
SD Alpa, dilihat dari segi bangunannya memang tidak terlalu buruk. Halamannya begitu luas, dengan hamparan rumput yang tampak terawat. Tempat bermainnya juga banyak karena ternyata bergabung dengan kelas PAUD.
Saat pertama kali masuk, perhatian Sheva tertuju ke arah tempat bermain. Netranya terus memperhatikan para siswa-siswi yang sedang bermain di tempat tersebut. Begitu menyenangkan, sampai membuat sudut bibirnya tertarik ke samping. Sheva bertepuk tangan, lalu melambaikan tangannya. Sheva begitu antusias mencari perhatian dari mereka. Sayangnya lagi-lagi dia harus menelan pil kekecewaan. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya.
“Sheva, mau main? Tapi, mainnya harus pintar ya, jangan ganggu orang lain! Papa sama kak Nia masuk dulu ke ruang kepala sekolah dulu!” pesan Emil sebelum meninggalkan putranya. Dia paham keinginan Sheva.
Melihat Sheva mengangguk, Emil lekas berjalan memasuki ruang kepala sekolah. Kali ini pria kisaran 40-an tahun terlihat begitu ramah menjamunya. Dia bertanya perihal kondisi Sheva, dan juga prestasi Sheva.
“Di sini ada juga siswa yang belum bisa berbicara lancar, dan kami sangat paham dengan itu.”
Secercah harapan muncul, Emil bernapas lega saat mendengar pengakuan sang kepala sekolah. “Jadi apa anak saya bisa diterima di tempat ini?” tanya Emil memastikan. Dia tidak ingin berbasa-basi yang akan membuang waktunya. Dia harus segera mengurus toko furniturnya yang katanya di ujung kebangkrutan.
“Tentu bisa. Sekolah kita bisa menerima siswa yang mampu berpikir dengan baik. Saya paham, anak seperti Sheva juga berhak mendapatkan perlakuan setara dengan anak lainnya, dia hanya lambat bicara. Akan lancar seiiring berjalannya waktu.”
Penjelasan panjang lebar dari kepala sekolah membuat Emil tersenyum lebar. Dalam hatinya sudah memutuskan untuk menyekolahkan Sheva di tempat tersebut. Tidak peduli dengan biaya yang mungkin akan lebih mahal, dari SD Harapan Bangsa tadi.
“Terima kasih, Pak. Kita akan melengkapi dokumennya,” ucap Emil. Lalu mengajak Kania berpamitan dengan kepala sekolah tersebut.
“Sama-sama, Pak Emil. Semoga dek Sheva juga bisa mengikuti pelajaran di sini.” Sang kepala sekolah menghantarkan mereka keluar dari ruangannya. "Di mana Sheva, saya ingin berkenalan dengannya?" tanya kepala sekolah tersebut. Jujur saja dia penasaran akan sosok Sheva yang katanya memiliki prestasi.
__ADS_1
"Dia sedang bermain di taman, Pak!"
Emil menunjukan tempat di mana tadi dia meninggalkan Sheva. Sayangnya, apa yang saat ini di lihat mereka, membuat sang kepala sekolah geleng-geleng kepala.
Tingkah Sheva di luar dugaannya. Anak kecil itu terlihat begitu senang saat melihat gadis yang berada di ayunan sedang menangis keras, memohon Sheva untuk menghentikan perbuatannya.
Emil yang melihat itu langsung berlari ke arah area bermain, berusaha menghentikan laju ayunan yang didorong kuat oleh Sheva.
“Sheva, stop!” Emil berusaha menangkap tubuh gadis yang berada di ayunan, kemudian menenangkan anak seumuran Sheva yang masih saja terisak.
Menurut Sheva kejadian yang baru saja dialami memang lucu. Tapi berbeda dengan orang lain yang memandang itu adalah tindakan berbahaya.
Menyadari kesalahannya, Sheva lekas menggeser tubuhnya ke balik tubuh Emil, bersembunyi mencari perlindungan sembari menggigiti kaus warna putih yang dikenakan Emil. Dia begitu ketakutan saat melihat ekspresi marah pria yang baru pertama kali ditemuinya.
“Maaf, Pak. Saat istirahat biarkan Kania yang menjaga Sheva, saya pastikan tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini.” Emil memohon pada kepala sekolah.
“Dan maaf, Pak Emil kami tidak bisa!” tolaknya tegas. “Dua ratus meter dari sini, ada Yayasan untuk anak berkebutuhan khusus. Di sana ada kelas sendiri-sendiri. Jika Anda berniat saya bisa merekomendasikan teman saya pada bapak!” sambungnya.
Emil membuang napas kasar, sambil menurunkan gadis kecil yang tadi berada di gendongannya. “Tidak perlu!” kali ini Emil berkata lebih sopan. Dia paham, kalau Sheva ditolak murni karena kesalahannya. Sebelum mereka pergi, dia merogoh saku celananya. Lalu memberikan permen pelangi pada gadis yang tadi dikerjai Sheva.
__ADS_1
"Maaf, ya!" ucapnya lembut. Berharap Sheva bisa melihat sikapnya tanpa perlu meminta anak itu memperhatikan dirinya.
“Maacih, Om!” balas gadis itu sopan.
Emil membawa Sheva dan Kania pergi dari SD Alpha. Kali ini ia harus menerima kekecewaan lagi dan itu karena kesalahan Sheva.
Dalam perjalanan pulang, Emil masih saja bungkam. Dia tidak mau meluapkan emosinya pada Sheva. Begitu pun Sheva dan Kania tidak ada yang berani mengajak bicara padanya.
Sampai mobil tiba di pelataran rumahnya, Emil menitipkan Sheva pada Kania. “Aku titip Sheva, Nia.”
“Baik, Pak!” balas Kania sambil merangkul pundak Sheva. Melihat mobil majikannya sudah melaju, Kania beralih menatap Sheva yang sedari tadi menundukan kepala.
“Sheva,” panggilnya lembut, membuat anak itu mendongak menatanya. Kini Kania bisa melihat kelopak mata anak itu sudah terpenuhi dengan cairan bening.
Apa papa tidak akan pulang seperti mama?
Sheva menunjukan tulisan yang sudah ditulisnya sedari tadi di dalam mobil.
“Papa Emil akan pulang. Dia, kan sayang sama Sheva.” Kania menggendong tubuh Sheva. “Kita masuk, yuk! Hari ini Sheva belajarnya sama kak Nia dulu ya.”
__ADS_1