
"Nia, do you know that Bu Chika is my mother?"
Kania membaca tulisan tangan Sheva, yang disodorkan padanya. Ia cukup bingung karena tidak tahu menahu perihal ini.
"No, Sheva! Mrs. Chika is your teacher, not your mother!" Kania membantah, yang Kania ketahui, istri dari majikannya itu kabur usai melahirkan Sheva. Bocah malang yang butuh banyak perhatian. Jadi, bukan Bu Chika yang baru mereka temui beberapa bulan yang lalu.
"No, Mrs. Chika is my mother. If you don't believe me, just ask papa!"
Kania tidak merespon, membuat Sheva kembali sibuk dengan kertas dan pensilnya. Setelah itu menyerahkan lagi pada Kania.
Multitasking sekali tangan Sheva ini, di saat ia sedang menggambar, sarapan masih saja mengajaknya ngobrol. Pikir Kania.
"But, I'am sad... Why does it seem like she doesn't accept Sheva."
Kania membaca lagi tulisan yang disodorkan Sheva. Kadang Kania sendiri bingung, kadang juga ia tak paham dengan bahasa asing yang Sheva gunakan, bocah kecil itu suka sekali mengerjainya. Tapi berkat aplikasi translate yang ia download di play store, ia bisa menjawab setiap pertanyaan yang ditulis Sheva.
Andai orang-orang tahu, Sheva dilahirkan dengan memiliki banyak kelebihan pasti akan memperebutkan bocah itu. Sayangnya, mereka lebih memandang kekurangan Sheva yang tampak mencolok ketimbang memandang yang lainnya. Contohnya banyak, kakek nenek dari Sheva atau bahkan ibunya sendiri.
Kania masih termenung, memikirkan jawaban yang tepat untuk bocah 6 tahun itu. "Udah ya, Sheva ... kita ngobrolnya pakai biasa kita saja!" ajaknya. "Kak Nia pusing harus ngetik di hape mulu!" Mengusap lembut pipi Sheva. Kania begitu tulus menyayangi Sheva seolah dengan melakukan itu ia bisa melihat sosok adiknya yang dulu.
"Anak ganteng nggak boleh sedih! Kan masih ada kak Nia! Siapapun mama nya Sheva, diterima atau tidak Sheva di depan mama. Sheva akan selalu diterima oleh kak Nia. Mungkin, kalau Bu Chika itu benar-benar mama nya Sheva. Dia sedang berpikir, gimana ya, cara minta maaf ke Sheva? Bu Chika sudah lama pergi, pasti dia sudah melewatkan banyak waktunya bersama Sheva, pasti dia juga sedih karena tidak bisa bersama Sheva? Karena itu, dia mungkin ... Sedang merancang kalimat buat disampaikan ke Sheva!"
__ADS_1
Seharusnya Kania lebih cocok menjadi guru paud atau sejenisnya, tapi mungkin gaji dengan bos Emil lebih besar jadi ia lebih betah bekerja bersama Emilyan.
Akhirnya Sheva mengangguk, lalu melanjutkan makan bubur. Ia begitu bersemangat menyelesaikan sarapannya. Seolah tak sabar untuk menanti kejutan apa lagi yang ada di depan nanti. Harapannya cuma satu, ia ingin dipeluk erat oleh mama sama seperti teman-temannya.
Di saat mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, pintu bangsal Abidzar terbuka lebar, sosok Emil yang dinanti tiba di sana.
Bola mata Kania berbinar melihat satu kantong plastik yang dibawa majikannya. Ia tahu benar, pasti yang dibawa majikannya itu adalah nasi liwet pesanannya.
Apa pak Emil mengantri hingga satu jam lebih? Kenapa baru tiba? Pandangan Kania berubah sendu saat menyadari kalau ini sudah hampir pukul 9 pagi.
"Bapak beli satu aja, ya? Terus Bapak sarapan pakai apa?" cecar Kania saat melihat Emil menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia mengambil plastik yang diletakan Emil di meja, lalu membuka styrofoam tersebut.
"Loh, Pak?" Kania terkesiap. Bukan bermaksud kurang ngajar, tapi kenapa saat ia membuka sryrofoam itu, justru makanan lain yang ia lihat. "Ini bukan nasi liwet, Pak!" keluhnya dengan raut kecewa.
Melihat putranya mengacungkan jempol kanannya, Emil hanya bisa tersenyum tipis. "Oke, semua sudah baik, kan! Izinkan papa tidur sebentar. Papa sangat lelah." Emil meletakan kepalanya di punggung kursi. Saat hendak memejamkan mata, pemandangan di depannya mengganggu pikirannya. "Kenapa tidak di makan?! Hum? Aku mengantre cukup lama demi kamu! Kalau aku tahu ujungnya tidak kamu sentuh, mendingan aku buang saja tadi." Emil menggerutu, saat merasa pengorbanannya mengantre panjang demi seporsi nasi tidak dihargai.
Kania membuka lagi styrofoam itu. Lalu menikmati makanan di depannya dengan enggan. Menurutnya rasanya aneh karena styrofoam nya dilapisi dengan daun jati. Aroma nasinya pun bercampur dengan wangi daun jati.
Tiba-tiba saja, di saat ia sedang menikmati makannya, pertanyaan Sheva kembali mencuat, sayangnya saat ia hendak bertanya pada majikannya, pria itu sudah menutup mata. Kania pun menunda untuk bertanya pada Emil perihal Bu Chika.
Dalam diam Kania mengamati Emil yang sedang terlelap. Ia kembali meletakan sendok di tangannya lalu berjalan menuju brankar yang ditempati Sheva untuk mengambil bantal. Ia memindahkan bantal itu ke belakang kepala Emil.
__ADS_1
Pria itu melenguh sambil meraih telapak tangannya, lalu menggenggamnya erat. "Jangan pergi lagi!" cicitnya dengan suara pelan, tapi mampu didengar Kania. Wanita itu terkesiap dengan ucapan yang disampaikan Emil. Tapi ia tahu jika kalimat itu bukan untuk dirinya. Tapi, kenapa ia merasa asing dengan perasaan yang hadir di hatinya saat ini.
Mendadak ia takut kehilangan perhatian dari Emil. Ia juga takut kalau nanti Sheva tidak dekat lagi dengannya. Terlalu munafik kalau Kania bilang tidak memiliki rasa sedikitpun dengan majikannya itu. Enam tahun hidup bersama, dari membuka mata hingga menutup selalu menjumpai wajah pria itu. Apa iya ia tidak jatuh cinta pada sosok Emil? Tapi, keterlaluan juga jika ia memanfaatkan kedekatannya ini untuk keegoisannya sendiri?
Kania menjauh dari sofa, kembali ke posisi semula, melanjutkan sarapan. Di setiap kunyahan yang ia ciptakan, pandangannya tak lepas dari sosok Emil yang sedang terlelap. Kenapa aku baru mengakui kalau pria dewasa itu sangat tampan? Atau ...
Sebuah lemparan kertas berbentuk bola mendarat di kepala Kania. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Sheva, cara unik yang dipakai untuk memanggil Kania.
"Sudah selesai menggambarnya?" tanya Kania, kini seperti tersadar dari dunia kehaluan yang ingin memiliki sosok Emil. Tiba di samping brankar Sheva, ia mengamati hasil gambar Sheva.
Seperti halnya anak kecil lain, bocah itu suka sekali menggambar dirinya yang kecil diapit oleh dua orang dewasa yang berlawanan jenis. "Bagus!" Puji Kania, sembari duduk di samping Sheva.
"Coba deh Sheva itu ... Sekali-kali melukis foto Nia!" perintahnya.
Sheva mengangguk, lalu meminta Kania untuk duduk di kursi. Supaya ia bisa menggambar wajahnya.
Tidak tanggung-tanggung Kania bahkan menampilkan wajah secantik yang ia bisa. Supaya Sheva lebih mudah menggambar dirinya.
Berulangkali Sheva menatapnya, berulangkali pula bocah itu tertawa sambil memperlihatkan giginya yang besar-besar di bagian tengah.
Dan detik berganti menit ... Ia kini bisa melihat goresan tangan Sheva. Bukan wajah yang mirip dirinya, melainkan sosok malaikat yang menggunakan mahkota dan kedua sayapnya. Wanita itu berdiri di samping gambar wanita yang tadi digambar Sheva.
__ADS_1
Kania terus memerhatikan Sheva yang menulis sesuatu di sana.
"You are my angel."