Begin Again

Begin Again
Kantin


__ADS_3

Emil bisa melihat dengan jelas kalau air mata Sheva meleleh keluar melalui sudut matanya. Mungkin, kalau putranya itu bisa berbicara akan melakukan protes keras atas sikapnya dan Chika.


Emil sengaja, membiarkan Sheva bersedih, meluapkan tangisnya.


“Sheva ….”


Suara Chika lebih dulu terdengar. Wanita itu memeluk erat tubuh Sheva, berusaha menenangkan. “Ini tidak seperti yang Sheva lihat. Papa sama Mama tadi sedang ….”


“Jangan mengajari anakku berbohong!” Emil mengambil alih tubuh Sheva dari pelukan Chika. Memperingati Chika untuk tidak dekat-dekat lagi dengan putranya.


Tangan Chika terasa kosong. Ia hanya bisa membeku sambil mengamati kedua tangannya.


“Aku tidak mau, kebohongan yang kamu buat, menciptakan harapan palsu untuk Sheva! Kenapa kamu nggak langsung jujur, kalau kamu hanya datang sesaat. Kehadiranmu di sini hanya sementara. Karena sebentar lagi kamu akan pergi lagi meninggalkan aku dan Sheva!” Emil terlihat marah sekali dengan Sheva. Pria itu seakan tidak peduli kalau pertengkarannya bisa berakibat buruk dengan mental Sheva.


Chika sendiri bingung harus menjawab apa. Karena yang dikatakan Emil adalah sebuah kebenaran. Dia harus tetap melanjutkan pernikahannya bersama Gangga dan meninggalkan mereka berdua. Ia menatap Emil lekat, “Setidaknya izinkan aku untuk tetap bersama Sheva sebelum waktunya tiba.” Chika berusaha membujuk Emil supaya mengizinkannya tetap tinggal, untuk mengurusi Sheva.


“Buat apa? Kamu nggak ngerti Chika!” sentak Emil menolak keinginan Chika. Dia tidak ingin Sheva semakin terpuruk dengan kehadiran Chika yang sesaat. “Kamu sudah menentukan pilihanmu. Jadi, kamu juga harus menerima konsekuensinya,” sembur Emil. “Biarkan kami juga bahagia di sini tanpa berharap lagi kalau kamu akan pulang. Pergilah! demi kebahagiaanku dan juga Sheva!” suara Emil melemah di ujung kalimat.


Pandangan pria itu, kini tertuju ke arah Sheva. Mengamati kelopak mata Sheva yang masih saja basah. Putranya semakin meronta, ingin menahan Chika yang mulai berkemas akan pergi. Emil sekuat tenaga menahan tubuh Sheva supaya tidak mengejar Chika. Ia tidak ingin Sheva pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Sama hal nya dengan Sheva, Chika keluar dengan perasaan hancur. Ia ingin sekali mementingkan kebahagiannya sendiri dengan memilih mereka berdua. Tapi dia juga memiliki tanggung jawab dengan Airin dan Gangga.


Chika terus melangkah, mencari pintu keluar rumah sakit. Berulangkali tangannya terangkat untuk menyeka air matanya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti saat mendengar suara Kania menyerukan namanya.


“Bu Chika masih di sini?” Kania berusaha mencaritahu. Jika benar begitu, berarti bu Chika di rumah sakit ini cukup lama. Atau wanita itu sengaja menunggunya supaya Sheva ada yang menjaga? ah, seharusnya dia tidak tidur dulu tadi? Kania membatin sembari menatap Chika lekat.


“Nia, bisa kita bicara sebentar!” ajak Chika, mengabaikan pertanyaan Kania. Ia justru menuntun Kania ke bangku kosong yang tadi sempat ia lewati.


“Bu, gimana kalau ngobrolnya di kantin saja, itu ada kantin kok di ujung sana!” tawar Kania menunjuk ke arah tulisan 'kantin' yang terpajang di dinding.


“Boleh,” balas Chika. Ia berjalan dengan langkah cepat, meminta Kania untuk mengikutinya.


“Kamu asli mana, Nia?” tanya Chika, basa-basi terlebih dahulu sebelum memasuki pembicaraan inti.


“Saya?” Kania berusaha memastikan pertanyaan Chika. “Saya asli Purwakarta, Bu. Heheheh ….” jawabnya ramah.


Chika ikut tersenyum tipis melihat reaksi Kania. Ia menarik sedikit kursinya mendekat ke arah meja yang menghalangi mereka berdua. “Udah lama, kerja sama pak Emil?” tanya Chika lagi.


“Sejak Sheva usia satu minggu, Bu.”

__ADS_1


Chika merasa minder saat berbicara dengan Kania. Pantas saja wanita itu tahu banyak tentang Emil. Bahkan ukuran pakaian da-lamnya pun ia hapal. Terlebih soal Sheva, mungkin wanita itu sudah hapal di luar kepala.


“Sudah lama ya? Kenapa kamu nggak menikah dengan pak Emil? Kamu sepertinya sudah begitu dekat juga dengan Sheva, pasti akan lebih mudah menjadi ibu pengganti buat mamanya, kan?” Chika hanya berharap kalau Emil memiliki keluarga baru, dia juga akan lebih mudah membawa pergi Sheva.


Kania justru terbahak mendengar saran Chika, lalu mengambil alih teh jeruk dari nampan yang baru saja diantar pelayan. “Ibu pikir menikah itu mudah? Melihat pak Emil terus-menerus meratapi kepergian istrinya. Jujur saya jadi takut untuk menikah. Pasti berat jadi pak Emil. Bayangkan, saja … gimana rasanya kalau kita ditinggalkan saat sedang cinta banget sama seseorang. Pasti sakit banget, kan, Bu?!” ungkap Kania, dia tidak tahu menahu kalau Chika adalah mantan istri majikannya.


“Kamu tahu pak Emil melakukan itu? atau selama ini selain kamu mengasuh Sheva kamu juga menjadi wanita peng—”


"Enak saja! saya masih suci, Bu!" potong Kania. Lalu menutup bibir Chika dengan telunjuknya. “Jangan dibocorkan ya? Pak Emil selalu mengirimkan pesan, kadang juga mengirimkan pesan suara untuk istrinya. Tapi sampai saat ini, wanita itu tidak pernah membaca maupun membalas pesan pak Emil. Entah di mana wanita itu? Gila mungkin, ya? atau sudah mati. Nggak punya hati memang!” Kania menggerutu, seolah wanita di depannya ini tidak tahu apa-apa soal istri dari Emil.


“Pak Emil mengirim pesan untuk istrinya?”


Kania mengangguk, “Iya. Dulu setiap malam. Tapi sekarang nggak lagi. Kalau pak Emil kaya gitu terus mana bisa move on. Dia dirundung rasa bersalah dan penyesalan. Padahal dia sendiri tidak tahu harus mencari istrinya ke mana? Pokoknya kisah cinta pak Emil membuat saya takut nikah, rumit.”


“Kenapa kamu nggak coba buat menyembuhkan lukanya, dan membuatnya move on?” Chika mulai menyarankan ide yang terlintas di kepalanya.


Kania menggeleng, “nggak semudah itu, Bu. kalaupun pak Emil menikah kemungkinan kecil istri barunya bisa mendapatkan ruang di hati pak Emil. Menurutnya Sheva kini nomor satu! Kebahagiaan Sheva paling utama. Dari sorot mata pak Emil, dia masih mengharapkan istrinya kembali.”


Kini Chika semakin bimbang, di sini lain ia masih mencintai pria itu dan ingin kembali bersama. Tapi banyak sekali rintangan yang menghalangi. Tentu kalau dia setuju kembali bersama Emil, berarti dia harus kembali berhadapan dengan ibu dari Emil. Wanita yang sudah memberinya pilihan hari itu.

__ADS_1


“Nia, sepertinya saya harus pergi. A—ku lupa kalau ada janji!” pamit Chika, mendadak ingin segera pulang dan membuka ponsel lamanya. Dia memang selalu membayar tagihan kartu pasca bayarnya tapi dia tidak pernah mengaktifkan ponselnya itu. Karena khawatir Emil akan bisa menemukannya. Tapi sekarang bahkan di saat ponsel itu masih mati. Takdir kembali membuatnya bertemu dengan Emil. Pria itu berhasil menemukannya.


__ADS_2