Begin Again

Begin Again
Nyari Istri


__ADS_3

Irama jantung Chika berdetak tak beraturan ketika menyadari siapa pemilik punggung kekar yang tadi sempat dilihat. Dia pikir, di sini adalah tempat paling aman untuk bersembunyi dari kepahitan dunia.


Namun kenyataan yang terjadi, kenapa harus kembali melihatnya? punggung yang dulu sering dilihat, kenapa harus hadir lagi di saat dia memulai kehidupan baru?


Chika berusaha mengontrol napasnya yang masih terengah-engah, tangannya masih gemetar. Meskipun pria itu tak menatap atau bahkan menyadari kehadirannya. Tetap saja entah besok atau kapan mereka pasti akan segera bertemu jika tidak segera pindah.


Chika berusaha meyakinkan diri, kalau pria itu hanya sekali datang, besok dia tidak akan mungkin datang lagi. Tubuh Chika mendadak lemas. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika tadi Emil mengetahui keberadaanya.


“Mbak Ika!” seru seseorang dari luar pintu kamar. Dari suaranya terdengar jelas jika itu adalah Rini.


"Ada apa, Mbak Rin?" tanya Chika, sedikit berteriak karena pintu kamar kini ia kunci rapat.


“Mbak, gas ibu habis. Gantiin bentar dong, kebetulan ada rombongan dari Karanganyar datang jadi warung rame lagi!”


Chika tampak berpikir, dia berharap Emil dan pak Aiman sudah berlalu dari warung itu. Tapi, rasanya tidak mungkin karena mereka baru saja datang.


“Mbak Rin, biar aku saja deh yang beli!” ucap Chika.


“Jalannya jauh loh, Mbak.”


Di warung memang tidak ada motor karena kebetulan sedang digunakan oleh para suami wanita itu. Jadi, kalau gas habis, mereka harus berjalan untuk membeli.


Chika yang paham buru-buru mengambil kain untuk menutupi wajahnya. Dia tidak ingin Emil menyadari keberadaanya di sini. Setelah mendapatkan kain itu, ia buru-buru membuka pintu, lalu mengambil uang dari tangan Rini. Mungkin, cara ini lebih baik, dari pada dia harus berada di warung dan bertemu dengan Emil.

__ADS_1


“Bilang sama ibu nanti aku taruh di dekat cucian piring ya, Mbak Rini.”


Rini yang paham dengan sikap Chika hanya bisa menyetujui. Chika sudah berusaha menghindari pak Aiman, tapi pria itu kekeh mengejarnya. Jadi, mungkin Chika was-was akan bertemu lagi. Memang semenakutkan itu sih pak Aiman. Jadi, benar yang dilakukan Chika. Lebih baik menghindari pria semacam itu. Dia tidak tahu, jika yang lebih dihindari Chika justru pria yang tadi datang bersama pak Aiman.


“Ya … santai aja, Mbak!”


Chika buru-buru keluar dari rumah bu Jamal, berjalan ke arah warung kelontong yang letaknya dekat pemberhentian angkot tadi. Dengan kain yang tadi diambil Chika berusaha menutupi wajahnya. Baik pak Aiman atau Emil mereka tidak boleh menyadari jika itu adalah dirinya. Chika kembali melewati jalan setapak yang begitu terjal. Ia melangkah menuju warung untuk membeli gas permintaan bu Jamal.


Setelah urusannya selesai, Chika bergegas kembali ke warung makan bu Jamal sebelum dia bertemu dengan orang yang paling dia hindari. Chika kembali melewati jalan yang sama, karena jalan itu lah satu-satunya akses menuju warung makan tersebut.


Chika terus menundukan kepala, dia tidak berani mendongak untuk sekedar melihat kondisi jalan depan. Hingga sebuah mobil yang tampak begitu asing berhenti di sampingnya. Chika berusaha abai, dia tetap melangkah.


“Mbak, maaf mau tanya? Apa Mbak tahu rumah pak Aiman?” tanya pria itu. Tanpa sopan santun masih saja duduk di dalam mobil dengan kondisi mesin yang masih menyala. Tapi, tunggu suara ini, suara Emil. Dia tidak mungkin lupa, ini benar! Ini suara Emil, menyadari itu Chika buru-buru menunduk, merapatkan lagi kain penutup wajahnya. Dia tidak ingin Emil mengenalinya.


Emil justru terdiam, dia semakin lekat menatap ke arah Chika.


“Saya permisi, Pak.” Chika melanjutkan langkahnya tanpa peduli dengan pria itu. Dia segera mengantar gas elpiji sebelum gas yang digunakan untuk memasak habis.


Tiba di warung makan, Chika buru-buru mengganti gas yang sudah habis. Setelah selesai tiba-tiba saja Mbak Rini menyerahkan sebuah kresek warna putih untuk Chika.


“Apa ini, Mbak?” tanya Chika, heran seraya menatap bungkusan di tangannya.


“Brownies, dari pak Aiman katanya buat mbak Ika. Tahu nggak ini katanya oleh-oleh dari penebas jatinya pak Aiman.”

__ADS_1


Chika diam menatap bungkus brownies itu, ini dari toko bakery ternama di Solo. Dia ingat betul dengan brownies ini. “Mbak Rini sama ibu udah?” tanya Chika.


“Udah. Ini buat mbak Ika kata pak Aiman.” Rini terkekeh, “sepertinya pak Aiman benar-benar cinta sama mbak Ika. Tapi ya terserah mbak ika sih! mau diterima atau di tolak.”


“Jangan ngikutin nitizen yang hanya melihat, Ka!” ibu jamal ikut menimpali. “Paet! Mereka nggak tahu apa yang kita rasakan!”


Chika mengangguk-angguk mendengar ucapan bu Jamal. Tentang rasa bahagia, cinta, rindu, kita tidak bisa mengaturnya, semua datang secara naluriah. Kadang mereka datang tak tepat waktu dan menyebalkan.


“Mbak Ika tahu enggak, temannya pak Aiman tadi. Wajahnya judes banget!” sambung Rini.


“Duda ya gitu, kurang jatah jadi mbesengut ae!” timpal putri kedua bu Jamal.


“Kok kowe ngerti yang wonge dudo? ( kok kamu tahu kalau dia duda?” tanya Bu Jamal.


“Ngertos to Bu, pak Aiman le sanjang kaliyan kulo. Mas Em—mil lagi golek bojo. Lah dudo sopo sing arep? (Tahukah, Bu. Pak Aiman yang bilang ke saya. Mas Em—mil sedang nyari istri. Lah, duda siapa yang mau?” wanita itu berkata penuh antusias, seolah-olah dia akan dijadikan kandidat calon istri.


“Dudo sugeh yo gelem yen aku. Tapi mergone aku wes gadhah garwo jadi yo lewat wae. Leres kan Bu? (Duda kaya aku juga mau. Tapi, karena aku sudah punya belahan jiwa ya sudah lewat saja. Betul, kan, Bu?)” Mbak Rini ikut menimpali.


“Sakarepmu! Asal ora nyolong lanangane wong wedhok liyo.” Bu jamal mengatakan sebuah peringatan untuk kedua putrinya.


“Buat mbak Ika, pripun? (Buat Mbak Ika, gimana?)” Rini menyenggol lengan Chika. “tiange ten mriki tiga hari, Mbak! (Dia di sini tiga hari, Mbak)” Rini semakin gencar menggoda Chika.


Chika tidak merespon lidahnya masih tenggelam dalam kenikmatan sepotong brownies coklat bawaan Emil. Sedangkan pikirannya sedang bekerja memikirkan tempat mana saja yang akan ia gunakan untuk menghindar.

__ADS_1


Seandainya pria itu tahu keberadaannya, apa kah dia akan—Tidak, tidak! Cuma Riella wanita terbaik untuknya bukan aku. pikir Chika, dia masih saja teringat dengan ucapan hari itu. Dan mungkin selamanya tidak akan mampu dia lupakan.


__ADS_2