Begin Again

Begin Again
Tempo Pembayaran


__ADS_3

“Pak Emil, ada tamu dari Karanganyar katanya mau bertemu dengan Bapak.” Seorang pria memberitahu Emil melalui sambungan telepon.


Emil tidak langsung merespon, ia justru sibuk memandangi Kania yang sedang membaca mading di depan ruang UGD. Untuk saat ini, ia tidak bisa meninggalkan Sheva. Putranya akan gelisah kalau tidak melihatnya dalam satu ruangan.


“Pak, tolong sampaikan maaf saya kepada pak Jarod. Hari ini saya tidak bisa menemuinya. Katakan padanya kalau anak saya sedang sakit. Kalau dia masih tidak percaya, suruh datang ke rumah sakit yang ada di daerah Purwosari.” Emil menjelaskan situasinya saat ini.


“Tapi, Pak ... beliau bisa membatalkan pengambilan meja untuk restorannya.” Pak Tedi berusaha memberitahu, konsekuensi yang akan diterima jika Emil membatalkan pertemuannya dengan pak Jarod.


“Tidak papa, Pak. Kalau dia membatalkan pesanannya, berarti sudah takdirnya ... itu bukan rezeki saya. Besok-besok lagi, pasti akan ada gantinya. Yang pasti untuk saat ini saya tidak bisa datang ke ruko untuk menemui beliau.” Emil terlihat lebih tenang saat mengatakan kalimat itu pada pak Tedi.


“Baiklah, Pak Emil. Saya akan memberitahu beliau.”


Setelah berpamitan, Emil mematikan sambungan teleponnya. Kesehatan Sheva lebih penting dari apapun. Meski ia sendiri juga paham, kondisi keuangannya saat ini sedang tidak baik-baik saja, karena uang tabungannya sudah dipakai untuk membeli bahan baku Jati belanda.


Kini giliran Emil untuk bisa mengolah dan memasarkan produknya lewat pasar online. Mungkin produk yang akan dipasarkan tidak sebesar lemari atau ranjang dan sejenisnya. Dia akan memperkecil produksi barang di gelerinya, yang lebih hemat budget untuk kalangan menengah, serta lebih banyak dimanfaatkan oleh ibu rumah tangga. Misal; rak sepatu, tempat tisu, hiasan dinding atau sambil jalan ia akan membuat spatula dan sejenisnya.


Suara pintu ruang UGD yang terbuka membuat Emil tersadar dari lamunan. Ia lekas beranjak dari posisi duduk, menatap sejenak ke arah pria yang baru saja keluar.


“Bapak orang tua pasien anak kecil di dalam?” tanya dokter bernama Tomi. Emil segera mengangguk, sebagai jawaban. “Saya baru saja memasukan obat lewat du*bur. Panasnya tinggi sekali. Semoga setelah ini bisa segera reda. Untuk sementara kita observasi dulu. Kita lihat beberapa jam ke depan, kalau tidak ada re—


“Dok, pasien muntah!”


Ucapan dokter itu terputus saat seorang perawat berteriak dari dalam ruangan. “Maaf, Pak tunggu sebentar,” pamit dokter Tomi. Dia kembali masuk, memeriksa lebih lanjut kondisi Sheva.


Emil yang ingin tahu kondisi Sheva memaksakan diri untuk masuk ke ruang UGD. Saat tiba di bilik yang ditempati Sheva, tubuh anak itu terlihat lemas, air matanya berderai saat melihatnya hadir. Sheva menatapnya dalam, dengan tatapan sayu seperti memohon ke-iba’annya. Emil berusaha kuat, meski rasanya remuk redam melihat kondisi Sheva saat ini.

__ADS_1


“Siapa nama putra, Bapak? Dari tadi saya bertanya, dia tidak mau menjawab.” dokter Tomi bertanya sambil memeriksa bagian perut Sheva.


“Sheva.”


“Sheva, katakan bagian mana yang sakit, biar dokter periksa?!” Dokter Tomi berbicara selembut mungkin. Tapi ia kembali mengernyit saat tidak mendapat jawaban apapun dari Sheva.


“Sheva memiliki gangguan berbicara, tapi dia bisa mendengar apa yang kita katakan. Jika dibutuhkan kita bisa tes langsung saja! tanpa harus menanyakan dulu bagian mana yang sakit.” Emil menjawab sambil tersenyum ke arah Sheva. Berusaha menghibur putranya.


“Maaf, Pak … saya tidak tahu.”


“Santai saja!” Emil mengambil duduk di tepi ranjang. Dia menggenggam tangan mungil Sheva.


“Kalau begitu kita bisa tes darah dulu, Pak! Untuk hari ini biarkan Sheva rawat inap dulu.”


“Iya.”


“Sheva, di sini sama kak Nia dulu ya, papa mau urus semuanya oke, Boy!” Melihat putranya mengangguk lemah, Emil lantas meninggalkan ruang UGD. Ia menitipkan Sheva pada Kania, karena hendak mengurus administrasi.


Saat kakinya melangkah menuju meja administrasi. Emil ingat satu hal kalau saldo di ATM nya tidak mungkin cukup untuk membiayai perawatan di rumah sakit ini. Ia pun berniat meminjam uang pada adiknya, untuk berjaga-jaga siapa tahu kondisi Sheva membutuhkan perawatan yang lebih intensif.


Dengan berat hati jemari Emil menekan nama adiknya di layar. Panggilan pertamanya tidak dijawab oleh Elin. Ia terus mengulanginya hingga panggilan ke lima barulah terdengar suara Elin.


“Hallo.” Wanita di seberang menjawab dengan nada malas.


“Lagi di mana?” tanya Emil.

__ADS_1


“Kenapa sih? Aku lagi jalan-jalan sama teman-temanku ke Singapura.”


Emil pikir ini lebih baik ketimbang Elin menjelaskan kalau dia sedang berada di rumah. Karena kemungkinan besar kedua orang tuanya akan tahu tentang masalahnya saat ini.


“Lin, kirim uang ke kakak 10 juta dulu ya! Kakak butuh uang buat biaya rumah sakit Sheva. Kakak janji bulan depan kakak kembalikan,” minta Emil langsung.


Suasana mendadak lenggang. Elin tidak langsung merespon ucapan sang kakak.


“Elin, apa kamu mendengarkan kakak?” tanya Emil sekali lagi, memastikan kalau panggilannya masih tersambung. “Aku butuh 10 juta buat jaga-jaga. Sheva masuk rumah sakit hari ini dan butuh biaya. Aku kirim nomor rekeningnya sekarang ya, kakak tunggu.”


“Aku nggak ada. Uangku sudah habis buat belanja aku dan suamiku.”


Emil membuang napas lelah, cuma dia saudara satu-satunya. “Kalau begitu aku pinjam uang kantor. Tapi jangan bocorkan ke siapapun, bulan depan aku kembalikan. Tolong kamu hubungi pak Hari ya!”


“Kenapa kakak nggak coba bilang sendiri ke pak Hari?! Jangan bawa-bawa aku!” balas wanita di seberang panggilan, suaranya meledak seperti orang yang tengah meluapkan emosinya.


“Elin, bulan depan kakak ganti! JANJI! Kamu kan tahu hubungan kakak dan papa sedang tidak baik! Kalau kak—


“Kalau tahu begitu, kenapa harus pakai uang kantor?!" sela Elin. "Udah deh! kakak cari pinjaman lain saja. Jangan bawa-bawa aku!" ucapnya dengan intonasi tinggi. "Aku nggak peduli entah itu untuk Sheva atau buat makan kalian! lagian, kakak juga aneh! anak autis gitu masih aja dipelihara, kasih ke ibunya sana! biar nggak jadi beban keluarga!”


Emil memejamkan mata sembari mengontrol napas, berusaha menahan emosinya. “Aku ingetin kamu ya, Lin! Kamu boleh kok menghina kakak, boleh juga menghina Chika. Tapi jangan merendahkan Sheva! Kamu belum pernah jadi orang tua! Semoga Tuhan segera mengabulkan doamu, biar kamu tahu ... rasanya sakit hati saat anakmu dihina-hina!” Emil kemudian menutup panggilannya. Menyimpan ponselnya ke dalam saku. Dadanya terasa riuh, napasnya tercekat di tenggorokan. Emil berusaha memikirkan cara lain selain meminta bantuan pada keluarganya.


Sesaat kemudian Emil berjalan menghampiri meja administrasi. “Apa saya bisa bicara dengan direksi keuangan di sini, Mbak?”


“Maaf, Pak ada apa ya?” tanya perawat itu sopan.

__ADS_1


“Anak saya masuk UGD dan butuh perawatan lebih lanjut. Saya mau minta keringanan untuk tempo pembayaran. Jadi bisakah saya bertemu dengan beliau.” Kalau di Jakarta mungkin Emil akan gengsi. Tapi ini di Solo, namanya tak lebih dari sehelai daun yang jatuh di pinggir jalan.


“Biar saya yang bayar!” suara itu membuat Emil menoleh ke sumbar suara. Seorang pria tampan dan gagah berdiri di balik tubuhnya.


__ADS_2