Begin Again

Begin Again
Chika, Sorry ....


__ADS_3

...Aku Kembali 😆...


...Selamat Membaca...


“Dan kamu akan menikah dengan Gangga?” Emil bertanya dengan suara ketus, “Kamu nggak mungkin main-main dengan janjimu yang akan kembali pada kami kan, Ibun?” Emil menatap Chika curiga. Ada rasa takut, kalau ternyata kehadiran Chika hanyalah prank saja. Dia tidak mau ketika sudah berharap banyak Chika justru pergi jauh dari kehidupannya dan Sheva.


Chika diam, menatap ke arah aliran air hujan yang turun dari atap genteng. “Boleh aku meminta waktu untuk menyelesaikan masalahku sendiri?”


“Jangan melakukan hal bodoh. Sudah kubilang kamu punya aku yang bisa membantumu, Ibun ... kamu tidak sendiri!”


“Kak, kali ini kamu percaya padaku!” Chika sendiri kekeh dengan keputusannya.


“Aku akan percaya padamu kalau kamu mau menceritakan apa rencanamu.”


Menyebalkan sekali pria ini?! tersenyum kecut ke arah Emil. “Kali ini saja percaya sama aku!” bujuk Chika.


“Enggak!” Emil menolak tegas permintaan Chika.


“Kak Emil ….”


“Ibun …?” Emil menirukan nada bicara yang dipakai Chika.


“Bisa enggak sih, serius dikit? Aku cuma minta waktu, buat nunjukin ke kamu, ke orang-orang di luar sana. Kalau aku juga punya pilihan, kalau aku juga bebas menentukan jalan hidupku!”


“Aku ragu, CHIKA! aku ragu, kalau solusi yang kamu pilih bukanlah bersamaku dan Sheva. Tapi bersama mereka!” tegas Emil. Dia sengaja mencurahkan ketakutannya saat ini berharap Chika juga bisa mengerti posisinya.


“Lalu ..., kamu mau bukti apa supaya bisa percaya sama aku, Kak?”


“Bukti?” Emil tersenyum smirk. “Kamu yakin memberikan pilihan itu padaku?” senyumnya semakin jahat, senyum mesum yang sangat pas untuk cuaca malam ini.


“Setengah yakin, demi kamu bisa percaya sama aku, katakan kak Emil perlu bukti apa?!” Chika berkata pelan.

__ADS_1


Emil yang mendengar semakin merapatkan tubuhnya ke arah Chika, terus menggeser ketika Chika sengaja membentangkan jarak. “Ibun ... aku belum pernah mengucapkan talak padamu. Kalau pun dia ingin menikahimu, Si Gangga harus berhadapan denganku!” tegas Emil. "jadi kalian tidak bisa menikah!"


Chika mengingat-ingat, lagi. Memang benar yang dikatakan Emil. Pria itu belum pernah menjatuhkan talak padanya. “Terus ... kalau begitu? kamu kan seharusnya tahu kalau aku nggak bakalan lari dari kamu!” kata Chika menjelaskan kepada Emil. Ia tidak ingin membuka rencananya di depan Emil.


“Iya, tapi aku juga baru menyadari, kalau kita juga nggak dosa untuk berusaha memberikan adik untuk Sheva.”


Chika langsung menampar pelan pipi Emil. Dia beranjak dari kursi, menghindari tatapan emil yang terlihat sangat bergairah. “Pulang sana! kasihan Sheva cuma sama Kania!"


Emil ikut beranjak dari kursi kayu, mengikuti langkah kaki Chika yang berjalan menuju dapur. Sebenarnya dia sendiri bingung apa yang akan dilakukan Chika di dapur? Wanita itu sudah makan, masa iya secepat itu lapar lagi? pikir Emil.


"Ibun ... kamar sebelah sana! mau aku gendong! Kamu mau apa ke dapur? tadi kan, udah makan?"


"Jangan macam-macam, ya!" ancam Chika, mendorong tubuh Emil supaya menjauh dari posisinya saat ini. Ia merasa tidak aman saat berdekatan dengan pria itu.


Emil yang mendapat perlakuan seperti itu justru terpingkal. Walaupun dia menginginkan Chika, dia tidak akan tega kalau harus melakukannya tanpa izin sang pemilik lubang surgawi itu.


"Peluk erat saja boleh nggak?" minta Emil. "Janji setelah itu aku akan pergi dari sini!" sambungnya, lagi sembari merentangkan ke dua tangannya.


Emil membalas dengan kecupan ringan di bibir Chika, lalu menatap wajah wanita itu dalam-dalam. Tak ada kalimat yang ke luar dari bibirnya, hanya sepasang mata mereka saling beradu pandang. "kau yakin mengizinkanku pergi dari tempat ini?"


Chika mengangguk mantap, enggan menahan Emil untuk tetap berada di rumahnya.


"Hujan di luar masih deras. Kamu tega membiarkan aku sendiri dengan hujan?"


"Kamu naik mobil, Kak! jangan banyak alasan!" sebenarnya selain kehadiran Emil yang membuatnya was-was, perasaanya juga nggak nyaman. Ia teringat tentang Kania yang saat ini menjaga putranya. Gimana kalau wanita itu berbuat nekad karena cemburu Emil ada bersamanya?


"Oke, aku akan kembali ke rumah sakit!" ucap Emil, kemudian mengurai pelukannya. Setelah berpamitan cukup lama dengan Chika. Emil lantas pergi meninggalkan rumah itu. Percuma, dia berada di rumah Chika kalau ujung-ujungnya wanita itu terus menolak kehadirannya.


Belum juga Chika masuk ke dalam kamar. Suara deru mobil kembali terdengar, sedikit samar karena teredam oleh suara air hujan yang jatuh ke genteng. Chika kembali mendekat ke arah pintu. Ia ingin bertanya pada Emil, kenapa kembali lagi ke rumahnya?


Namun, senyum yang tadi disiapkan untuk menyambut pria itu memudar saat melihat sosok di depannya. Pria tegap dengan tubuh atletis, kini memakai baju yang sudah basah kuyub karena kehujanan. "Mas Gangga kok di sini?" tanya Chika tanpa memerintahkan Gangga untuk masuk terlebih dahulu, membiarkan pria itu tetap berada di balik pintu.

__ADS_1


"Tadi aku kebetulan lewat!" Gangga menjelaskan singkat, kemudian berjalan memasuki rumah tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh tuan rumah. Ia menghentikan langkahnya saat mencium aroma parfum dari Emil. Dia tahu, tapi tetap membiarkan Chika sendiri yang menceritakan padanya. Dia enggan bertanya terlebih dahulu.


Nggak mungkin cuma kebetulan, pasti ini disengaja. pikir Chika, karena selama ini yang dia lihat adalah Gangga yang selalu serius dalam setiap melakukan sesuatu.


"Seharian ini kamu ke mana? aku telponin kamu tapi enggak diangkat."


Chika diam sejenak, dia tahu Gangga meneleponnya


tapi dia sengaja tidak mengangkat panggilan itu. "Sheva sakit, jadi aku harus menemaninya."


"Sheva atau papanya?"


Chika tersenyum masam. "Duduklah dulu!" sebenarnya Chika khawatir dengan kedatangan Gangga di jam hampir tengah malam begini. Dia khawatir tetangga tiba -tiba datang ke rumahnya. "Mau kopi atau teh?" tawar Chika, sembari berjalan ke arah dapur, tangannya membawa cangkir bekas Emil dan dirinya. Tiba di area dapur, Chika menyalakan kompor untuk merebus air.


"Aku mau teh saja."


Chika mengangguk.


Lima belas berlalu keduanya saling diam, Chika memilih tetap berdiri di dapur menunggu air yang direbus siap. Sedangkan Gangga, dia sedang duduk di kursi yang tadi ditempati Emil. Kepala pria itu mendongak dengan mata yang terpejam rapat. Ia baru membenarkan posisinya saat kembali merasakan kehadiran Chika.


"Minumlah! aku sengaja memberinya potongan lemon."


Gangga mengangguk, "terima kasih," ucapnya sambil meraih cangkir itu dari meja. Ia menyesapnya pelan, berusaha menghangatkan tubuhnya.


"Keringkan tubuhmu duku, Mas!" Chika yang baru saja keluar dari kamar, menyerahkan handuk kepada Gangga. "Sebenarnya Mas habis ngapain? kalau tahu basah pasti ya pulang, kan ... tidak di sini!"


"Chika, sorry ...."


Chika mengerutkan keningnya, heran kenapa pria itu mendadak meminta maaf padanya.


"Kenapa harus meminta maaf?"

__ADS_1


"Aku baru saja menemui Fani."


__ADS_2