
“Sheva, Papa berangkat ya! kamu jangan aneh-aneh! Kalau mau keluar, bawa hp nanti kalau tersesat hubungi Papa! Okay?” pesan Emil sebelum meninggalkan putranya.
Hari ini Sheva tidak ikut ke kebun, mengatakan pada Emil jika kakinya pegel. Jadi lebih baik di rumah saja. Tentu Emil tidak masalah, kalau Sheva ikut pasti agenda hari ini akan kacau.
“Iya.” Sheva menjawab dengan suara lemah.
“Jangan jauh-jauh mainnya!” Emil mengusap rambut putranya yang duduk di kursi tamu.
Sheva mengangguk pelan. “Minta uang, Pa!” tangan kanan Sheva menengadah, mencegah Emil yang hendak berlalu.
“Mau beli apa?”
“Siapa tahu nanti ada tukang siomay lewat.” Sheva menjawab sambil menoleh ke arah jendela.
"Emangnya Sheva belum kenyang perutnya?"
"Belum, nanti kalau papa perginya lama. Sheva mau jalan-jalan biar nggak bosen di rumah terus!"
Emil membuka dompetnya lalu memberikan selembar uangnya untuk Sheva. Setelah selesai, dia bergegas meninggalkan Sheva, menyusul pak Aiman yang sudah menunggunya di atas motor.
Sedangkan Sheva, setelah mendengar suara motor itu menjauh, dia bergegas masuk ke kamar mandi. Mempersiapkan diri untuk mendatangi warung makan Bu Jamal.
Sang papa sudah menjelaskan padanya kalau akan kembali saat sore hari. Jadi, dia bisa bermain di sana sepuasnya. Dalam hati Sheva berharap, jika yang dia lihat semalam bukan hantu seperti yang dikatakan papanya.
Sheva keluar rumah dengan pakaian yang sudah rapi dan wangi. Kakinya melangkah berusaha mencari keberadaan warung yang kemarin dia kunjungi.
Namun, dia rupanya tidak menyadari kalau sudah melupakan sesuatu yaitu ponselnya. Sheva lupa mencari charger baterai yang masih tersambung. Dia hanya membawa selembar uang yang tadi diberi oleh Emil.
Sheva berlari kecil menelusuri jalanan terjal itu, sesekali langkahnya melambat karena lelah. Setiap langkahnya dia berusaha mengingat wajah wanita yang kemarin dilihat. Langkahnya semakin mantap, tak sabar untuk membuktikan kebenarannya.
“Kenapa jauh sekali?” keluh Sheva, dengan napas naik turun. Dia masih ingat dengan jalan pulang. Tapi, rasanya jauh sekali untuk tiba di warung makan itu. "Demi ketemu Ibun. Ayo Sheva sebentar lagi!" gumamnya berusaha menyemangati diri sendiri.
Setapak demi setapak, akhirnya Sheva berhasil membaca spanduk bertuliskan warung makan Bu Jamal. Sheva pun semakin semangat untuk melangkah, dia berlari kecil saat jarak menyisakan dua puluh meter.
Hingga saat tiba di sana napas Sheva tampak memburu, peluh menetes dari keningnya. Dia mengusap dengan tangan seraya mengayunkan langkahnya mendekati Bu jalan. “Mau beli!”
__ADS_1
“Hah?” Rini yang berdiri di samping Bu Jamal tampak terkejut mendengar suara keras yang dikeluarkan Sheva.
“Beli apa adik kecil, kamu yang kemarin datang sama Mas Emil, kan?” tanya Rini, dia masih berusaha mengingat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Sheva menganggukan kepala.
“Terus kamu mau beli apa?”
Mata Sheva berusaha mencari sosok wanita yang dilihat kemarin. Sayangnya, dia tidak menemukan sosok yang dicari.
"Adik, mau pesan apa?" ulang Rini.
“Adanya apa Mbak?” Sheva balik bertanya.
Rini berusaha tersenyum tipis. “Nasi soto, atau nasi pecel ada, nasi oseng ada, atau mau nasi bandeng?”
“Nasi soto saja, Sheva nggak doyan sayuran,” ucap Sheva lalu mengambil duduk di samping jendela. Pandangannya menatap jauh ke arah terasering yang ada di sekitar, dan sayangnya dia tidak menemukan sosok Ibun. “Ternyata papa benar, yang aku lihat kemarin itu hantu.” Sheva membuang napas kasar.
Diam-diam tangan Sheva mengeluarkan sebuah foto kusam dari saku celananya. Itu foto pemberian papa Gangga. Tepatnya bukan pemberian, dia yang meminta foto itu.
Itu foto Ibun, entah kapan foto itu diambil tapi ibun tampak tersenyum bahagia. Sheva sengaja memotongnya menjadi kecil, karena yang dia butuhkan hanyalah foto Ibunnya. “Ibun pasti sudah bahagia di sana, ya?” ucap Sheva seraya mengusap foto. "Sheva kangen, Bun," ucapnya pelan.
Sheva buru-buru menyimpan foto itu. Dia tidak ingin orang lain melihat atau mengambilnya. Dia mendongak menatap mbak Rini yang baru saja meletakan semangkok soto ke atas meja. “Papa lagi pergi lihat kayu.”
Rini menganggukan kepala. “Mau minum apa, Cah bagus?”
“Es teh aja, Mbak.” Sheva menjawab riang. Dia berusaha ceria meski dalam hatinya kecewa setelah tak menemukan apa-apa di tempat ini.
Sheva berusaha mengulur waktu. Siapa tahu wanita yang kemarin dilihat akan muncul. Tapi sayangnya sudah pukul sepuluh lewat, ia benar-benar tidak menemukan wanita itu. Yang dilihat kemarin hanyalah ilusinya saja.
Di saat Sheva putus asa, dan memutuskan untuk pulang. Jauh dari posisinya saat ini ia melihat sebuah angkot berhenti untuk menurunkan penumpang.
Di saat mobil itu berlalu, tampak seorang wanita berjalan ke arah warung. Satu tangannya, berusaha menutupi wajahnya dengan buku, mungkin silau karena siang ini hari terlihat begitu cerah.
Sheva tak lepas menatap wanita itu. Dadanya bergemuruh, napasnya naik turun, mengiringi langka seorang wanita yang semakin mendekat ke arahnya. “Nggak, kan dia bukan hantu?”
__ADS_1
“Mbak Rini!” panggil Sheva.
“Ya.” Wanita itu mendekat ke arah Sheva.
“Mbak, apa Mbak Rini kenal sama wanita itu?”
“Ow, dia Mbak Ika.” Mbak Rini menjawab singkat.
“Mbak Ika?”
Rini mengangguk cepat, “Dia sudah lima tahun tinggal di dusun Siluman.”
“Tinggal di mana?”
“Di sini. Sama kamu.”
“Dia dari mana?” tanya Sheva, penasaran.
“Hm … dari?” Rini menoleh ke arah sang ibu. “Bu, Mbak Ika itu datang dari Jakarta yo?”
“Asline Jakarta, Tapi pernah enam tahun pindah nag Solo.” Bu Jamal menjawab, sambil menurunkan kaca matanya untuk melihat Sheva.
“Enggak salah lagi!” ucap Sheva, menatap ke arah wanita yang berjalan semakin dekat dengan warung makan bu Jamal.
Sheva buru-buru keluar dari warung saat melihat Chika hampir masuk ke rumah samping. Dia berusaha mengejar wanita itu. Hingga tiba di dekat Chika dia langsung menarik pergelangan tangannya kuat.
Chika hampir saja mengumpat karena kaget. Tapi saat melihat siapa yang saat ini berdiri di depannya. Dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Bahkan, ia tak mampu bernapas dengan benar saat melihat sosok Sheva berdiri di depannya.
Kedua pasang mata mereka bertemu, saling pandang. Perlahan air mata Sheva tumpah, dia menangis, membuat pandangannya sedikit kabur. “Ibun ….” Sheva terisak. “Kamu benar Ibun-nya Sheva, kan?” mengusap air matanya sambil menundukkan kepala dalam. “Jangan pergi lagi ... jangan tinggalin Sheva, Bun.”
Chika masih membeku. Dia bingung hendak merespon apa. Dia tidak akan mungkin membohongi Sheva yang jelas-jelas berdiri di depan matan. Ikatan batin yang mereka miliki tidak mungkin bisa disangkal lagi.
“Kenapa Ibun pergi! Kalau Ibun marah sama papa, harusnya Ibun ninggalin papa aja, Sheva jangan, Sheva harus tetap sama Ibun!”
Chika tak kuat untuk tidak memeluk putranya. Dia memeluk tubuh Sheva erat. Menenangkan tangisnya yang justru semakin jelas terdengar.
__ADS_1
“Jangan jauh-jauh dari Sheva, Bun! Papa mungkin enggak membutuhkan Ibun. Tapi aku, masih butuh Ibun.”
Air mata Chika menetes deras, hingga menganggu pernapasannya. Dia membiarkan Sheva meluapkan tangisnya. “Kita masuk ke kamar yuk, ibun mau cerita semua sama Sheva. Semoga Sheva mau mengerti posisi Ibun, dan alasan kenapa Ibun harus pergi ninggalin kalian.”