
“Aku hamil,” ungkap Mona dengan gamblang.
“Lalu?”
Melihat respon Silvana diam-diam Mona tersenyum licik. Mona memberi kode beberapa orang suruhannya jika saatnya mereka bekerja.
Bruk
Silvana yang tadinya acuh kini terlihat kaget dengan apa yang di lakukan oleh Mona.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Silvana.
“Kamu memintaku berlutut aka aku lakukan. Tapi aku mohon lepaskan pria itu untukku, aku sedang hamil anaknya. Aku mohon Silvana.” Ucap Mona dengn derai air mata.
Silvana yang mendengar itu tentu saja bingun dan heran. Kenapa wanita itu berlutut dan memohon-mohon seperti itu pikir Silvana.
Namun, Silvana langsung tersadar setelah mendengar bisikan para pengunjung cafe yang justru memojokkannya.
“Oh rupanya ingin menjebakku he?”
Silvana dengan anggun berdiri dari kursinya menatap remeh ke arah Mona yang sedang berlutut.
“Kamu hamil? Lalu anak siapa? Jangan hanya dengan enteng mengatakan aku melepas pria itu. Pria mana yang kau maksud?” Sinis Silvana dengan suara kencang.
“Jika suamiku Zionard tidak mungkin menghamili wanita perebut sepertimu,” Lanjut Silvana lagi.
“Aku hamil anak Doni, jadi aku meminta kamu lepaskan Doni. Bukankah kamu sudah menikah lalu apa gunanya menahan Doni di sisimu sebagai simpananmu?”
Plak
Silvana yang mendengar apa yang di katakan Mona langsung melayangkan tamparan di wajah wanita itu. Mungkin jika hanya merecos biasa Silvana akan diam. Namun, berani sekali dia mengatainya dengan memelihara simpanan.
“Bukankah Doni dulu adalah kekasihku yang kamu rebut? Bahkan tanpa malu kalian juga beberapa kali keluar masuk hotel hanya untuk memuaskan nafsu dahaga kaian itu? Sekarang kenapa datang memohon-mohon padaku?”
“Oh ternyata dianya yang pelakor?”
“Cih tadi sok tersakiti, eh nyatanya dia dalang utamanya?”
“Nggak malu apa hina dan fitnah orang?”
“Dasar wanita bermuka dua,.”
Mona yang mendengar itu tentu panik sendiri. Bukan ini yang dia mau, dia ingin Silvana yang di pojokkan dan di hina bukan dirinya. Mona menggertakan gigi dengan tangan yang mengepal kuat-kuat.
“Aku tidak merebut Doni, dia sendiri yang datang padaku. Salahkan saja kamu yang tidak bisa memuaskannya.”
__ADS_1
“Karena tubuh saya mahal! Tidak seperti kamu yang menjajahkan tubuhmu kepada pria yang mendatangimu. Entah berapa pria yang menjamah mu,”
“Kau…,”
“Kalian semua jaga suami kalian baik-baik siapa tahu pelakor ini juga menargetkan suami kalian. Terutama suami kalian yang dompetnya tebal.”
Setelah berkata seperti itu Silvana langsung berbalik pergi begitu saja. Dirinya memang miskin tapi ia tidak akan membiarkan siapapun menghina dirinya. Dia kalah materi tapi harga dirinya adalah yang tertinggi dari segalanya.
"Huuuu dasar pelakor..!"
"Munafik."
"Perebut mur4h4n memang."
Mona langsung keluar dari Cafe itu dengan berjalan tergesa-gesa. Ia tidak menduga akan seperti ini pada akhirnya. Niat hati ingin menjebak Silvana justru dirinya yang di permalukan.
Baru saja keluar dari Cafe Mona langsung di kagetkan dengan adanya Arga di depannya.
"Tuan A..,Arga..,"
"Silahkan ikut saya, Tuan saya ingin bertemu dengan anda." Kata Arga datar langsung berbalik berjalan meninggalkan Mona.
Mona yang mendengar itu tentu kaget, dirinya seketika di hantui rasa takut. Bagaimana jika ternyata Zio mengetahui apa yang baru saja dia lakukan?
Dengan langkah pelan Mona mengikuti langkah kaki Arga hingga berhenti di sebuah mobil mewah. Terlihat Arga yang langsung sigap membuka pintu jok belakang.
Mau tak mau Mona terpaksa menurut dengan segera masuk ke dalam mobil itu.
“Selamat siang Tuan.” Mona dengan susah payah menelan salivanya.
“Apa yang kau katakan pada istriku?”
“Ma…maksud Tu…,Tuan a-apa?”
“Jangan pernah ganggu lagi Istriku, jika tidak. Maka aku akan membongkar semua kisahmu ke publik.”
Arga dengan tenang berdiri di luar Mobil dengan memperhatikan sekitar jangan sampai ada yang menyadari keberadaan Tuannya disini.
Hingga beberapa menit kemudian Mona keluar dari mobil itu dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi wajahnya. Arga yang melihat itu hanya acuh kembali menutup pintu dan masuk ke dalam mobil menghidupkan mobil lalu pergi dari area Cafe itu.
“Sial, kenapa wanita sialan itu selalu lebih unggul dibanding aku. Dulu Doni sekarang putus dengan Doni dia malah menikah dengan Tuan Zio pria mapan kaya raya. lalu aku harus apa sekarang? Aku tidak mungkin mendekatinya lagi.”Dengan kekesalan yang berada di ubun-ubun Mona pergi dari sana.
Di tempat lain Silvana baru masuk ke dalam ruangan Zio namun, tidak menemukan keberadaan pria itu.
“Kemana dia?” guman Silvana yang menuju ruang pribadi Zio tapi juga kosong.
__ADS_1
Ceklek
“Sayang kamu disini?”
Silvana menatap heran Zio yang baru masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa? Kenapa melihatku seperti singa yang siap menerkam?” Tanya Zio tak lupa mengecup kening Silvana.
“Kamu dari mana? Kok baru masuk?”tanya Silvana dengan nada introgasi.
“Aku dari luar membelikan kamu ini.” Zio segera menujukan sebuah kotak persegi pada Silvana.
Walau masih dengan perasaan yang kurang percaya Silvana tetap mengambil kotak itu.
“Ini apa?”
“Buka saja.”
Silvana hanya menganggukkan kepala dengan gerakan hati-hati Silvana membuka kotak itu. Mata wanita itu langsung berbinar melihat apa yang ada di dalam kotak itu.
“Ini untukku?”
“Hm, kemari ku pakaikan,”
Zio segera mengambil kalung di dalam kotak itu berjalan di belakang Silvana memakaikan kalung itu di leher jenjang sang istri. Kalung yang memiliki model sederhana dengan sebuah batu merah yang jadi mata kalung itu. Tidak haya kalung ternyata perhiasan itu sepasang dengan gelangnya yang bertuliskan Z&S.
“Kamu suka?”
“sangat, ini sangat indah.” Jawab Silvana dengan senyuman manis di bibirnya.
“Syukurlah.” Bisik Zio yang memeluk Silvana dari belakang.
“Kamu sudah makan siang?” Zio bertanya dengan panik, pria itu lupa membeli makanan tadi.
Silvana tak menjawab tapi menggelengkan kepala tanda belum makan siang. Tadinya Silvana berfikir untuk makan siang bersama Mona. Tidak tahunya wanita itu justru menjebaknya dan membuatnya naik darah karena kesal. Karena terlanjur kesal Silvana sampai langsung kembali ke perusahaan tanpa memesan makanan.
“Ya sudah kita duduk saja dulu, aku akan memesan makan siang untuk kita.” Ucap Zio yang langsung mendudukan Silvana di sofa dengan dia yang langsung memesan makanan lewat online.
Tok
“Mauk,”
“Tuan ini pesanannya,” ternyata yang membawa makanannya adalah Arga.
“Letakan saja di sana,” Zio langsung berdiri dari kursi kerjanya menuju Sofa.
__ADS_1
Seperti biasa Silvana akan mengambilkan untuk Zio dulu baru dirinya. Keduanya makan dalam diam karena memang perut sudah kelaparan sejak tadi. Hingga beberapa saat kemudian makanan itu ludes tanpa sisa habis dimakan oleh mereka berdua.