
Waktu terus berjalan hari terus berlalu tak terasa kini hubungan Silvana dan Zio sudah menginjak 1 bulan. selama 1 bulan ini juga Silvana mencoba menyakinkan hatinya untuk menerima Zio sepenuhnya mengingat semua perjuangan Zio selama ini.
Silvana berjalan menuju ruangan Zio yang berjarak beberapa meter dari ruangan miliknya. karna keinginan Silvana yang ingin mempunyai ruangan sendiri akhirnya Zio membuatkan ruangan Silvana yang langsung berhadapan dengan Arga.
Ceklek
Kedua mata Silvana langsung membulat melihat pemandangan di depan matanya.
"EHEM" Silvana berdehem dengan keras hingga Zio langsung terbatuk lalu menoleh ke asal suara.
"Baby" guman Zio pelan namun wajahnya langsung pucat saat melihat Silvana berjalan ke arahnya dengan hawa yang tidak mengenakan.
Zio hanya menelan ludah melihat tatapan tajam Silvana dengan tanduk di kepalanya. Zio sangat mengenal bagaimana bar-bar nya kekasihnya itu jika sudah marah.
Srett
Dugh
Silvana langsung menarik kursi kebesaran Zio lalu duduk di pangkuan Zio dengan kedua tangannya memeluk leher kokoh Zio.
"Dia siapa?" tanya Silvana dengan muka cemberut.
"Bukan siapa-siapa" jawab Zio was-was takut bila tiba-tiba saja Silvana mengamuk.
Jika Silvana mengamuk kepada wanita di depannya ini itu tidak masalah bagi Zio tapi yang di takutkan Zio jangan sampai Silvana malah mengamuk padanya.
"Lalu kenapa kau mau menciumnya" Silvana berkata masih dengan wajah cemberut yang semakin di tekuk.
"Dia yang mendekat padaku baby" ucap Zio.
Mereka terus berbicara tanpa menghiraukan wanita yang sudah memerah karna menahan amarah.
"Hey Nona, turun kau dari pangkuan Tuan Zio. Dasar murahan" teriak wanita itu menahan amarah.
Silvana yang sudah mulai tenang langsung keluar kembali tanduknya saat mendengar wanita itu menyebutnya wanita murahan.
"Coba ulangi" Silvana langsung berdiri dari pangkuan Zio lalu berkacak pinggang menatap tajam wanita di depannya yang sudah berani mengatainya.
"Wanita murahan" tekan wanita itu tersenyum sinis.
PLAK
Wanita itu menoleh ke kanan wajahnya terasa pedih karna tamparan Silvana.
"Lisa?" guman Silvana menatap tag nama wanita itu.
"Dari mananya saya terlihat murahan? apa karna saya duduk di pangkuan Tuan Zio begitu? jika begitu apa masalahnya duduk di pangkuan kekasih sendiri?"
Silvana mencecar wanita yang bernama Lisa itu membuat Lisa membulatkan mata apalagi saat mendengar pengakuan kekasih dari Silvana.
__ADS_1
"Di banding saya yang anda katain murahan lebih baik anda lihat pakaian yang Anda kenakan sekarang. Lengan baju tidak ada, bolong depan bolong belakang, payu**** menggembul keluar, bahkan C***** dalam pun hampir kelihatan. Kamu tidak punya uang untuk membeli baju ya?" ejek Silvana yang semakin membuat emosi Lisa naik.
"Dasar miskin kamu bahkan tidak tau apa fashion?" balas Lisa sengit.
"Fashion dengan jaring laba-laba seperti itu? kalau saya mana mau memakai jaring laba-laba itu. ini kantor Nona Lisa bukan Club untuk mencari sugar Daddy." ejek Silvana dengan senyum manis di bibirnya.
Namun di mata Lisa itu senyum merendahkan dan itu menyebalkan di tambah dia tidak berkutik apa-apa.
Sedangkan Zio hanya bisa menutup mulutnya dengan tangannya untuk menyembunyikan senyum di bibirnya melihat Silvana membalas ucapan Lisa.
"Apa Silvana cemburu?" pikir Zio.
Memikirkan Silvana cemburu semakin membuat Zio tersenyum semakin lebar dalam hati karna dia berhasil membuat Silvana sedikit demi sedikit mempunyai rasa terhadapnya.
"Keluar" perintah Zio datar.
"Tapi Tuan" Lisa hendak protes tapi melihat tatapan tajam Zio ke arahnya dia tidak punya pilihan lain selain keluar.
"Permisi Tuan" kata Lisa lemah lembut serta tatapan menggoda lalu menatap tajam Silvana yang hanya bersedakap dada.
"Awas saja kamu akan aku balas" kata Lisa dalam hati menatap tajam Silvana yang terus menatapnya mengejek.
Lisa segera berjalan keluar dengan melengok lengokan bokongnya.
"Apa perlu aku memakai pakaian seperti itu juga?" Silvana bertanya dengan sarkas.
"Kamu cemburu" tanya Zio dengan mengelus lembut pipi Silvana.
"Kalau iya kenapa?" tanya Silvana balik namun Zio hanya tersenyum.
Secara tidak langsung Silvana mengakui jika dia sedang cemburu dan itu membuat Zio bahagia.
"Sekarang kau mau menjadi kekasih ku sesungguhnya tanpa masa percobaan?" Zio bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bola mata Silvana.
Sedangkan Silvana hanya bisa terdiam dengan degup jantung yang semakin kencang.
"Ayo jawab" ulang Zio lagi.
"Hm" Silvana hanya menganggukan kepala dengan wajah yang bersemu merah.
"Kau menerima ku?"
"Iya"
Grep
Zio segera menarik tubuh Silvana lalu memeluknya dengan erat. berulang kali Ia mengecup ubun-ubun Silvana dengan sayang.
"Terimah kasih" bisik Zio di telinga Silvana yang masih memeluk dirinya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu" ungkap Zio di depan wajah Silvana.
"Aku juga" jawab Silvana tersipu malu.
Zio yang tidak bisa menahan keinginannya lagi langsung menarik tengkuk Silvana lalu mempertemukan bibir keduanya.
Cup
Zio ******* lembut bibir Silvana yang langsung di balas tak kalah lembutnya oelh Silvana pula. mereka berdua larut dalam Ciuman penuh cinta itu tanpa melibatkan hawa nafsu.
Tok
Tok
Tok
"$hit" umpat Zio dalam hati.
Silvana langsung mendorong dada bidang Zio hingga pelukan mereka terlepas. Silvana dengan cepat turun dari pangkuan Zio lalu duduk di kursi depan meja Zio.
"Masuk" teriak Zio dingin.
"Tuan…." Arga langsung menelan ludah melihat keberadaan Silvana di dalam ruangan Tuannya. leher Arga seperti di Cekik hingga sulit bernapas dengan kepala yang patah-patah Arga menoleh ke arah Zio.
"Tamat sudah riwayat ku harusnya tadi aku tidak masuk"
Arga hanya bisa menyesali keputusannya yang ingin segera bertemu dengan Atasannya jika tau begini akhirnya.
"Ada apa?" ucap Zio bagaikan alunan melodi dewa kematian.
"Itu Tuan kita ada meeting dengan Klien dari Dubai" kata Arga gugup.
"Hm. pergilah aku akan segera menyusul" kata Zio yang mengusir halus Arga.
"Permisi Tuan" Arga langsung berdiri lalu berjalan cepat menuju pintu tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Kamu tunggu disini aku akan meeting sebentar" kata Zio mengelus kepala Silvana dengan sayang.
Silvana yang mendengar penuturan Zio langsung mengernyitkan alis menatap Zio dengan curiga.
"Kenapa aku tidak ikut bukankah aku sekretaris kamu juga jadi itu hal biasa bukan jika aku ikut meeting" tanya Silvana bersedakap dada.
"Mana mungkin aku memperlihatkan kamu di depan wajah tua Bangka itu. aku takut dia menargetkan kamu sebagai mangsanya mengingat dia sangat menyukai wanita cantik" kata Zio dalam hati.
"Jangan perpikir macam-macam aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak"
"Jika kamu ingin tidur kamu masuk saja di ruangan pribadiku" lanjut Zio mengecup kening Silvana lalu pergi meninggalkannya di ruangannya.
"Sudahlah lebih baik aku tidur lagian semua pekerjaan aku semua sudah selsai" guman Silvana beranjak mendekati lemari rak buku.
__ADS_1