Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
Bab 73


__ADS_3

Ceklek


“Sudah aku katakan keluar dari ruanganku!” sentak Silvana yang membalikkan badannya ke arah pintu.


“Kau…,”


"Duduklah!" ucap pria yang baru masuk ke dalam ruangan Silvana.


Silvana hanya menurut kembali duduk ke kursi kerjanya. Sosok yang baru masuk itu segera berjalan masuk duduk di depan Silvana.


"Ada apa Tuan datang menemui ku?" tanya Silvana dengan tenang dan terdengar santai.


Sosok yang baru masuk itu tak lain dan tak bukan adalah Tuan Handoko yang merupakan kakek dari Zio. Tuan Handoko menatap dalam wajah wanita di depannya itu. Wanita yang menjadi pilihan dari cucu semata wayangnya.


"Apa anda juga datang menemui ku hanya dengan memberiku uang dengan imbalan aku pergi meninggalkan cucu anda begitu?" sarkas Silvana dengan sinis.

__ADS_1


Tuan Handoko yang mendengar apa yang di katakan oleh Silvana sontak langsung terkejut. Kenapa wanita itu sampai mengatakan hal itu padanya. Walau dia tidak merestui atau menyetujui cucunya menikah dengan Silvana tapi bukan berarti dirinya akan melakukan hal yang rendah seperti itu.


"Uang? Maksud kamu membayar mu dengan uang begitu?" tanya Tuan Handoko yang menatap tajam Silvana.


"Apalagi? Bukankah itu yang akan Tuan ingin lakukan? Sama seperti apa yang di lakukan oleh wanita pilihan anda itu."


"Apa yang di lakukan Angelina padamu?" Tuan Handoko bertanya dengan nada tidak suka namun, bukan karena tidak suka pda Silvana tapi tidak suka pada Angelina.


"Apa Tuan benar-benar tidak tahu bagaimana kelakuan wanita pilihan anda sendiri itu? Wanita itu bahkan secara terang-terangan menggoda suamiku. Lebih parahnya lagi hari ini wanita itu bahkan dengar berani datang menemui ku dengan seorang kakek tua bersamanya. Bahkan wanita itu bersama kakeknya sampai menghina dan merendahkan aku dengan memberiku sejumlah uang dan juga cek agar aku pergi dari kehidupan cucumu." Terus terang Silvana dengan dada yang bergemuruh nak turun menahan amarah.


Sedangkan Tuan Handoko yang mendengar apa yang di katakan oleh Silvana langsung kaget. Tuan Handoko benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang di lakukan oleh Angelina. Selainitu, Silvana juga mengatakan jika Angelina bersama kakeknya. Itu menandakan jika sahabatnya Tuan Rio sedang berada di negara ini.


"Apa kamu yakin jika itu kakek Angelina?" Tuan Handoko bertanya dengan dahi yang mengkerut dan juga alis yang menyatu.


"Siapa lagi? Apa Tuan berfikir saya berbohong ataukah wanita itu yang menyewa orang untuk berpura-pura menjadi kakeknya. begitu?" Tuding Silvana yang bertambah kesal karena di ragukan oleh kakek tua di depannya itu.

__ADS_1


Tuan Handoko yang masih belum percaya langsung merogoh saku celananya mengeluarkan benda persegi yang selalu ia bawah kemana pun dia pergi.


"Apa pria tua itu adalah pria ini?" Tuan Handoko menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan potret dari Tuan Rio yang merupakan kakek dari Angelina dan juga sahabatnya semasa muda dulu.


"Ya, pria tua yang datang bersama wanita itu adalah pria tua ini." Jawab Silvana ketus.


"Sejak kapan tua Rio itu berada disini? Kenapa Angelina tidak memberiku kabar sama sekali, apa wanita itu menyusun rencana sendiri tanpa sepengetahuanku? Jika itu terjadi maka ini benar-benar keterlaluan. Mereka rupanya sudah tidak menganggap aku ada lagi," Tuan Handoko hanya bisa mengumpat dalam hati karena merasa di bohongi oleh Angelina dan juga Tuan Rio.


"Dengar Tuan, saya emang hanya wanita miskin dari kasta rendah bahkan hanyalah anak yatim piatu. Namun, bukan berati kalian yang memiliki segalanya bisa membeli kebahagiaanku dengan uang yang kalian miliki. Perlu aku tegaskan lagi, walaupun kalian memberikan aku seluruh harta benda kalian. Semua itu tak akan seberapa di mataku di banding dengan kebahagiaanku yang sekarang," terang Silvana yang menatap Tuan Handoko dengan tatapan serius.


"Anda harus tahu Tuan, tidak semuanya bisa di beli dengan uang. Anda juga harus tahu jika di dunia ini masih ada orang yang memilih mempertahankan kebahagiaannya di banding dengan uang. Daripada sibuk memikirkan cara membuat saya pergi jauh dari kehidupan cucu anda. Akan lebih baik, jika Tuan yang menyuruh cucu anda untuk pergi meninggalkan saya. Saya akan pergi di saat suamiku yaitu cucu anda sendiri yang meminta akan hal itu."


Tuan Handoko yang mendengar itu langsung tertegun dan termangu. Ucapan Silvana bagaikan tamparan tak kasat pada pada Tuan Handoko. Baru saja Tuan Handoko membuka mulutnya untuk berbicara kepada Silvana tiba-tiba pintu ruangan Silvana di buka dengan kasar dari Luar.


"SILVANA SAYANG...!"

__ADS_1


__ADS_2