Begin Again

Begin Again
Keputusan Besar


__ADS_3

Rintik hujan kembali membasahi kota Solo malam ini. Angin malam berhembus kencang masuk melalui celah jendela kaca nako, menggerakkan gorden yang ada di kamar Chika. Udara dingin yang masuk ke kamar semakin menyiksa tubuh Chika. Bibirnya bergetar, dia menggigil.


Sejujurnya dia tidak memikirkan apapun yang membuat kondisinya kian parah. Dia sendiri tidak paham kenapa kondisinya bisa drop seperti ini? Sebelum pertemuannya dengan Emil, dia juga sering begadang tapi keesokan harinya tubuhnya tetap bugar.


Chika mengakhiri pikirannya itu saat dorongan di kantong kemihnya menguat. Meski tubuhnya lemah, Chika harus mendatangi kamar mandi, atau dia akan mengompol di ranjang. Dan kalau Sheva tahu dia akan menjadi bahan tertawaan putranya. Dia tidak ingin itu terjadi.


Dengan sekuat tenaga Chika beranjak dari ranjang. Kakinya berusaha berjalan tertatih keluar kamar seraya menahan kepalanya yang masih terasa begitu berat. Satu tangannya berusaha meraba-raba benda di sekitarnya, mencari tumpuan untuk menopang beban tubuhnya.


Sampai akhirnya ia berhasil membuka pintu kamar mandi. Chika terpegun, saat melihat tetesan air masuk ke kamar mandi. Suara Emil seakan menari-nari di kepalanya, mengingatkan kalau atap kamar mandinya bocor, dan dia menolak bantuan pria itu yang ingin memperbaiki.


Chika buru-buru menyingkirkan bayangan Emil, dia segera menyelesaikan niatnya, lalu kembali masuk kamar.


Namun, untuk melangkahkan kakinya kembali ke kamar rasanya sungguh berat. Ia pun memilih menjatuhkan diri di atas kursi kayu. Chika berusaha keras membuka mata, mungkin karena terlalu lama dia tertidur, kepalanya terasa berat. Ia berusaha terjaga, duduk bersandar di kursi.


Cukup lama Chika hanya duduk diam, seolah mendengarkan rintik hujan yang jatuh ke atap rumah. Sampai tidak lama kemudian ia berjalan ke arah dapur, berusaha mencari minuman untuk sekedar menghangatkan tubuhnya.


Tiba di dapur, saat Chika hendak menyeduh teh, air panas di dalam termosnya habis. Jadi mau tidak mau, dia harus merebus air terlebih dahulu. Chika sengaja hanya mengisi sedikit air ke dalam teko itu. Lalu menyalakan kompornya.


Setelah memastikan semuanya aman, Chika kembali meninggalkan dapur. Teko itu akan berbunyi jika air yang dimasak sudah mendidih, jadi Chika berniat memilih duduk terlebih dahulu sembari menunggu airnya masak.


Di saat kesadaran Chika nyaris sirna, suara dari teko membuat matanya kembali terbuka lebar. Chika terperanjat, buru-buru dia berjalan ke arah dapur. Dia seakan lupa kalau tubuhnya kini sedang tidak baik-baik saja.


Belum juga tiba di area dapur, Chika merasakan dinding rumahnya seperti berputar-putar. Ia berusaha berhenti sejenak, mengusir perasaan berat di kepala. Sayangnya dia kalah, tubuhnya terlalu lemah untuk menahan pusing di kepalanya. Tidak lama kemudian tubuh Chika merosot ke lantai. Ia tidak kuat lagi untuk mematikan api kompor itu. Chika tidak tahu menahu kejadian apa yang menimpanya usai dunianya terasa gelap.


Yang Chika ketahui, saat ia berhasil membuka mata aroma obat terasa begitu kuat menusuk Indra penciumannya. Ia berusaha mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang menemaninya di sini.


Entah siapa yang sudah membawanya datang ke rumah sakit yang jelas untuk saat ini dia bersyukur masih diberi kesempatan untuk kembali bernapas.


Derit pintu yang berbunyi nyaring membuat Chika menoleh ke pintu ruangan. Bibirnya berusaha tersenyum, saat pria itu menatap dingin ke arahnya.


“Kamu tahu mama menyalahkan aku karena sikapmu ini! Dan setelah kamu keluar dari rumah sakit, mama tidak mengizinkanmu tinggal di rumahmu sendirian! Kamu wajib tinggal dengan kami!” Gangga meluapkan segala emosinya pada Chika. Jujur dia mengkhawatirkan Chika saat wanita itu tidak menjawab panggilannya.


“Ini Solo, Mas … bukan Jakarta. Di sana orang tinggal tanpa ikatan tidak akan jadi perbincangan. Apa kata tetangga Mas Gangga kalau aku tinggal serumah sama kamu.” Chika berusaha menolak tegas.

__ADS_1


“Yang mereka tahu, kamu pengasuhnya Airin.”


Chika memejamkan mata, dia berusaha tidak menanggapi obrolan yang saat ini tengah dibahas Gangga.


“Kalau kamu memang tidak mau tinggal karena kita tidak memiliki ikatan. Secepatnya aku akan menikahimu!” ujarnya penuh penekanan.


Chika buru-buru melemparkan tatapan tajam ke arah Gangga. “Kita tidak bisa menikah!” tolaknya.


“Why? Aku duda kamu janda, kenapa tidak bisa?”


“Kita tidak saling cinta, Mas! Aku enggak mau menikah tanpa cinta. Cukup sekali saja!”


Gangga tertawa hambar. “Kamu punya cinta yang besar untuk Airin, kalau kamu bersedia menunggu, aku akan berusaha mencintaimu.”


Ya, Chika memang menyayangi Airin. Ia tahu jelas, bahkan mesti ia tetap pergi jauh dia tidak akan pernah melupakan gadis yang sudah diasuhnya dari bayi itu.


“Apa kamu lupa pesan yang disampaikan mendiang istriku?” sambung Gangga.


“Hubunganku sama dia sudah tidak ada harapan lagi.”


“Lalu, kau memaksaku menikah denganmu. Bagaimana kalau aku juga menutup harapan itu? aku memilih sendiri, menjauh kalau bisa!”


"Chika ...."


“Aku serius, Mas! Please aku lelah. Izinkan aku pergi dari kalian! Jangan menggunakan kelemahanku untuk menahanku tetap tinggal bersama kalian. Aku memang sudah berjanji pada mendiang istrimu, aku memang menyayangi Airin. Tapi, aku tidak mau semakin tersakiti.”


“Kamu tidak memikirkan perasaan Airin?”


“Mas Gangga pria bertanggungjawab. Tentu dia akan bangga denganmu kalau kau membesarkannya sendiri.”


“Kenapa kamu keras kepala. Dulu kamu selalu menurut dengan ucapanku.” Gangga menuntut dengan suara lembut.


“Tapi sekarang tidak, Mas. Aku merasa aku sudah cukup lelah melewati semua ini! Izinkan aku pergi!”

__ADS_1


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Gangga, ketus.


“Ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapapun.”


“Termasuk Sheva?” selidik Gangga, menatap Chika lekat.


Chika terdiam, hatinya bergetar mendengar nama putranya disebut. “Papanya menginginkan aku untuk menjauh. Maka, aku akan menjauh. Buat apa aku ada kalau keberadaanku saja tidak bisa dihargai. Bukankah begitu?”


“Chika, yang dilihat Emil itu salah paham. Dia harus tahu kebenarannya, kamu harus menjelaskan semuanya Chika ....” Gangga berusaha membuka hati Chika, sebelum wanita itu benar-benar memutuskan untuk pergi.


“Nggak perlu, Mas! Percuma, menurut Kak Emil, wanita terbaik di dunia ini hanya Riella. Bukan aku. Jadi, sekali lagi bantu aku untuk pergi dan menjauh dari kalian.”


“Berapa uang yang kamu butuhkan?”


Chika sedikit terkejut mendengar Gangga bersedia membantunya. Ada perasaan lega, saat menyadari kalau dia akan secepatnya pergi. “Aku tidak ingin terlalu banyak berhutang padamu. Lima juta mungkin akan cukup.”


Gangga mengangguk, “Kau yakin? Setelah ini ... mungkin kamu tidak akan bisa kembali dengan mereka lagi.”


“Sudah berapa kali aku bilang padamu, Mas.”


“Baiklah kalau memang itu yang kamu mau. Kalau boleh tahu ke mana kam—


“Mas, enggak perlu tahu, cukup kirimkan nomor rekeningmu saja. Suatu hari aku akan mengembalikan uang yang pernah kupakai untuk mencukupi kebutuhanku.”


Gangga pun hanya diam, meski jauh dari dalam hatinya keberatan dengan keputusan Chika. Dia sendiri tidak mengapa jika harus membatalkan pernikahannya dengan Chika. Namun, dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Airin dan mamanya.


“Rumahmu terbakar habis semalam. Kalau kamu ingin aku menyamarkan kepergianmu. Aku bisa mengatakan kepada mereka kalau kamu menjadi korban atas kebakaran semalam.”


Chika kembali memikirkan saran Gangga. Jika dia menyetujui nya, mungkin itu juga akan lebih baik untuk Sheva, menganggap Ibunnya sudah meninggal.


“Ya.” mata Chika sudah merah karena menahan tangis. “Katakan sesukamu, Mas,” ucapnya lemah.


“Itu juga akan mudah bagi Airin dan mama untuk melupakanmu.”

__ADS_1


__ADS_2