Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 54


__ADS_3

Di bandara internasional negara Inggris lebih tepatnya di London berjalan seorang pria tua dengan di temani seorang gadis muda yang menjadi pusat perhatian karna gadis itu merupakan Angelina seorang model internasional yang sangat terkenal dan di kenal hampir semua orang.


Para awak media yang ada disitu segera mengejar sang model. Bersyukur Tuan Handoko sudah menyiapkan beberapa bodyguard yang akan menjaga mereka saat sampai di London. Terlihat Tuan Handoko dan Angelina berjalan dengan cepat dan di jaga puluhan bodyguard.


"Kek, apa kita akan langsung menuju ke tempat Zio?" Tanya Angelina saat mereka sudah berada di mobil.


"Tidak bisa Angelina, kita harus ke hotel dulu jika sampai menemuinya di mension itu akan bahaya." Kata Tuan Handoko.


Angelina yang mendengar ucapan dari Tuan Handoko hanya bisa mendengus kesal karena kemauannya tidak di turuti oleh Tuan Handoko. Namun, Angelina tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita muda itu hanya bisa menurut mengikuti kemauan dari Tuan Handoko.


Sedangkan di tempat lain Zio dan Silvana baru sampai di mension mereka. Silvana turun dari mobil di susul oleh Zio yang langsung menuju bagasi mobil. Silvana yang melihat itu segera menuju ke arah Zio bermaksud untuk membantu sang suami mengangkat beban belanjaan mereka.


“Eh apa yang kamu lakukan sayang?” Tanya Zio seketika saat melihat Silvana menyentuh barang belanjaan mereka. Tatapan pria seketika menajam dengan meatap tajam tangan sang istri.


“Aku mau bantu kamu.” Jawab Silvana seadanya membuat Zio melototkan matanya.


Seketika saat itu juga Zio melepas beban di tangannya menghampiri sang istri yang terlihat sungguh-sungguh ingin mengambil kresek itu.


“Sayang, simpan itu. Lebih baik kamu membuatkan aku juz atau minuman dingin, Suamimu ini merasa sangat haus dan butuh yang segar-segar.” Ungkap Zio yang melepas tangan Silvana dari kresek di depan mereka.


“Aku akan membuatkannya setelah masuk ke dlam, sekarang biarkan aku membantumu.” Balas Silvana yang kembali mengulurkan tangannya dengan niat untuk mengambil kresek di tangan Zio.


“Sayang aku sudah sangat haus segera pergi buatkan aku minuman.”

__ADS_1


Silvana yang mendengar apa yang di katakan oleh Zio hanya bisa menghela napas kasar sebelum berbalik melangkah cepat menuju pintu mension. Sedangkan Zio pria itu segera mengangkat semua bahan belanjaan mereka lalu menyusul Silvana di depan sana. Sampai di dapur Zio tanpa di minta pria itu langsung menata belanjaan mereka dengan teratur di dalam kulkas. Sedangkan Silvana wanita itu sedang fokus membuatkan juss Zio sehingga tidak menyadari apa yang di kerjakan oleh sang suami. Bahkan Silvana tidak sadar jika Zio berdiri di belakangnya memperhatikan dirinya.


Setelah beberapa saat akhirnya minuman pesanan sang suami selesai juga. Wanita itu berbalik bermaksud untuk mencari keberadaan Zio. Namun, mata wanita itu membulat sempurna saat melihat jika orang yang dia ingin cari berada di depannya.


“Kamu… Sejak kapan kamu ada disini Sayang?”Silvana bertanya dengan syok saat melihat Zio berada di sekitar itu.


“Dari tadi sayang, bukankah sudah aku katakan jika aku kehausan jadi aku mengikuti kamu kesini.” Ujar Zio yang mengambil juss di tangan Silvana lalu meminumnya hingga tandas hanya dengan satu kali tumpah di dalam mulut. Seakan-akan Zio tengah membuktikan jika dirinya benar-benar kehausan.


“Masih mau?” Tawar Silvana saat melihat gelas sang suami kosong.


“Tidak ini sudah cukup.” Balas Zio yang meletakkan gelas kosong itu di atas meja pantry.


Skip….


“Seben…tar lagi sa..sayang.” Ucap sang pria yang terus memacu dirinya.


Suara merdu itu terus menyanyikan shadu dengan bisikan cinta yang terus keluar dari mulut sang pria.


“Aku mencintaimu Silvana…. Ah..” Ungkap Zio yang melepaskan tembakan di dalam diri Silvana.


“Aku mencintaimu.” Bisik Zio di sisa-sisa napasnya yang memburu.


Hosh hosh hosh

__ADS_1


Terdengar suara napas keduanya yang masih ngos-ngosan setelah melalui percintaan yang dashyat. Zio bergulir di samping Silvana membawa gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. Pria itu melirik jam yang menunjukan pukul 3:00 dini hari.


Huuuuh


Terdengar helaan napas Zio saat melihat jika sudah selarut itu. Tatapannya turun pada wanita yang berada di pelukannya itu. Wanita itu tertidur lelap setelah melayaninya yang terus meminta dan meminta tanpa di sadari akan berakhir seperti ini.


“Maafkan aku sayang, pasti kamu kelelahan.” Bisik Zio yang merapikan rambut yang menghalangi wajah dari sang istri.


“Kamu cepat hadir ya, aku tidak ingin di pisahkan dari wanita yang akan menjadi ibumu. Pria tua itu pasti sudah tahu berita pernikahanku, dia pasti akan mencoba memisahkan aku dengan Silvana. Aku harus segera membuat Silvana hamil dengan begitu Pria tua itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Lagipula mau hamil atau tidak aku tidak akan pernah membiarkan Silvana jauh dariku apalagi jika harus berpisah.” Guman Zio dengan tangannya yang mengelus perut rata sang istri.


Jika Zio dan Silvana sedang menjalani hari bahagia maka berbeda dengan seorang pria yang duduk di balkon kamarnya dengan menatap langit terang. Sosok itu tak lain tak bukan adalah Doni. Entah sejak kapan pria itu duduk termenung disana. Bahkan pria itu tidak menyadari jika saat ini sudah menjelang dini hari.


Pria itu menatap langit terang dengan pandangan kosong dan air mata yang terus mengalir dari dua sudut matanya. Hatinya sakit dan tidak rela bila harus kehilangan Silvana wanita yang di cintainya dengan segenap hatinya.


“Kenapa di saat aku sudah mulai berubah, justru kamu yang menjauh Vana? Kenapa di saat aku memantapkan hatiku justru kamu dengan tenangnya menikah dengan pria itu? Apa salahku? Aku hanya melakukan sedikit kesalahan dengan meniduri wanita lain. Namun, itu bukan salahku tapi itu juga salahmu yang tak bisa membuatku puas.” kata Doni dengan sorot tatapan tajam.


Tanpa Doni sadari, kesalahan yang di anggap olehnya hanya kesalahan kecil nayatanya bagi wanita yang seperti Silvana yang begitu menjunjung tinggi kehormatannya itu adalah kesalahan paling fatal dan tidak akan bisa termaafkan. Mungkin di luar sana ada wanita yang dengan suka rela atau hanya diam saja saat pasangannya melakukan pengkhianatan. Tetapi tidak dengan Silvana yang sangat membenci kasus itu. Pria yang pernah mengkhianati kamu maka selamanya dia tidak akan bisa setia denganmu ataupun dengan wanita lainnya. Sama seperti kasus Doni yang melakukan pengkhianatan tidak hanya sekali tapi berulang-ulang kali. Apa ada jaminan jika pria itu bisa setia.


Lagipula jika ada wanita yang membiarkan pasangannya untuk selingkuh atau berkhianat padanya, itu adalah hal yang di pertanyakan. Apakah wanita itu benar-benar mencintaimu atau tidak. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang mau jika hak miliknya harus di bagi apalagi jika pasangannya.


“Kamu kira dengan menikah aku akan melepaskanmu? Tidak akan! Silahkan nikmati pernikahan kamu yang semu itu. Karena beberapa saat lagi aku akan muncul merebutmu dari sisi pria bajingan itu.” Guman Doni dengan senyum sinis kembali meneguk minuman beralkohol di tangannya.


Cinta hanya akan berujung pada dua arah yaitu kebahagiaan dan kesengsaraan. Sama seperti yang di inginkan oleh Doni yang tanpa sadar jika yang di rasakannya sekarang ini bukanlah cinta lagi melainkan sebuah obsesi terhadap Silvana. Obsesi yang memikirkan segala cara agar dirinya bisa memiliki objek obsesi tersebut tanpa memperdulikan dengan apa yang di rasakan oleh objek obsesi.

__ADS_1


__ADS_2