Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 46


__ADS_3

Sesulit apapun rintangannya akan aku lewati untukmu. Kmau hanya milikku, hanya milik Doni Atmadja bukan milik pria lain apalagi oleh pria brengsek itu. Tunggu aku, aku akan segera datang padamu.” Kata Doni dalam hati.


Tuan Riko yang memanggil-manggil nama Doni namun sang empuh tidak menyahut langsung menepuk bahu sang putra.


TAK


“Eh… maaf ada apa Dad..?” Tanya Doni yang kurang fokus.


“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Tuan Riko pada Doni yang terdiam.


“Ah tidak ada, aku hanya berpimkir bagaimana langkah apa yang akan aku ambil di masa depan agar perusahaan ini semakin maju.” Kata Doni dengan nada serius namun nyatanya kebohongan.


Tuan Riko yang mendengar pa yang dikatakan oleh Doni langsung tersenyum tipis. Ternyata putranya benar-benar sudah berubah.


“Lakukan apa yang menurutmu benar daddy akan mendukung kamu dari belakang.” Timpal Tuan Riko dengan wajah yang penuh senyuman di bibirnya karna putranya sudah berubah menjadi yang lebih baik lagi.


“Baik dad.” Jawab Doni yang menganggukkan kepalanya.


“Jika begitu daddy pulang dulu, masalah perusahaan daddy serahkan pada kamu. Sudah waktunya daddy istirahat di usia ua seperti ini.” Kata Tuan Riko yang beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Sebelum pergi Tuan Riko sempat memberi tepukan pada bahu Doni sebagai bentuk dukungan jika dia percaya jika Doni bisa menjalankan dan memajukan perusahaan Atmdja di tangannya.


Doni menatap punggung Tuan Riko hingga sampai Tuan Riko menghilang di belakang pintu.


Di tempat lain seorang wanita baru saja keluar dari ruang ganti dengan menggunakan gaun putih yang begitu indah dan pas di tubuhnya. Sosok wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Silvana yang sedang menggunakan gaun puttih pernikahan hari ini dia akan menikah dengan Zio.


Pernikahan?


Bahkan Silvana tidak tahu menahu akan hal itu sedikitpun dirinya tidak di beritahu. Silvana baru bangun dari tidurnya dan Zio sudah berdiri tegak di dalam kamarnya.


Tanpa bertanya sudah mandi atau ttidak Zio langsung membopong dirinya pergi dari apartemen miliknya hingga kini dirinya berada disini. Silvana di dandani dengan sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan mempesona.

__ADS_1


Silvana baru tahu jika dia akan menikah setelah dirinya sampai di ruangan ini dan Zio mengatakannya jika hari ini adalah pernikahan mereka.


“Anda sangat cantik nona… Panttas jika Tuan Zionard begitttu mencinttai anda.” Puji salah satu mua yang menatap wajah Silvana yang sangat terlihat sangat cantik.


Silvana diam menatap pantulan dirinya di cermin sana. Sekali lihat Silvana pun ikuut langsung terpesona pada penampilannya sendiri. Dirinya yang dulunya bagaikan upik abu kini dirinya menjelma menjadi ratu.


Di akui menampilannya sekarang begittu sempurna tak terlihatt kecatatan sedikit pun pada dirinya. Tapi tak bisa memungkiri jika dia juga merasa tidak pantas untuk bersanding dengan manusia sesempurna Zionard yang memiliki segalanya tidak seperti dirinya yang serba kekurangan.


Silvana rasanya ingin mundur sekarang juga. Dirinya benar-benar merasa ttidak pantas untuk bersanding dengan Zionard. Namun, sangat ingin mundur itu ucapan Zio tadi tengiang-ngiang di kepala Silvana.


"Ingat sayang, jangan pernah coba-coba untuk mundur atau pergi dariku. Jika itu sampai aku akan mencarmu sampai di ujung dunia sekalipun."


Entah kenapa ucapan Zio itu membuat hati Silvana tenang dan damai. Perasaan yang tadinya ragu kini menyeruak entah kemana. Wajah yang tadinya kaku kini mulai rileks hingga sebuah senyum terbit dari bibirnya yang telah di beri lipstik yang sesuai dengan dirinya.


Perias yang merias Silvana sebelumnya lagi lagi hanya bisa tersenyum. Wanita yang di riasnyaitu sangat cantik dan anggun secara bersamaan.


"Anda benar-benar cantik Nona." Puji sang perias itu lagi yang sedang memandangi wajah Silvana.


Ceklek


Silvana menoleh ke arah pintu saat pintu di buka dari luar. Ternyata yang masuk adalah Arga asisiten dari Zio. Arga masuk dengan menggunakan jaz nabi di padukan dengan dasi kupu-kupu di lehernya.


"Tuan Arga, untuk apa datang kemari?" Tanya Silvana kepada Arga.


"Saya datang untuk menjemput anda untuk mengantarkan anda ke altar anti." Jawab Arga yang mendekat mengelus lembut kepala Silvana.


"Mumpung kagak ada sih bos lumayan kan bisa elus-elus kepala calon nyonya muda." Kata Arga dalam hati.


"Ayo gandengan tangan saya Nona.." ucap Arga yang mengambil tangan Silvana lalu di lingkarkan di lengan kekar miliknya.


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


Jantung Silvana semakin berdetak cepat saan mendekati pintu yang menghubungkan antara dirinya dan sang kekasih. Sedangkan di ruangan lain Zio berdiri dengan gagah menggunakan Jaz putih yang sangat pas di tubuhnya. Membuat pria itu terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya.


Jantungnya berdetak begitu cepat dengan seiringnya waktu yang terus berjalan. Jantung Zio sedari tadi tidak berhenti berdebar membuat Zio semakin deg-degkan menanti sang pengatinnya.


Ceklek


Zio langsung menoleh ke pintu saat mendengar pinttu yang buka. Mata pria itu langsung terpaku saat melihat orang yang sedari tadi dia tunggu kini berdiri di depannya dengan sangat cantik. Tak pernah sekalipun Zio mengalihkan pandangannya dari calon pengantinnya yang hanya menghitung menit dia akan menjadi istrinya.


Namun, wajah Zio langsung masam saat melihat jika tangan sang kekasih melingkar di tangan Arga.


“Seharusnya tadi aku tidak mentyuruhnya untuk menjadi pengantar Silvana.” Kata Zio dalam hati ang masih dalam mode cemburu.


Zio memasang senyum terbaiknya saat sang calon istrinya berada di depannya. Dengan gagah Zio mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Silvana. Sedangkan Arga yang bertugas untuk menyerahkan Silvana langsung menyerahkan tangan Silvana yang melingkar di lengannya pada tangan Zio.


“Kamu sangan cantik sayang..” Bisik Zio di depan wajah Silvana.


Silvana yang mendengar bisikan dari Zio ttidak bisa untuk tidak tersipu malu. Zio yang melihat jika Silvana malu hanya bisa menggeram dalam hati untuk tidak membuka tudung kepala Silvana untuk mencium bibir pink segar Silvana.


“Sudah siap..?”


Suara pendeta membuat Zio dan Silvana tersadar dari acara saling tatap-tatapan mereka.


“Kami siap.” Jawab Zio sedangkan Silvana hanya menganggukan kepala dengan pelan.


“Saudara Zionard Morgan Dewantara bersediakah engkau menerima ananda Silvana Aurora sebagai istrimu dalam suka dan duka. Menerima semua kekurangan dn kelebihannya.”


“Saya….

__ADS_1


__ADS_2