadi, apa maksud kedatanganmu menemuiku pagi ini!” tanya Emil ketus.
“Kenapa sih, santai aja kali, Mil! Gue nggak bakal ngrugiin waktu lo kok, tentu kedatangan gue untuk menawarkan kerja sama. Tapi ya … kita ngobrol dulu! Sudah lama kan kita jarang ngobrol!”
“Ujung-ujungnya, obrolanmu akan menjurus ke penghinaan.”
Pria di depan Emil tertawa lebar. “Kenapa sih! pagi-pagi, udah marah-marah gitu! Belum sarapan? Makanya punya istri biar ada yang manjain.”
Emil tak menjawab, membiarkan keheningan mengambil alih keadaan.
“Nitip salam buat Riella, ya .... Salam maafku untuknya, setelah melihat kejadian pagi ini, aku baru menyadari rasanya dikhianati oleh orang yang kita cintai," dalihnya penuh penyesalan, kepalanya menunduk tak berani menatap Kalun.
“Wuih, berat nih sepertinya? Siapa yang berkhianat?”
Emil bungkam, dia tidak ingin membuka aib Chika di sini. Biarkan dia saja yang tahu, dia akan menyimpan baik-buruknya Chika. Khawatir juga kalau nanti Sheva akan tahu apa yang dilakukan Ibun-nya di luar sana.
“Bukan begitu. Aku cuma keinget kesalahanku di masa lalu. Jadi, aku hanya ingin meminta maaf saja sama Riella.”
Kalun mengangguk, “Enggak ada hubungan dengan Chika yang memilih cincin pernikahan, kan?” tanya Kalun.
“What?!” Emil tampak begitu terkejut mendengar kalimat yang disampaikan Kalun.
“Ow, jadi lo belum tahu?” melirik ke arah Emil, berusaha membaca situasi. "Em, kemarin gue mengantar Leya jalan-jalan. Tak sengaja melihat Chika dengan seorang ibu-ibu di toko perhiasan. Gue berharap dia akan menikah sama lo. Tapi sepertinya wanita yang datang dengan Chika bukan mamamu.”
“Bukan. Bukan gue, mungkin dia akan menikah dengan pria lain.”
__ADS_1
“Lalu ... Sheva?”
“Sheva? Dia akan tetap bersamaku. Bukankah selama ini kami baik-baik saja tanpa wanita itu?”