Begin Again

Begin Again
Pertengkaran


__ADS_3

Suara keributan yang terdengar di luar bilik kamar, mengusik tidur Chika pagi ini. Chika berusaha mengumpulkan kesadarannya, berusaha positif thinking kalau keributan itu terjadi di luar rumahnya.


Namun, suara pukulan dan benda jatuh yang terdengar begitu jelas membuatnya segera pergi untuk melihat apa yang saat ini terjadi. Chika tidak peduli dengan penampilannya, rasa penasaran membuatnya panik.


Sampai tepat di depan pintu kamar, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia bisa menyaksikan saat ini dua pria dewasa tengah berpelukan, demi menahan gerakan kepala dan tangan masing-masing lawan. Tidak lama kemudian, seorang dari mereka berhasil menjatuhkan lawan. Emil bergegas menindih pria itu, mengunci gerakan tangan Gangga.


"Stop!" Chika berteriak lantang, berusaha menghentikan gerakan tangan Emil yang hendak melayangkan bogeman ke wajah Gangga. Chika iba melihat wajah pria itu yang kalah parah dari Emil, pria itu terluka di area wajah, bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.


Emil menoleh ke arah Chika, tak percaya karena wanita itu justru membela Gangga.


"Stop, Kak!" ulang Chika, dengan sorot mengancam.


Emil beranjak dari atas tubuh Gangga. Dia berbalik menghadap Chika. Sungguh, dia tidak mengerti apa yang diinginkan wanita itu. Semalam Chika menolaknya ingin berada di sana, bahkan mengusirnya meski kondisi di luar masih hujan deras. Lalu? Kenapa pagi ini, Gangga ada di sini? bahkan, tanpa menggunakan pakaian. Dia merasa dikhianati karena atas kejadian yang saat ini disaksikan. Dadanya bergemuruh, ingin meluapkan emosi yang saat ini memeluknya.


"Kalian sudah kelewat dewasa! enggak sepantasnya seperti ini! Nggak malu kalau Sheva dan Airin melihat kelakuan papanya!"


Kerutan di dahi Emil semakin jelas. "Kamu keterlaluan, Ibun! Apa arti semua ini, HAH?!" membuang muka ke arah Gangga yang tengah menggoyangkan bibirnya, mungkin sedang membenarkan tulangnya yang geser akibat perbuatannya.


Chika semakin tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan Emil. Sampai detik berikutnya ia baru menyadari saat melihat tubuh Gangga yang bertelanjang dada.


“Kamu salah paham, Kak!” Chika berusaha meredam rasa cemburu yang saat ini sedang menyerang Emil. “Kejadian pagi ini tidak seperti yang kamu pikirkan!” jelasnya.

__ADS_1


Emil tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya menunduk dalam. Ternyata seperti ini apa yang dulu dirasakan oleh Riella saat wanita itu memergoki dirinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri? Sakit, menyesakan, ingin marah, tapi dia tak mampu untuk sekedar memukul Chika.


‘Apakah ini sebuah pembalasan untukku!’


“Kamu lupa?! Kita—aku! aku pernah berada di posisimu! Tertangkap basah oleh Riella. Jadi, apa ini semua timbal balik atas semua yang sudah aku lakuin ke Riella!” sembur Emil, menuntut penjelasan. "Kamu tega!" sambungnya, berusaha menahan tangannya untuk tidak memukul Chika.


“Sudah aku bilang kamu salah paham!”


Emil menggelengkan kepala, “Mungkin hukum tabur tuai sedang terjadi padaku! Aku salah. Aku salah! Aku pikir kamu bakalan serius sama aku dan Sheva. Ternyata kamu hanya ingin mempermainkan kami!”


“Bung! Lo beneran salah paham!” Gangga ikut menyela berusaha menjelaskan tapi hanya mendapat balasan tatapan tajam dari Emil. Pria itu sama sekali tak mendengarkan penjelasan Chika maupun Gangga. Dia justru percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini.


“Bangsat kalian berdua!” sentak Emil, kemudian berbalik badan hendak keluar rumah.


Pria itu berbalik, melepas dengan kasar cekalan Chika. “Memang di dunia ini tidak ada yang lebih baik dari Riella! Andai aku tidak tergoda dengan kelakuanmu mungkin aku sudah hidup bahagia bersamanya!”


Bukan hanya ucapan Emil bahkan tatapan pria itu berhasil membekukan tubuh Chika. Wanita itu tidak berkutik mendengar ucapan Emil yang terasa begitu menyakitkan untuknya.


Rupanya pria itu hanya pura-pura bersedih. Apa yang selama ini di depannya hanya sebuah kebohongan. Perasaan pria itu tak akan pernah selesai dengan cinta masa lalunya. Bibirnya tersenyum masam, berulangkali bulu matanya berkedip menghalau air matanya yang ingin turun, ia membiarkan Emil pergi dari rumahnya.


Gangga hendak menarik tubuh Emil yang hendak pergi. Tapi, Chika menahan lengan pria itu. “Biarkan dia pergi. Jodohku mungkin bukan dia!” gumamnya, lalu berusaha tersenyum tipis ke arah Gangga. Membiarkan Emil pergi membawa seluruh kesalahpahaman yang tadi dilihat. Emil tidak percaya padanya, mungkin pria itu juga tidak mencintainya. Jadi, untuk apa mereka kembali bersama? Bukankah nanti pada akhirnya akan sama seperti kemarin.

__ADS_1


Chika mengusap lengan Gangga. “Tenang saja, Mas. Rencana kita akan tetap berjalan.”


“Chika ... tapi kamu?”


“Kenapa masih memikirkan aku? aku—aku akan menjalani hari-hariku seperti biasa. Selama ini aku juga baik-baik saja tanpa mereka!” Dia hanya berpura-pura sedang baik-baik saja. Tapi, apapun itu dia tidak ingin mengulang hari-hari terberatnya. Lebih baik dia melepaskan dari pada tersakiti lagi.


“Mas mendingan pulang, aku juga harus siap-siap berangkat ke yayasan!”


“Chika, aku sendiri bahkan tidak tahu menahu kapan aku melepas kemejaku!” Gangga tampak bingung.


“Aku! aku yang melakukannya. Aku cuma khawatir kalau mas Gangga akan masuk angin. Jadi, aku melepas dan menggantinya dengan selimut. Maaf sudah lancang!” ujarnya penuh sesal.


Pria itu mulai paham setelah mendengarkan penjelasan Chika. Pantas saja Emil terlihat marah sekali mungkin pria itu mengira kalau dia dan Chika sudah melakukan hal-hal yang menjurus ke adegan dewasa. Hingga dia merasa terkhianati.


“Hari ini jadi mengunjungi mbak Fanni? Mas Gangga bisa menghubungiku kalau mas membutuhkan bantuanku. Anggap saja ini caraku meringankan hutang balas budiku pada keluargamu, Mas.”


“Kalau begitu, aku akan kembali pulang! Maaf untuk kekacauan ini! seharusnya semalam aku memang pulang dan kejadian ini tidak akan terjadi.”


“Enggak, nggak perlu meminta maaf. Justru aku berterima kasih sama Mas Gangga. Berkat kejadian ini, aku jadi tahu kalau dia belum sepenuhnya bebas dari masa lalunya.”


Gangga merasa bersalah sudah membuat semuanya menjadi rumit. Dalam hatinya berjanji akan membantu Chika untuk menyelesaikan masalahnya dengan Emil. Ia segera menggunakan kembali pakaiannya, tanpa berpamitan lagi kepada Chika dia keluar dari rumah itu.

__ADS_1


Setelah kepergian Gangga, tubuh Chika mendadak kehilangan tenaga. Dia terduduk lemas di atas kursi kayu. Ucapan Emil terekam baik dalam ingatannya, dan mungkin selamanya dia tidak akan melupakan apa yang diucapkan pria itu. Chika tersenyum miris, menertawakan dirinya sendiri. “Tapi, terima kasih sudah singgah sementara! terserah kamu menganggap aku apa! Mungkin aku memang seburuk yang kamu pikirkan!”


Melihat kotak makan asing di atas meja. Chika meraih kotak itu. Lalu membukanya, aroma bumbu dan cabe menguar, menyambut Indra penciumannya. Nasi goreng dengan toping telur terlihat begitu nikmat. Sayangnya, Chika memutuskan untuk menutup kembali kotak makan itu. Ia memilih memasuki kamar mandi untuk persiapan pergi ke Yayasan Surya Mentari.


__ADS_2