
"Diam! aku mau tidur" potong Silvana yang penuh penekanan.
Zio yang mendengar itu hanya bisa menghela napas dengan berat. Dengan lembut Zio memeluk Silvana dari belakang hingga beberapa menit kemudian Zio mendengar denguran halus Silvana yang menandakan jika gadis itu telah tertidur.
Zio membuka selimut lalu turun dari ranjang dengan pelan. Zio menatap Silvana sejenak sebelum melangkah ke kamar mandi milik Silvana.
Huuh
"Dia ganas juga" Guman Zio yangengelus dadanya yang tertera beberapa tanda cinta dari Silvana.
"Bukankah ini tidak adil? Dia memberiku ini sedangkan aku tidak meninggalkan jejak apapun padanya"
Zio hanya bisa tersenyum-senyum melihat tanda merah di dadanya itu. Namun beberapa saat senyum Zio pudar terganti dengan wajah masam karna membuat kekasihnya kecewa dengan penolakannya.
"Aku memang mengingkannya tapi aku terlalu gugup. Sial, harusnya aku tidak segugup ini. Kenapa malah aku yang menjadi seperti wanita yang ingin di renggut kesuciannya?" Gerutu Zio yang Merutuki kebodohannya sendiri.
Zio memang tidak akan melakukan hal itu tapi jika Silvana yang meminta maka akan dia lakukan. Zio benar-benar menginginkan Silvana Namun tiba-tiba dia di serang rasa gugup membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menolak Silvana.
Zio memang tidak pernah jatuh cinta atau mengenal apa itu cinta. Jangankan jatuh cinta dekat dengan wanita saja tidak pernah. Bahkan Zio melarang wanita mendekati lebih dari jarak 1 meter kecuali itu adalah koleganya.
Silvana adalah wanita pertama yang menarik perhatiannya, wanita pertama yang dia dekati dan wanita pertama pula yang menjadi cinta pertama dari seorang Zionard Dewantara.
Setelah beberapa menit Zio keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobes biru milik Silvana.
Di lihatnya Silvana yang masih pada posisi awal saat di tinggalkan tadi. Zio dengan pelan naik ke atas ranjang menarik Silvana masuk dalam pelukannya.
"Maaf sayang…. Aku membuatmu kecewa tapi aku janji lain kali aku tidak akan melakukannya lagi aku…. Hanya perlu waktu" bisik Zio yang mengecup bibir dan kening Silvana singkat.
Cup
Cup
"Selamat tidur bidadariku"
Zio menutup mata dengan bibir yang melengkung menyusul sang kekasih menuju alam mimpi.
Sedangkan di tempat lain terlihat seorang pria yang tengah meneguk sebuah minuman haram langsung dari botolnya. Sosok itu tak lain dan tak bukan ada Doni sang Mantan kekasih Silvana.
"Maafkan aku Vana…"
Gluk
"Maafkan aku… aku sadar semua salahku karna berselingkuh dengan ****** itu"
"Tapi hiks…. Aku melakukan itu karena tak ingin menyentuh kamu. Aku mencintaimu Silvana Aurora" kata Doni yang menatap sendu foto Silvana di depannya.
Gluk
__ADS_1
Sudah keseharian Doni yang terus seperti ini setiap malam. Melampiaskan penyesalannya dengan terus mengkonsumsi minuman beralkohol itu.
"Aku mencintaimu Vana"
Bruk
Entah pingsan atau tertidur hanya Tuhan yang tau. Doni tergeletak begitu saja dalam kamar Apartemen miliknya dengan beberapa botol alkohol yang telah kosong berserekan di sekitarnya.
Mentari pagi masuk menyinari kamar yang tidak terlalu luas itu membuat sosok pria yang tengah tertidur terbangun dari tidur lelapnya.
"Sudah pagi" Guman pria itu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Silvana sayang sudah…… lho Silvana mana?" Kaget Zio yang melirik di sampingnya tidak ada Silvana.
Dengan gerakan cepat Zio langsung turun dari ranjang lalu keluar mencari keberadaan Silvana.
"Silvana….!"
Beberapa kali Zio memanggil nama Silvana namun sang empu belum juga muncul.
"Mungkin di dapur" Guman Zio yang menuju dapur.
Sampai di dapur Zio hanya bisa menelan kekecewaan karna tak menemukan sang kekasih. Namun matanya terpaku pada meja makan yang telah tersedia segelas kopi dan sepiring nasi goreng yang masih mengeluarkan uap. Melihat itu bibir Zio melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman tipis.
"Dari wanginya sepertinya enak" Guman Zio yang duduk di kursi.
Zio dengan lahap memakan nasi goreng buatan Silvana hingga habis tidak tersisa. Setelah itu baru meminum kopinya sampai habis.
"Apa Silvana masih marah sama aku gara-gara tadi malam?"
"Ck aku harus kembali membujuknya. Ini semua salahku kenapa juga aku harus gugup seperti itu" gerutu Zio yang mandi di kamar mandi milik Silvana.
Beberapa saat kemudian Zio keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang begitu menambah ketampanannya.
"Astaga aku lupa aku tidak punya pakaian ganti dan kemeja ini…….Sial" umpat Zio yang langsung mengirim pesan pada Arga untuk meluncur kesini.
"Huh dia benar-benar ganas bagaimana bisa kancing bajuku di lepas semua" Guman Zio yang memijit pelipisnya.
Ting Tong
"Itu pasti dia" Guman Zio yang langsung menuju pintu.
Ceklek
"Berikan" kata Zio datar.
Arga yang melihat jika Bosnya yang hanya bertelanjang dada dengan handuk yang di lilitkan pada pinggangnya membuatnya diam mematung seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat…!" Sentak Zio yang menatap tajam Arga.
"Eh ma…maaf Bos… I…ini pakaian anda" kata Arga dengan gugup.
"Sudah lama malah membuat kesal pula" kata Zio yang langsung menyambar Paber bag yang di sodorkan Arga.
"Bos sudah……. Astaga ternyata Bos gercep juga. Tapi kenapa dada Bos merah-merah seharusnya kan Nona Silvana yang merah-merah atau jangan-jangan….. Bos yang di perkosa oleh Nona Silvana" teriak Arga yang langsung membekap mulutnya saat tersadar jika dia berteriak.
"Apa Bos menolak alku setelah itu nona Silvana marah dan memperkosa si Bos…" Guman Arga yang menerka-nerka apa yang terjadi dan yang di lalui oleh Zio dan Silvana.
"Kalau begitu Nos lemah amat masa kalah sama wanita yang harusnya memimpin permainan kan laki-laki masa Bos malah di perkosan Nona Silvana"
Plak
"Berani kamu membicarakan Bos mu ha…..? Di tambah dengan seenak jidat mu yang lebar itu, kamu meremehkan aku ha….?" Kata Zio yang menunjuk dahi Arga dengan kesal.
"Ma…maaf Bos sa…saya ha…hanya menebak ka…karna melihat jika di da…dada anda banyak tanda merah…"
"Jadi kamu menebak aku di perkosa begitu" sentak Zio yang menatap tajam Arga.
"Benar Bos ups……."
Arga langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari apa saja yang baru dia ucapkan.
"Bos…."
"Gaji kamu di potong 50%" kata Zio penuh penekanan.
"Tapi Bos saya….."
"Pilih potong 50% atau kamu saya pecat?"
Glek
"Po…..tong saja B…Bos" kata Arga dengan gugup.
Bagaimana tidak gugup Bos-nya itu bahkan menatapnya sangat tajam.
"Itu akibatnya karna berani meremehkan ku," ucap Zio sinis berlalu pergi meninggalkan Arga yang hanya bisa meratapi nasibnya.
"Nasib-nasib gini amat punya Bos arogant modelan Bos Zionard. Aku kan hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Lagi pula siapa coba yang tidak berpikiran seperti itu. Masa dada Bos bisa di hiasi dengan tanda itu jika tidak di perkosa" Guman Arga yang masih terdiam mematung di depan pintu Apartemen Silvana.
"ARGA MAU DI PECAT KAMU HA…..?"
Dhuaarrrr
"TIDAKK…….!"
__ADS_1