
Lucu saja ketika dua orang dewasa itu meributkan siapa yang harus tidur di tepi. Emil inginya tidur menempel dengan Chika. Lantaran kerinduan yang dirasa pada istrinya itu belum juga tuntas.
Namun, apa boleh buat? keinginan sang pengusik bernama Sheva Elyan itu tidak bisa dibantah. Bocah itu memaksa untuk tidur bersama mereka berdua, enggan tidur bersama sang nenek.
"Biarkan Sheva tidur di ujung, Ibun? Kamu dekat-dekatlah denganku!"
"Jaga sikapmu, Wahai suamiku! aku tidak ingin Sheva terbangun dan melihat kemesraan kita." Chik berbicara setengah suara. "Aku tahu kalau celentang di sampingmu itu akan memunculkan fantasi liarmu!" Chika terkekeh saat mendengar gerutuan Emil, setelahnya.
“Sepertinya aku harus segera mendaftarkan Sheva sekolah full day, supaya kita bisa bebas, tanpa khawatir akan dilihatnya.”
“Ya, daftarkan saja kalau dia mau!”
“Dan setelah itu kita akan punya waktu banyak untuk …." Emil terus mengoceh, dia tidak tahu saja jika apa yang dia ucapkan saat ini mampu menghantarkan Chika ke dunia mimpi yang sangat indah.
Emil yang merasa hening, menoleh ke arah samping. Pandangannya tertuju ke arah Chika, napas istrinya mulai teratur, dan sepertinya Chika sudah nyenyak.
Emil yang tidak bisa tidur kembali bangkit dari ranjang. Dia berjalan mendekati saklar lampu, mematikan lampu kamarnya.
Dia tak kembali ke ranjang, melainkan mengambil kotak rokok di saku jaket, membawanya keluar kamar. Masih ada yang perlu dia urus, termasuk acara syukuran kembalinya Chika ke pelukannya. Ya, tanpa sepengetahuan Chika dia merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan.
Hari ini, Emil sudah berhasil mendaftar pernikahan mereka berdua ke pencatatan sipil. Dan dia tinggal menunggu buku nikah itu jadi, rencananya dia akan memberikan buku itu kepada Chika sebagai hadiah spesial. Buku itu akan menjadi pengikat kalau keduanya tidak akan bisa pergi jauh lagi.
Emil duduk di teras rumah, menikmati sejuknya angin malam seraya menghisap rokok yang saat ini terselip di jarinya. Sedangkan tangan kananya, mengetikan pesan kepada orang yang diutus mengatur kejutan untuk Chika.
Entah sudah berapa batang yang Emil hisap. Dia sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di bibir pintu. Emil tersenyum simpul saat menyadari kehadiran wanita itu.
__ADS_1
“Mama belum tidur?” tanya Emil, seraya mematikan api rokok yang masih menyala.
“Belum. Mama tidak bisa tidur.”
Emil mengernyit, berusaha mencaritahu apa yang sedang terjadi dengan mamanya. “Kenapa, Ma? Apa mama tidak nyaman tinggal di sini? Mau aku pesankan kamar hotel?” tawar Emil.
“Tidak! Bukan itu masalah mama. Jangan buang-buang uangmu untuk hal yang tidak penting. Kamu harus hemat untuk masa depan anakmu. Sekarang Chika dan Sheva prioritasmu.”
“Mama juga penting untuk Emil. Uang bisa dicari, lagian tidak akan habis jika digunakan untuk membeli kenyamanan buat mama.”
“Hm. Udah jangan pikirin mama.” Wanita itu mengambil duduk di kursi yang sejajar dengan putranya, bibirnya mengulas senyum tipis. Dia terdiam menatap jauh ke arah pagar rumah Emil. “Mama merasa ... mama yang sudah menganggu kenyamanan keluarga kecilmu. Sepertinya mereka tidak menyukai kalau mama tinggal di sini, apa mama pergi dan mencari adikmu saja, ya ....”
“Mama … tidak perlu seperti itu! Chika dan Sheva tidak pernah memiliki pikiran buruk tentang Mama.” Emil mengusap tangan wanita itu. “Apalagi Chika! Mama jangan khawatir, Chika menyayangi mama. Baru saja dia tanya ke Emil. Kalau lihat mama dia seperti lihat bu Evelyn. Dia sepertinya juga merindukan mamanya, tapi Chika tidak berani untuk mengatakan langsung pada Emil. Mungkin, kalau mama bersedia, beri istri Emil pelukan. Beri dia kehangatan kasih sayang.”
Emil terkekeh, sembari menyugar rambutnya. “Dan mungkin saja, Emil juga tidak menyadari kalau wanita yang Emil cintai itu Chika.”
Ibu Ineke terkekeh di sela isak tangisnya. “Mama … bingung harus persikap bagaimana. Saat melihat mata Chika, mama merasa bersalah sekali. Mama saja masih enggan memaafkan diri mama!”
“Mama nggak perlu khawatir, Chika enggak akan marah sama mama! Emil akan jamin itu. Yuk, damai dengan diri mama sendiri, setelah itu pasti kita akan bisa damai dengan orang sekitar kita!”
Ibu Ineke mengusap air matanya. “Chika orang baik. Mama yakin dia tidak akan memusuhi ibu mertuanya.”
“Ya.” Emil mengikuti arah bu ineke, “tidurlah, Ma. Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan mama!” Emil berusaha mengingatkan.
“Iya. Kamu juga harus segera tidur! Kalau tempat tidur kalian terlalu sempit biarkan Sheva tidur sama mama. Angkat dia ke kamar Mama. Mama ingin memeluknya, pasti kalau dia bangun, dia tidak akan setuju kalau mama melakukan itu.” ungkap ibu Ineke.
__ADS_1
Walau Emil ingin sekali menyetujui permintaan itu, tapi dia enggan melakukannya. Dia khawatir Sheva akan mencarinya di saat bocah itu terbangun di tengah malam. “Udah, lebih baik mama tidur! Biarkan Sheva tidur bersama Emil dan Chika.”
Ibu Ineke mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan teras rumah, setelah mengatakan pada Emil untuk segera masuk rumah. Sedangkan Emil kembali sibuk dengan ponselnya, mengirimkan pesan pada rekannya.
[Apa minggu depan ada acara ke Solo?] Emil.
Pria itu menunggu balasan seraya kembali mematikan api ke ujung rokoknya.
[Kenapa, memangnya?]
[Chika sudah kembali pulang. Aku akan mengadakan syukuran kecil-kecilan.]
[Cuma aku saja? si mantan pacar tidak diundang?]
Emil menggeleng pelan saat membaca pesan itu. Ingin sekali dia menelepon tapi melihat jam sudah lebih jam 11 malam dia pun mengurungkan niatnya itu.
[Hahaha …. Terserah kamu kalau begitu. Kalau dia mau datang aku tidak masalah. Kami justru senang, bisa bertemu lagi.]
[Baiklah, rombongan dari Jakarta akan datang, katakan saja tempat dan waktunya.]
[Okay. Menyusul ya! Aku akan menunggu kedatangan Kalian!]
Emil terlihat senang membaca pesan balasan dari Kalun yang berniat akan datang ke Solo. Dengan begitu, dia bisa membuktikan pada Chika, kalau segala apapun yang pernah terjalin antara dirinya dengan Riella semuanya benar-benar sudah berakhir. Kini hanya ada dia dan dirinya yang siap memulai lembaran baru.
Udara malam semakin dingin, Emil memutuskan untuk masuk ke rumah. Tiba di dalam kamar, dua orang itu tampak begitu nyenyak. Sheva yang terlalu over bertingkah ketika tidur mendorong Emil untuk tidur di kursi. Dia tidak tega melihat dua orang itu tidur berdesak-desakan.
__ADS_1