
" Kau Nyaman Baby…" kata Zio tiba-tiba muncul membuat Silvana kaget.
" Astaga…." kaget Silvana lalu berdiri cepat lalu tersenyum kaku ke arah Zio yang sedang berjalan mendekatinya.
" Hehe itu tadi aku….aku…" Silvana gelagapan mencari alasan matanya bergerak gelisah kiri kanan, kedua tangannya ia remas seperti bocah yang habis melakukan kesalahan. Melihat itu Zio hanya bisa terkekeh dalam hati.
" Wanitaku memang menggemaskan " batin Zio ges dengan ekspresi wajah Silvana saat ini.
Cup
" Jika kau suka kau bisa membawanya ke ruangan mu atau ingin aku memesankan yang baru untuk mu " Zio berkata dengan lembut Bahakan menawarkan kepada Silvana lalu mengecup kening Silvana.
" Eh….kamu tidak marah " Cicit Silvana menatap polos ke arah Zio yang hanya bisa menatapnya dalam.
" Mana bisa aku marah kepada mu Baby….di saat ekspresi kamu begitu menggemaskan " batin Zio mengulurkan tangannya lalu mengelus lembut pipi bulat Silvana.
" Untuk apa aku marah? Bukankah yang mendudukinya adalah kamu kekasih aku sendiri lantas untuk apa aku marah " kata Zio sambil mengelus pipi Silvana.
Mendengar itu Silvana mengerjabkan kedua matanya menatap Zio di depannya dengan intens. Lagi-lagi kedua jantung insan itu berdetak dengan Irama yang berbeda.
" Kamu tau? Ekspresi kamu yang sekarang ini begitu menggemaskan dan aku bahkan harus mati-matian Menahan untuk tidak memakanmu disini " Bisik Zio di telinga Silvana membuat wajah Silvana memerah sampai ke telinga.
" I Love You Silvana " Bisik Zio lagi lalu menarik tengkuk Silvana lalu mulai menyatukan bibir keduanya.
Jika biasanya Silvana akan diam namun kali ini ia mulai membalas Ciuman Zio. Mereka berdua hanyut dalam kelembutan Ciuman itu.
Sret greb
Dalam satu kali tarikan Silvana langsung terduduk di pangkuannya membuat Zio lebih leluasa mencium dan mengabsen rongga mulut Silvana. Ciuman yang awalnya lembut kini mulai berganti menjadi l*****n kecil yang lama kelamaan semakin menuntun.
Zio terus memainkan lidahnya di dalam mulut Silvana bahkan kedua lidah itu saling membelit dan membelai buat Zio semakin menggila. Ciuman mereka semakin menuntut dan liar kini tangan Zio sudah berani mengelus punggung Silvana dengan lembut walau masih terhalang oleh pakaian yang di kenakan Silvana.
" Ngeeeh ah "
__ADS_1
Mendengar ******* Silvana membuat Zio semakin semangat mulai melepaskan bibir Silvana lalu mencium dagu lalu turun di leher Silvana.
" Ah…Zio he…hentikan " Silvana memcoba mendorong dada bidang Zio. Zio menghentikan ciumannya lalu menjauhkan wajahnya dari leher sebelah Silvana
" Maaf Baby aku terbawah suasana " pinta Zio mengelus pipi Silvana dengan sayang.
" Hm tidak apa-apa " jawab Silvana asal sambil memalingkan mukanya untuk menghindari Zio melihat wajahnya yang memerah.
" Turunlah….aku bawakan makanan untuk mu " kata Zio sambil menunjuk kresek yang di sudut mejanya. Dari awal ia memang memegang hal itu tapi Silvana tidak melihat akan hal itu apalagi tadi Ia juga tidak sempat memberikannya lantaran ia terlalu gemes.
Silvana langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Zio. Dengan secepat kilat Silvana turun dari pangkuan Zio lalu menyambar kresek itu. Kedua mata Silvana langsung Berbinar-binar saat melihat bebek panggang full 1 ekor utuh ada di dalam box itu lengkap dengan sayuran.
" Makanlah " Kata Kenzo mengelus lembut kepala Silvana.
Tanpa di suruh untuk kedua kalinya Silvana langsung membawa bebek panggang itu di meja lalu duduk dengan tenang di sofa lalu mulai mengambil 1 paha bagian kanan lalu mulai memakannya.
Nyam nyam nyam
" Menggemaskan " Guman Zio terkekeh lucu melihat pipi bulat Silvana mengembung karna full makanan.
" Kwawu tiwdah mawkawn " Silvana bertanya dengan mulut yang penuh akan daging.
" Aku sudah makan tadi…" Tolak Zio .
" Owwh " Silvana hanya ber oh ria lalu mulai sibuk kembali dengan bebeknya panggangngnya.
Beberapa menit kemudian bebek panggang 1 ekor itu ludes di santap oleh Silvana.
" kenyang-Nya" kata Silvana mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit karna kebanyakan di isi. Silvana bersandar di sofa dengan tenang lalu mulai menutup mata hingga terdengar denguran halus.
Zio yang dari tadi fokus dengan Leptop dan berkas di depannya langsung mengangkat pandangan matanya saat tidak mendengar lagi celoteh Silvana. Kedua mata Zio melembut saat melihat wanitanya tertidur dengan lelap di sofa ruang miliknya.
Zio beranjak berdiri lalu menghampiri Silvana yang berada di Sofa sampai di sofa di angkatnya tubuh mungil Silvana dengan gaya bridal style lalu berjalan menuju rak buku lalu menekan sebuah tombol. Setelah tombol itu di tekan rak buku itu bergeser lalu terlihatlah sebuah ruangan dengan sebuah kasur King size di dalamnya.
__ADS_1
Zio berjalan dengan tenang ke arah kasur lalu meletakkan hati-hati tubuh Silvana di atas kasur itu lalu menarik selimut untuk menyelimuti gadis itu.
Di tatapnya wajah Silvana yang begitu ayu jika sedang terlelap damai seperti ini, di usapnya kepala Silvana dengan lembut lalu mendaratkan satu kecupan di kening dan bibir Pink menggoda itu. Setelah puas memandang wajah ayu Silvana Zio berjalan keluar dari ruangan itu lalu duduk di kursinya dan mulai fokus pada Leptop dan membumbuhkan tanda tangannua di berkas-berkas itu.
Jarum jam terus bergerak dan berputar tak terasa hari telah berganti dengan malam tapi Tak menganggu konsentrasi seorang Zio untuk terus menatap dan menggores berkas-berkas itu. Sedangkan di tempat ruangan rahasia milik Zio Silvana bergerak kiri kanan sepertinya gadis itu akan segera bangun
" Hoanmmmm….." Silvana menguap dengan lebar lalu bangun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Mata Silvana langsung membola saat melihat ruangan asing
" Astaga ini dimana " Silvana langsung meloncat turun dari kasur lalu mengelilingi Kamar itu dengan panik
" Ini dimana…" Silvana berujar dengan panik sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan lalu ia berlari menyibak gorden namun matanya langsung melotot saat melihat pemandangan di bawah sana yang dapat menyakinkan dirinya jika ia pasti berada di gedung yang bertingkat.
" Tunggu-tunggu terakhir aku sedang makan di ruangan Zio lalu setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi itu berarti aku ketiduran dan ada kemungkinan Zio yang membawaku tapi sekarang dimana dia…. Aku harus segera keluar dari ruangan ini " monolog Silvana lalu menghampiri pintu dan mengedor-ngedornya.
Bruk
Bruk
Bruk
" Apa ada orang…..tolong buka pintunya…" Teriak Silvana namun tak ada tanda-tanda jika pintu itu akan di buka.
" Ish kok nggak ada yang buka jangan sampai ruangan ini kedap suara….ini juga sudah malam tapi jam berapa " gerutu Silvana.
Silvana mengetahui jika ini sudah malam karna saat menyibak gorden tadi ia melihat lampu-lampu gedung dan jalanan di bawah.
Bruk
Bruk
Bruk
" Hallo…..tolong buka pintunya " Teriak Silvana lagi tapi tidak ada tanda-tanda untuk di buka.
__ADS_1
" Fiks ini pasti ruangan kedap suara….gimana mau keluar Coba "