Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 43


__ADS_3

"Baiklah, jika dengan cara seperti ini tidak mempan yah tinggal aku jebak." Ucap Mona dengan senyum licik terbit di bibirnya.


Mona tidak peduli jika Doni mau membencinya atau tidak mencintainya. Bagi Mona itu tidak penting karna yang penting adalah menjadi Nyonya Atmadja.


Soal cinta sekarang mudah, Mona yakin seiring berjalannya waktu Doni bisa mencintainya juga.


Mona beranjak berdiri berjalan menuju kamarnya. Sampai di kamar Mona langsung menuju lemarinya mengambil sesuatu disana.


"Syukur masih ada ini," Guman Mona yang tersenyum miring untuk menjalankan rencananya.


"Aku tidak peduli mau kamu benci atau tidak yang jelas kamu harus menjadi milikku. Enak saja setelah apa yang selama ini aku korbankan kamu ingin kembali bersama mantan kekasih kamu itu? Tidak akan..! Kamu hanya milikku. Jadi, mau tidak mau kamu harus menerima aku di sisi mu karna dengan ini kamu akan terikat denganku." Lanjut Mona yang tersenyum licik.


Hari berlalu dengan cepat tak terasa hari sudah di ganti dengan malam. Doni yang baru menyelesaikan pekerjaannya langsung merapikan meja dan berkas-berkasnya di susun rapi.


Doni berjalan keluar dari ruangannya menuju lift dan turun ke lobby perusahaan. Sampai di lobby Doni langsung mencari mobilnya menaikinya dan pergi dari area perusahaan. Doni menjalankan mobilnya berlawanan arah dengan mension milik Daddynya. Jelas..! Karna Doni tidak menuju mension milik Daddynya melainkan apartemen Mona kekasih gelap atau juga bisa di katakan pemuas nafsunya.


Setelah berkendara beberapa menit akhirnya Doni sampai di gedung tempat Mona tinggal. Doni dengan langkah terburu-buru keluar dari mobil masuk ke dalam keduanya itu.


Doni berjalan cepat ke arah lift menekan lantai tempat Mona hingga beberapa saat kemudian lift berhenti di lantai yang di tujuh oleh Doni. Doni keluar dari lift menuju unit Mona yang berada di ujung sana.


Doni sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya termaksud memutuskan untuk tidak pernah menemui Mona lagi. Doni sadar dia benar-benar tidak bisa apa-apa tanpa Silvana di sampingnya. Doni menyesal sangat menyesal karna mengkhianati cinta mereka hanya karna sebuah nafsu semata.


Sampai di depan pintu apartemen sang kekasih gelap Doni langsung mengetok pintu apartemen Mona. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu di buka oleh sang pemilik apartemen.


Ceklek


"Akhirnya kamu datang juga." Ucap seorang wanita yang baru membuka pintu dengan pakaian yang kurang bahan.

__ADS_1


Glek


Doni menelan salivanya dengan susah paya matanya membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Pria mana yang tidak akan tergoda bila melihat tubuh yang begitu menggoda di depan mereka. Kucing saja kalau di sodorin ikan asin walau kenyang yah tetap di sambet apalagi manusia yang akan sangat haus akan nafsu.


Apalagi Doni yang pernah beberapa kali menyentuh dan merasakan tubuh wanita di depannya itu. Tak bisa di bohongi jika lagi-lagi iman Doni terguncang menyaksikan pemandangan indah di depannya itu. Namun, kali ini Doni bertekad akan mengakhiri semuanya sebelum semua itu terlambat.


Benar apa yang di katakan oleh Tuan Riko selaku sang ayah semuanya belum terlambat jika melepas semuanya. Namun, akan sangat terlambat jika Doni tidak bisa melepaskan diri di mulai dari sekarang.


Grep


"Aku sangat merindukan mu sayang." Ucap Mona yang langsung masuk di pelukan Doni.


Doni yang merasakan tubuh Mona menyentuhnya langsung menegang apalagi bau parfum yang di oakain Mona adalah parfum yang mengandung perangsang membuat lawannya bergairah.


"Mona… lepas dulu." Dengan susah payah Doni menjauhkan Mona dari tubuhnya.


"Ada apa kamu menyuruhku untuk datang kesini?" Tanya Doni yang berusaha untuk tetap tenang.


"Masuklah dulu, kita omongin di dalam. Ada hal penting yang harus aku bicarakan." Ujar Mona yang tersenyum manis.


Doni yang mendengar ajakan dari Mona tidak langsung menyetujuinya untuk masuk ke dalam apartemen milik wanita itu. Mona yang melihat keterdiaman Doni langsung mengepalkan tangan.


"Sialan, ini tidak bisa di biarkan. Pokoknya malam ini Doni harus menjadi milikku! apapun yang terjadi dia harus masuk." Kata Mona dalam hati.


"Masuklah dulu, ada hal yang ingin aku sampaikan mungkin juga ini adalah pertemuan terakhir kita." Ucap Mona dengan pandangan sendu pada Doni.


Doni yang mendengar penuturan dari Mona langsung menatap wanita di depannya itu. Dapat di lihat oleh Doni pandangan sendu Mona ke arahnya membuat Doni mulai luluh. Apalagi mengingat dia juga ada hal yang ingin di sampaikan kepada Mona.

__ADS_1


"Ada baiknya aku menyetujui ajakannya. Lagipula sepertinya ini memang adalah pertemuan terakhir kamu karna setelah ini aku akan fokus pada perusahaan dan mengejar cinta Silvana kembali. Tak ada salahnya bukan aku masuk di tempat ini untuk terakhir kalinya?" Ucap Doni dalam hati yang menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan.


"Baiklah ayo kita masuk, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu." Ujar Doni setelah terdiam cukup lama.


Mona yang mendengar itu langsung tersenyum lebar. Dengan cepat pula dia membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Doni masuk ke dalam apartemen miliknya. Tidak seperti biasa Mona akan langsung menempeli Doni kali ini wanita itu justru menuju dapur hingga datang dengan segelas kopi di tangannya.


"Minumlah untuk merilekskan diri." Ucap Mona lembut yang meletakan kopi buatannya di depan Doni sebelum beranjak duduk di sofa depan Doni.


Lagi lagi Doni hanya menatap heran kelakuan Mona yang tidak menempelnya tapi itu tidak masalah bagi Doni karna Doni juga menginginkan mereka akan seperti ini.


Tanpa rasa curiga sedikitpun Doni langsung mengambil kopi di depannya lalu mulai meneguk sedikit demi sedikit. Matanya menelisik Mona yang sedari tadi hanya diam saja dengan terus memasang wajah penuh senyum manis di bibirnya.


"Yes, lagi lagi kamu masuk di perangkap ku Doni. Sampai mati pun kamu hanya milikku, hanya milik Monalisa." Sorak Mona di dalam hati yang tersenyum licik karna Doni masuk dalam perangkapnya.


"Doni aku rasa ada baiknya kita akhiri semua ini, ku rasa apa yang kita lakukan ini salah." Ucap Mona yang berpura-pura memasang ekspresi sedih dan raut wajah bersalah.


"Apa maksud kamu?" Tanya Doni datar walau sebenarnya dia sudah tahu arah mana ucapan Mona.


"Ma….maksud aku adalah kita akhiri semuanya, antara kamu dan aku berakhir disini. Selama ini aku tahu kamu hanya menjadikan aku selingkuhan mu dan tentunya pemuasmu." Terang Mona dengan pura-pura meremas jari-jarinya.


Haaaah


Doni menarik napas dalam-dalam menarik dasinya yang seperti mencekiknya.


"Maafkan aku, karna aku hanya bisa menjadikan kamu seperti itu. Dari awal aku tidak mencintai kamu ataupun wanita lain yang menjadi partner ku di atas ranjang. Aku hanya butuh kepuasan karna yang aku cintai hanya satu yaitu Silvana." Terus terang Doni.


Penuturan Doni barusan bagaikan belati yang menghujam dada Mona. Walaupun tidak mencintai Doni sungguh-sungguh tapi tetap saja hatinya terasa sakit apalagi setelah mereka bersama kurang lebih 3 tahun. Dengan Doni yang memberikannya segela perhatian yang tiada tara dan mengutamakan ya di bandingkan Silvana membuat Mona sedikit memiliki rasa ingin di perhatikan oleh pria itu.

__ADS_1


"****** sialan! Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Doni dariku. Kenapa bahkan di saat putus pun wanita sialan itu masih terus ada di hati pria bodoh ini." Umpat Mona yang mengepalkan tangannya.


__ADS_2