
Sudah beberapa hari ini, Emil selalu terbangun di tengah malam. Dia stress, gelisah, tidak bisa tidur dengan nyenyak, semenjak kepergian Sheva.
Dalam tidurnya, Emil merasa mendengar suara Sheva berseru menyebut namanya. Tapi, saat dia berlari keluar dan mendatangi kamar Sheva. Ranjang di sana tampak kosong. Sudah sepuluh hari ruangan itu kehilangan penghuninya.
Emil tak bergegas pergi sebelas tahun dia yang selalu ada di malam-malam Sheva, tentu saja dia kehilangan, demi mengusir rindunya Emil melangkah lebih dalam. Berbaring di ranjang Sheva hingga pagi.
Dalam hatinya selalu menyakinkan dirinya kalau kebiasaan ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi, sayangnya dia salah. Sampai detik ini, dia masih saja sedih.
Pagi ini, Emil dibangunkan oleh matahari yang mengintip melalui celah jendela. Emil diam sejenak, menatap bantal yang biasa digunakan Sheva. “Jangan membuat mamamu kerepotan! Kamu laki-laki, jangan cengeng seperti papa! Kamu wajib menjaga mamamu, Sheva ....”
Setelah mengatakan kalimat itu, Emil beranjak dari ranjang. Dia enggan berlama-lama menikmati kesedihannya. Masih ada kewajiban lain yang harus dia penuhi.
“Sarapan sudah siap, Mas Emil.” Bu Suti memberitahu, saat melihat Emil keluar dari kamar Sheva. Emil hanya mengangguk lemah, seraya berjalan menuju kamar, bersiap ke pabrik furniture.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Emil keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Siap menjalani rutinitasnya.
“Pak, semalam Mbak Chika telpon.” Bu Suti kembali memberitahu, saat Emil sudah duduk di salah satu meja makan.
Emil memang sudah memberitahu Bu Suti jika Chika masih hidup dan kini Sheva ikut bersamanya. Wanita itu sempat tidak percaya dengan fakta itu. Dia mengira Chika bukan Chika melainkan penipu yang ingin memanfaatkan kekayaan Emil. Tapi, setelah dijelaskan secara detail, Bu Suti akhirnya menerima jika itu adalah Chika, wanita yang sudah melahirkan Sheva.
“Apa katanya?”
“Mbak Chika cuma ngasih kabar, kalau Sheva akan pindah sekolah. Dia ingin bapak menelponnya balik. Dari kemarin Mbak hubungi bapak, tapi nggak di angkat.” Bu Suti menjelaskan panjang lebar.
Emil menarik napas dalam-dalam. Mendadak dia teringat kejadian hari itu. Di mana Chika benar-benar membawa Sheva pergi dari hidupnya. Awalnya, Emil berniat menggunakan Sheva untuk menahan Chika pergi. Tapi, siapa sangka kalau Chika benar-benar membawa Sheva menjauh darinya.
__ADS_1
“Ya, aku akan menelponnya.” Emil berusaha menelan makanan di dalam mulut. Beberapa hari ini, dia tidak bisa makan dengan baik. Semua makanan rasanya hambar, mungkin karena Sheva tidak ada di sampingnya, menemaninya makan, atau sarapan.
“Kemarin mbak Nia juga main ke sini, Pak! Dia tanya tentang Sheva kok nggak pernah masuk. Terus saya ceritain masalah Sheva dan Mbak Chika.”
“Apa kata Nia, Bu!”
“Terkejut, Mas. Mbak Nia juga bilang kalau sekarang sedang hamil muda.” Bu Suti tampak semangat menceritakan tentang Kania, yang saat ini sudah bahagia dengan keluarga barunya.
“Bagus kalau begitu.”
“Dia datang sama temannya, Mas. Awalnya mau dikenalin sama Mas Emil. Tapi, nggak jadi karena Mas Emil belum pulang.”
Emil beranjak dari bangku, sampai kapanpun dia tidak akan mencintai wanita lain. Sebelum perasaanya untuk Chika benar-benar selesai. “Seperti biasa ya, Bu! Letakan kunci rumah di bawah pot. Aku mungkin akan lembur!” pesan Emil seraya melangkah keluar rumah.
“Iya, Mas.”
Seperti halnya hari ini, dia tidak ada janji pertemuan dengan siapapun. Tiba di dalam ruang kerjanya, dia hanya membersihkan debu yang menempel di atas meja. Berkeliling, sambil mengelap hiasan yang terpajang di setiap sudut ruangan. Tidak peduli jika OB baru saja membersihkannya. Emil seperti kurang kerjaan. Membuang waktunya untuk bersih-bersih yang sebenarnya sudah bersih.
Emil keluar pabrik saat matahari sudah tenggelam. Bahkan, di dalam pabrik kecil itu, tidak ada lagi karyawan yang bekerja kecuali satpam. Emil lekas pulang, dan saat tiba di rumah jarum jam sudah menunjukan pukul 11 malam.
Dia masuk kamar, merebahkan tubuhnya, lalu terbangun ketika jarum jam berada di jam dua pagi. Hanya seperti itu yang dia lakukan semenjak Sheva pergi dari hidupnya. Dia kehilangan kebiasaan yang sudah lama ia lakukan bersama Sheva. Dia tidak tahu kapan akan bertahan di posisi ini. Menahan rindu yang menyiksa, menahan rasa ingin bertemu dengan Sheva.
...----------------...
Tidak beda jauh dari Emil, tak mudah untuk menyesuaikan diri tinggal bersama Ibun. Sheva selalu susah memejamkan mata saat malam tiba.
__ADS_1
Ruangan yang biasa luas, kini tidak lebih dari separuh kamarnya dulu. Setiap malam dia selalu menatap wajah Ibun, yang sengaja tidur miring karena ranjang memang tak muat untuk ditiduri berdua.
Belum lagi alasnya yang keras dan ketika bangun, justru tubuhnya terasa pegal semua. Sheva terkadang meneteskan air mata. Lalu menyerukkan wajahnya di atas bantal, menyembunyikan tangis. Dia tidak ingin Ibun tahu. Dia tidak ingin wanita itu tahu kalau dia merindukan sang papa.
Diam-diam Sheva beranjak dari ranjang. Membuka sedikit jendela kayu. Dia termenung sambil memegangi kayu yang membentang di jendela. Menatap hamparan tanah kosong di samping rumah.
Sheva tidak pernah membayangkan ini terjadi pada hidupnya. Keinginannya mungkin terlalu sulit untuk diwujudkan kedua orang tuanya.
Dulu, saat dia tinggal bersama papa dia ingin tinggal dengan Ibun. Dan di saat ia tinggal bersama ibun ia tidak tega membayangkan sang ayah yang hidup sendirian.
“Papah ... Sheva kangen ...” lirihnya dengan bibir bergetar Dia menghapus air matanya secara kasar, tidak membiarkan cairan itu basah mengenai pipi. Khawatir Ibun akan melihat tangisnya.
Sheva selalu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia sudah berulangkali memejamkan mata. Tapi tetap saja dia tidak bisa terlelap lagi. Saat suara adzan terdengar, Sheva mulai ke dapur membantu Bu Jamal untuk mengambil air. Tak lama Ibun bangun menyapanya, memintanya untuk istirahat atau mandi bersiap ke sekolah.
“Ibun, hari ini Sheva libur sekolah boleh, kan?” tanya Sheva. Saat melihat Chika menyiapkan seragam miliknya.
“Loh, emang kenapa?”
“Enggak papa. Sheva pengen libur saja.”
Chika mendekat ke arah Sheva, meletakan punggung tangannya ke kening Sheva. Tidak terlalu panas, tapi suhu tubuh Sheva melebihi batas normal. “Sheva sakit?” tanya Chika.
Bocah itu mengangguk. “Kepala Sheva sedikit pusing.”
“Ya, sudah Sheva istirahat saja.” Chika mengesampingkan semua kegiatan yang hendak dilakukan hari ini. Bahkan dia meminta izin kepada pengurus TK demi menjaga Sheva yang sedang sakit.
__ADS_1