
Angin kencang berhasil menggoyangkan dedaunan yang ada di samping kamar Emil. Menimbulkan suara yang terdengar begitu riuh. Sheva ketakutan, ia memeluk erat tubuh Emil, demi meredam rasa takut.
Malam ini Sheva tidur bersama Emil. Putranya itu tak mau jauh dari papanya di saat merasakan tubuhnya sedang sakit. Kondisi Sheva sedang tidak baik-baik saja usai dari pemancingan tadi. Anak itu menjadi lebih pendiam. Dan malam ini, Emil baru menyadari kalau suhu tubuh Sheva cukup tinggi.
“Pak Emil!” seruan dari luar kamar membuat Emil kembali membuka mata. Dia menoleh ke arah Sheva, meminta izin untuk membuka pintu kamar. "papa buka pintu kamar dulu, ya?"
“Pak Emil, saya pesankan nasi goreng buat Bapak!" seru Kania lagi.
Merasakan tangan Sheva masih memeluknya erat, Emil memilih menggendong Sheva, membawanya menemui Kania. "Kenapa?" tanya Emil.
"Loh, Sheva kenapa kok digendong papa?" wanita itu justru mengabaikan Emil, dia fokus ke arah Sheva yang terlihat lunglai. "Sini, sama mbak Nia!" Kania merentangkan tangan berusaha menggantikan Emil yang tampak lelah. Mungkin pria itu juga lapar karena sepulang dari pemancingan belum makan sama sekali.
Sheva sendiri begitu spesial, dia tidak bisa menangis saat merasakan bagian tubuhnya yang sakit. Kadang Emil cemas karena Sheva hanya bisa diam sembari mengeluarkan air matanya.
“Kamu istirahat saja, aku bisa jaga Sheva sendiri.” Emil memang tidak butuh bantuan Kania. Ia tahu kalau Sheva sakit hanya mau bersamanya.
Dulu, saat mereka tinggal di Jakarta, Sheva begitu sering menerima cemooh dari orang lain. Tubuhnya akan merespon, jika itu terlalu menyakitkan untuknya.
“Bapak beneran nggak papa? Atau butuh kawan buat ngobrol biar aku temani.” Kania mencoba menawari bantuan siapa tahu Emil sungkan untuk meminta bantuan darinya.
“Lebih baik kamu tidur Kania! Biar keriput di wajahmu itu memudar!” balas Emil, dengan cetus. Pengasuh anaknya itu terkadang menyebalkan ingin mengaturnya.
Kania mengusap pipinya dengan gerakan lembut “Saya belum tua, Pak! Tua-an Bapak! Sudah duda, 30 tahun dan—
“Stop! Hush, pergi ke kamarmu sana! jangan berisik Sheva mau tidur!” Emil kembali menutup pintu kamar, mengusap punggung Sheva sembari menimangnya.
"Bobo ya, sini papa kompres pakai air hangat!"
__ADS_1
Sheva menggeleng, menolak untuk dikompres, padahal panasnya belum reda. Emil hanya khawatir, terjadi hal buruk dengan Sheva. Emil terus menepuk punggung Sheva berusaha menidurkannya. Tepat pukul sebelas malam Sheva berhasil terlelap, Emil mulai beraksi memberikan kompres di kening Sheva.
Semalam suntuk Emil terjaga di samping Sheva, mengganti handuk kecil yang dipakai untuk mengompres keningnya. Tapi hingga pagi ini, kondisi Sheva tak kunjung membaik, mau tidak mau dia terpaksa membawa Sheva ke rumah sakit terdekat.
Pagi ini suasana rumah Emil begitu riuh karena Kania memaksa ingin ikut. “Padahal Sheva kemarin berenangnya tidak terlalu lama loh, Pak. Kok bisa ya dia demam, biasanya kan, baik-baik saja.” Kania menggerutu sembari memangku tubuh Sheva.
Emil belum ingin bercerita pada Kania soal pembicaraannya dengan Chika kemarin, dia masih ingin menutupi semuanya dari Kania. “Mungkin kecapean kan, juga bisa! Jadi ya begitu,” jelas Emil.
“Kamu sudah cek jadwal praktek dokter hari ini?”
“Sudah, Pak. Semoga nggak mengantri banyak.”
“Kita bawa ke UGD langsung saja, biar segera ditangani. Panasnya sudah melewati batas, Sheva bisa saja kejang.”
Kania mengangguk, menurut dengan ucapan Emil. Tak lama kemudian, Emil sudah menghentikan mobilnya di area parkir mobil salah satu rumah sakit ternama di Solo. Pria bergegas keluar, mengambil alih Sheva dari pangkuan Kania.
“Nggak perlu, Nia. Lebih baik kita pindahkan Sheva ke sekolah lain. Atau kita datangkan saja guru privat untuk mengajarinya di rumah. Sepertinya Sheva tidak menyukai sekolah di tempat itu.”
Emil menolak permintaan Kania. Dia justru tidak ingin Sheva bertemu lagi dengan Chika. Melihat sikap Chika kemarin membuat Emil lebih protektif lagi dengan putranya, dia takut kalau pertemuan Sheva dengan Chika akan kembali meninggalkan luka yang sukar untuk disembuhkan.
...----------------...
Di sisi lain, hari ini Chika dan Gangga sengaja tidak datang ke sekolah. Mereka berdua sudah membuat janji dengan pihak Wedding Organizer yang hendak mengurusi pernikahannya.
Pagi-pagi sekali Gangga sudah datang menjemput Chika. Pria itu membawa Chika ke salah satu restoran ternama, untuk mencari sarapan, sekaligus membicarakan rencana pernikahan mereka berdua.
“Jadi gimana, Pak, Mbak apa sudah disiapkan tanggal pernikahannya?” wanita berkaca mata, berusia sekitar tiga puluhan tahun itu berusaha mencari tahu.
__ADS_1
“Mungkin pertengahan bulan.” Gangga menjawab singkat, mendahului Chika yang kebetulan belum selesai makan. “silakan tentukan tanggal pernikahan kita Chika ….”
“Terserah, Mas Gangga saja. Aku kapan pun siap.” Chika menjawab ramah, menampilkan senyum tulus.
“Ya, sudah kalau begitu saya pilih hari sabtu saja, tanggal 17 Mei.” Gangga menunjuk kalender duduk yang baru saja dikeluarkan Tiffani.
“Fix ya, aku lingkari, nih!" ucapnya. "Sekarang ... tentukan konsep apa yang mbak Chika inginkan. Jangan bilang terserah lagi Mbak. Biasanya calon mempelai wanita itu lebih antusias ketimbang mempelai pria.” Tiffani menatap Chika dan Gangga bergantian.
Gimana mau antusias, kalau aku akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Batin Chika, hatinya mencelos menyadari fakta kalau dia masih mencintai Emil. Sulit sekali membuang perasaannya untuk Emil.
“Kamu mau tema apa Chika, garden party or modern saja?” kini Gangga menunjukan gambar dekorasi yang baru disodorkan Tiffani.
“Modern saja kali ya, Mas?” kali ini Chika merespon, tidak ingin terlihat mengabaikan pernikahannya dengan Gangga. Sungkan juga dengan wanita yang kini berhadapan dengannya.
“Oke. Kita ambil modern saja, Fan.” Gangga menunjuk gambar dekorasi yang didominasi warna putih.
“Siap, Pak, Mbak. Dua hari lagi, apa kita bisa membuat janji untuk bertemu? Saya akan mengantar anda untuk memilih cincin pernikahan. Kita cari dari yang kecil dulu, setelah itu kita tentukan yang lain.”
“Kami siap kapanpun Mbak inginkan,” balas Gangga, dengan senyum tipis yang terukir manis di bibirnya. Tanpa Chika ketahui, wanita itu adalah teman sekolah Gangga, hanya saja demi profesionalisme pekerjaan, mereka berdua pura-pura tidak saling mengenal.
“Saya akan kembali menghubungi, Pak Gangga.” Wanita itu beranjak dari kursi, lalu berpamitan pada mereka berdua.
Setelah wanita itu pergi, Chika menatap ke arah Gangga. “Kita mampir ke sekolah dulu, ya, Mas!” ajaknya, berharap Gangga akan setuju, karena dia ingin melihat Sheva hari ini.
“Enggak mau langsung pulang saja?” tanya Gangga. "kamu bisa cuti dulu untuk mempersiapkan pernikahan kita."
“Aku rasa tidak perlu, Mas. Aku juga ingin melihat Sheva. Sebentar saja,” ucap Chika, berkata jujur.
__ADS_1
Gangga yang mendengar itu hanya mendesah pelan. Kemarin dia sudah menjemput Chika di Klaten karena wanita itu tidak tahu jalan pulang. Dan hari ini, dia masih saja mementingkan masa lalunya. Dia tidak akan membiarkan situasi seperti ini berlama-lama. Chika akan segera menjadi miliknya, dia berhak mengatur pertemuannya dengan Sheva maupun pria itu.