
Mobil yang dikendarai Emil masih melaju pelan mengarah ke rumah pak Aiman. Melewati jalanan bebatuan yang ada di dusun Siluman. Pikirannya masih melayang dengan pemilik warna suara seorang wanita yang tadi ditemui. Sangat tidak asing, hampir sama dengan warna suara mendiang istrinya. Itulah kenapa dia sempat tercenung saat mendengar jawaban wanita itu.
“Enggak mungkin, kan? bisa saja memang warna suaranya sama.” Emil berusaha memupus tentang suara wanita itu. Gundukan tanah yang setiap bulan dikunjungi adalah bukti jika istrinya sudah tenang di alam kubur.
Emil menoleh ke sisi kanan, saat menemukan keberadaan mobil pak Aiman yang terparkir di tanah lapang. Pria itu pelan-pelan menginjak pedal rem mobilnya.
Sejak pak Aiman meminta izin untuk mengejar gadis bernama Ika, pria itu tak lagi masuk ke warung. Beliau memberitahu Emil, mendadak adiknya telepon, memintanya untuk segera pulang. Dan pak Aiman, menghubunginya, menjelaskan tentang keberadaan rumahnya.
Namun tetap saja Emil bingung, oleh karena itu ia bertanya pada wanita pembawa gas elpiji tadi, karena sepanjang jalan ia tidak menemukan seorang pun yang bisa ditanyai.
“Maaf ya, Mas Emil … aduh, adik saya memang sukanya rewel padahal sudah besar.” Pak Aiman merasa tak enak hati. “Monggo, masuk! istirahat dulu, pasti capek!” pak Aiman berjalan mendahului Emil, meminta pria itu untuk mengikutinya. Mereka berjalan menuju rumah samping, yang sepertinya sudah lama tidak terpakai.
“Ini rumah saya, tapi nggak saya tempati, saya lebih memilih tinggal di sebelah bareng sama ibu, sepi Mas belum ada istri.” Pak Aiman menjelaskan. “Tenang saja, Mas Emil setiap hari rumah ini selalu dibersihkan sama ibu saya kok,” sambungnya.
“Baik, Pak.”
“Istirahat dulu, nanti agak sorean saja kita ke kebun,” ucap pak Aiman. Dia kemudian berlalu, membiarkan Emil beristirahat.
Baru saja Emil menutup pintu, ponsel di saku celananya berdering nyaring. Ia segera menerima panggilan dari Sheva. “Hallo, kenapa?”
“Papa pulang kapan?”
Emil meringis mendengar pertanyaan putrnya. “Kenapa memangnya?”
“Sheva kesepian, Pah.”
Emil terkekeh pelan. “Ya sudah main ke rumah Airin ya, biar papa telepon Kania suruh jemput kamu.”
“Mau sama papa saja. Emang nggak bisa Sheva nyusul ke tempat papa? Kalau dari peta, yang Sheva lihat. Solo ke Purwodadi itu dekat cuma dua jam lebih dikit!”
“Sheva ….” Emil berusaha memanggil putranya dengan nada lembut, meminta perhatian.
“Jadi enggak boleh?” tebak Sheva, suaranya mulai lemah.
“Siapa yang nganterin kamu, Sayang ….”
“Pak Dhe. Lagian besok juga Sheva sudah libur, kan? Sheva juga nggak pernah minta liburan bareng papa.”
__ADS_1
“Masalahnya, papa di sini bukan liburan Sheva. Papa di sini itu kerja, buat makan kita berdua!” jelas Emil dengan suara kasar.
“Kerja terus! Kapan anaknya diperhatiin! Udah nggak ada Ibun, papa sibuk sama kerjaan! nggak pernah perhatian sama Sheva! Kalau Sheva mati sebelum papa sukses sesuai takaran papa, emang nggak menyesal? Coba dulu papa mau nikah sama Kania. Pasti dia enggak akan pergi dari rumah, Sheva juga nggak kesepian!” dumel Sheva, marah-marah pada Emil lewat telepon.
Emil yang mendengar keluhan Sheva hanya bisa memejamkan mata. Dia merasa bersalah karena mengabaikan putranya. Dia menyadari jika sikapnya ini salah. Tapi hanya dengan cara ini dia bisa melupakan sosok Chika.
“Ya, sudah. Kamu siap-siap, nanti papa telepon pak Dhe suruh ngantar kamu ke Purwodadi. Bawa baju ganti jangan lupa!” Emil mengalah, dia mengizinkan Sheva untuk menyusulnya.
“Oke terima kasih papa!”
Emil bisa mendengar suara riang dari seberang telepon. Dia hanya bisa membuang napas kasar, terpaksa menunda untuk mengecek kayu jati di kebun karena mendadak Sheva ingin menyusulnya.
Lima tahun ini, Emil bekerja keras untuk menghidupkan lagi produksi kayu jati-nya. Kini bukan lagi jati belanda bahan utama yang digunakan. Emil mulai berani, mengambil permintaan pelanggan yang meminta bahan kayu jati, mahoni, akasia, sengon dan sebagainya. Harga juga menyesuaikan, dari yang di bawah satu juta hingga puluhan juta.
Itu semua berkat teman lamanya yang ikut membantu mempromosikan barang yang diproduksi. Sekarang, bukan hanya dari Jawa tengah yang datang untuk memesan. Berulangkali dia mendapat pesanan dari Jakarta dalam jumlah yang lumayan banyak.
Kini bukan lagi ruko yang dia gunakan untuk galeri. Emil sudah berhasil membeli tempat yang nyaman untuk memamerkan barang produksinya. Pembeli pun tak pernah sepi, perputaran uangnya berjalan lancar.
Kedatangan Sheva ke Purwodadi tentu akan membuatnya semakin repot. Anak kecil itu tidak bisa diam jika ikut meninjau kayu. Selalu ikut menibrung saat dia sedang mengobrol dengan pemilik kebun. Seolah mengerti dengan barang yang akan dibeli.
Sebelum Emil merebahkan tubuhnya di kursi tamu, dia lebih dulu mengirim pesan kepada pria yang disebut Pak Dhe. Dia adalah sopir taksi yang diminta Emil untuk mengantar Sheva ke sekolah, semenjak kania pindah ke rumah suaminya. Setelah mendapat jawaban dari pak Dhe, Emil mulai memejamkan mata. Berusaha mengumpulkan tenaga sebelum nanti Sheva datang menyusulnya.
Emil terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu. Dia pikir yang datang saat ini adalah Sheva. Tapi setelah menyadari jika Sheva akan menunggunya di lampu merah, ia pun lekas beranjak dari posisi tidurnya.
“Mas Emil, jadi ke kebun sekarang?” tanya pak Aiman saat pintu sudah terbuka lebar.
Emil mengusap wajahnya, lalu menatap ke arah arloji yang melingar di tangannya. Sebentar lagi Sheva akan datang. Tidak mungkin dia pergi sekarang. “Perjalananya jauh nggak, Pak?” tanya Emil.
“Lumayan sih Mas. Ada mungkin satu jam.”
“Ow, kalau besok pagi aja gimana, Pak? Kebetulan anak saya mau menyusul, dan saya harus menjemputnya di lampu merah situ.”
“Ow … ya, sudah tidak apa-apa. Lagian cuaca kebetulan juga mau hujan. Jadi, lebih baik besok pagi saja.” Pak Aiman tersenyum tipis, dia merasa lega karena sebenarnya juga ada keperluan lain.
Emil menganggukan kepala menyetujui saran dari pak Aiman. Setelah pria itu berlalu, Emil segera bersiap-siap untuk menjemput Sheva. Kasihan kalau harus meminta pak Dhe mengantarnya langsung ke tempat pak Aiman, karena akses jalanan tidak memungkinkan dilewati mobil pak Dhe.
Selesai mandi, Emil lekas melajukan mobilnya menuju tempat yang dijanjikan. Ketika di perjalanan, Sheva sudah berulangkali menghubunginya. Mengatakan pada Emil jika dia sudah menunggu di dekat lampu merah.
__ADS_1
Tiga puluh menit mengemudikan mobilnya, akhirnya Emil bisa mendapati Sheva berjongkok di samping mobil, menunggunya datang.
“Papa lama banget!” keluh Sheva ketika Emil keluar dari mobil.
“Kan, mandi dulu!” sahut Emil lalu tersenyum pada pria yang berdiri di samping Sheva. “Pak Dhe bisa pulang langsung. Kasihan kalau harus menunggu lagi,” kata Emil seraya memberikan amplop pada pria yang tadi mengantar Sheva.
“Iya, Mas. Sama mau pesan, tadi Dik Sheva belum makan, di rumah kata si Mbok juga nggak mau makan, di jalan sudah saya tawari berulangkali dia nggak mau makan juga. Kasihan perutnya kosong.” Pak Dhe melapor, membuat Emil menatap kesal ke arah Sheva.
“Kenapa nggak mau makan?”
“Nggak enak makan sendirian.” Sheva menjawab dengan bibir yang sudah manyun.
“Ya sudah nanti papa masakin telur dadar aja.” Emil tersenyum simpul. Sambil mengacak rambut Sheva.
“Ya, sudah saya permisi ya, Mas Emil.” Pak Dhe berpamitan karena hari juga sudah sore.
“Iya, Pak Dhe terima kasih.” Setelah melihat mobil pak Dhe benar-benar pergi, Emil lekas meminta Sheva untuk masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan Emil tak menghentikan mobilnya di restoran ataupim warung makan. Dia ingin cepat-cepat tiba di rumah, membulatkan tekadnya untuk membuatkan Sheva telur dadar.
“Papa beneran mau ngasih aku telur dadar?” tanya Sheva berusaha memecah keheningan.
“Iya, emang kenapa?”
“Nggak ada gizinya! Aku sudah nggak butuh protein lagi hari ini. Tadi pagi sudah direbusin telur ayam kampung sama mbok.”
“Ya, enggak papa, adanya telur dadar mau gimana lagi.” dalam hati Emil berusaha berpikir keras, sepertinya di rumah pak Aiman tidak ada kompor, apalagi telur. Bisa gawat kalau di rumah itu tidak ada apapun. Masak iya dia harus merepotkan pria itu lagi!
Hingga saat hampir tiba di rumah pak Aiman, Emil memutuskan untuk membelokan mobilnya ke warung makan yang tadi siang sempat dia singgahi.
“Makan di sini, ya!” kata Emil setelah mobilnya berhenti sempurna di samping warung makan.
“Apanya yang mau dimakan, Papa? Emang Papa enggak lihat kalau pintu warungnya sudah ditutup, sisa pintu samping tu!” tunjuk Sheva.
Emil menggaruk kulit kepalanya. Ternyata Sheva lebih pintar darinya. Tapi dia malu untuk mengakui itu. “Buka itu, tunggu ya … yang penting kamu turun dulu, nanti papa bilang ke—
Emil mendongak berusaha mencari nama pemilik warung. “ke bu Jamal,” sambungnya kemudian.
__ADS_1
“Terserah papa, deh! Kenapa tadi nggak makan di dekat lampu merah saja, di sana ada warung bakso.” Sheva turun dari mobil seraya menggerutu tak jelas. Sedangkan Emil sudah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar, berusaha memanggil penjual warung makan.