Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
Bab 26


__ADS_3

"Tuan saya begitu mencintai anda Nona hingga pekerjaan anda saja Tuan Zio dengan senang hati mengerjakannya untuk Nona" kata Arga dalam hati.


Arga begitu mengenal bagaimana sifat Zio yang begitu tidak tersentuh apalagi dengan mahluk namanya wanita tapi semua itu berbeda dengan Silvana. Zio bahkan berusaha menekan semua egonya hanya untuk mengikuti apa keinginan Silvana dari sana Arga tau jika Bosnya itu sedang benar-benar mencintai Silvana.


Sedangkan Silvana baru saja duduk di kursi kerjanya dan meletakkan berkas yang di ambilnya tadi di atas meja.


"Saatnya perang" guman Silvana lalu membuka berkas yang di ambilnya di ruangan Arga.


"Lah kok sudah?" guman Silvana kaget melihat berkas itu sudah di kerjakan dan di tanda tangani langsung oleh Zio.


Silvana langsung mengecek semua berkas di atas mejanya ternyata dari banyaknya berkas di atas mejanya itu sudah dari setengah yang sudah di kerjakan dan hanya sisa setengahnya lagi yang belum.


"Ini siapa yang kerjakan? apa Tuan Arga? tapi mustahil. lalu siapa?" ucap Silvana pelan dengan kepala yang penuh tanda tanya.


"Nanti aku tanyakan deh" guman Silvana lalu mulai mengerjakan sisa yang belum di kerjakan.


"Sudah kau berikan?" tanya Zio menatap tajam Asistennya.


"Sudah Tuan" jawab Arga.


"Hm baguslah" balas Zio lalu melambaikan tangannya tanda mengusir Arga dari ruangannya.


"Permisi Tuan" pamit Arga lalu berbalik dan berjalan keluar.


"Setidaknya aku bisa mengurangi sedikit bebanmu baby" guman Zio lalu mulai mengambil satu persatu berkas di atas mejanya.


Sedangkan di tempat lain terlihat Doni duduk di dalam kamarnya lengkap dengan beberapa botol alkohol dan rokok di tangannya.


"Hahaha lagi lagi aku kalah dengan hawa nafsuku. bodoh kamu Doni sungguh bodoh hiks hahahaha kamu bejat Doni"


Doni terus mengoceh lalu tertawa lalu menangis terus seperti itu. keadaannya sangat jauh dari kata baik-baik saja namun ia tidak peduli dengan penampilannya yang rambut acak-acakan, kancing kemeja yang terlepas, dasi yang longgar dan miring,lengan baju sampai siku belum lagi wajahnya yang sudah pucat pasi.


Doni menertawakan dirinya sendiri yang telah berkata akan memperbaiki diri dan mendapatkan Silvana kembali namun lagi lagi dia harus kala dengan nafsu bejatnya dan sialnya Silvana lagi lagi memergoki dirinya yang sedang mencium wanita lain bahkan di muka umum.


AAAAAAAA


PRANGGGGG


Doni berteriak dengan kesal lalu membanting beberapa botol alkohol di dalam kamar itu sudah seperti kapal pecah bau rokok dan alkohol bercampur menjadi satu hingga mampu membuat yang masuk akan sesak napas namun Doni tidak peduli akan itu.


"Aku akan mendapatkan kamu kembali Silvana apapun caranya. termaksud cara kasar sekalipun" kata Doni lalu menyerigai licik.


********


Ceklek


"Sudah selesai baby?"


Tiba-tiba saja Zio masuk dalam ruangan Silvana membuat Silvana yang sedang fokus tersentak kaget.


"TUAN!"


Silvana langsung beranjak berdiri tapi di tahan dan di kurung oleh Zio dengan kedua tangannya berada di samping kiri kanan Silvana.


"Sudah berapa kali aku katakan baby. Panggil aku dengan nama atau apa yang penting jangan Tuan aku bukan Tuanmu tapi kekasihmu baby"


Zio berucap dengan begitu lembut menatap dalam mata jernih Silvana.

__ADS_1


"Tapi kamu atasan aku….."


"Jika di luar atau banyak orang, jika kita hanya berdua maka aku adalah kekasihmu, priamu, lelakimu, aku tak ingin mendengar kata Tuan terucap dari bibir manismu ini"


Zio berkata dengan tegas namun matanya memancarkan kelembutan yang sangat tulus. Jari jempol Zio terangkat dan mengusap lembut bibir bawah Silvana.


Cup


Zio mengecup singkat bibir Silvana namun tak menjauhkan wajahnya dari wajah Silvana. Zio menatap damba bibir merah alami Silvana.


"Bisakah aku menyesapnya" pinta Zio dengan wajah memelas.


Blush


Wajah Silvana langsung memerah semerah tomat karna ucapan Zio.


"Boleh?" ulang Zio menatap mata Silvana.


Silvana tidak mampu membalas ia hanya bisa tersenyum tipis lalu menganggukan kepalanya dengan wajah yang semakin merah.


Sedangkan Zio begitu senang dengan respon Silvana berikan. Zio dengan semangat menarik tengkuk Silvana lalu mempertemukan kedua bibir mereka.


Cup


Zio menempelkan sedikit lama bibirnya di atas bibir Silvana sebelum mulai menggerakkan ******* lembut bibir atas dan bawah Silvana. Silvana hanya diam menikmati ciuman lembut Zio sebelum akhirnya mulai membalasnya walau terkesan kaku padahal ini bukan ciuman pertamanya.


Kruyuk……


Kruyuk……


Kruyuk…….


"Kamu lapar?" Zio bertanya dengan menahan tawa di bibirnya melihat ekspresi menggemaskan Silvana.


"Hm" Silvana hanya menganggukan kepala dengan malu.


"Perut sialan….. dasar cacing rakus." umpat Silvana dalam hati.


Sret


"Zio…."


"Aku suka nama ku saat kau panggil baby" kata Zio melenceng dari apa yang di pikirkan oleh Silvana.


"Turunkan aku!" kata Silvana dengan kesal Karna lagi lagi Zio menggendongnya.


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Zio yang selalu menggendong Silvana walau jarak yang di tempuh sangat dekat.


"Duduk tenang aku akan memesankan makanan kesukaan kamu…."


"Tapi aku ingin makan di luar" kata Silvana dengan wajah cemberut.


"Kita berangkat"


Kata Zio yang langsung menyimpan Ipad-nya di atas meja lalu menggenggam tangan Silvana dengan mesra.


"Bukannya kamu sudah….."

__ADS_1


"Aku membatalkannya!" potong Zio cepat.


"Benarkah?" Silvana langsung berdiri dengan wajah yang berseri-seri.


"Hm" Zio hanya berdehem sebagai jawaban dengan memalingkan wajahnya karna tak sanggup melihat ekspresi wajah Silvana yang menurutnya sangat lucu.


Zio segera berjalan lebih dulu keluar dari ruangan di ikuti oleh Silvana yang dengan wajah bahagia seperti habis memenangkan lotre.


"Tuan mau kemana?" Arga tiba-tiba muncul di depan Zio.


"Makan siang kamu ikut" jawab Zio dingin.


"Ikut?" beo Arga menatap Zio dan Silvana bergantian.


"Telinga kamu sudah tidak berfungsi ha….." hardik Zio melototi Asistennya itu.


"Ayo jalan wanitaku sudah kelaparan! saya lagi malas menyetir lagilula kamu itu asisten saya sudah sepatutnya kamu ikut saya kemanap0009008u iun saya pergi" kata Zio enteng lalu menarik lembut tangan Silvana berjalan meninggalkan Arga yang diam mematung.


"Punya Bos kok gini amat. Saya tahu saya Asisten Bos tapi saya bukan obat nyamuk Bos." guman Arga.


"ARGA……!"


"SAYA DATANG TUAN!"


Arga dengan segera berlari cepat menyusul sang atasan Ia masih menyayangi gajinya karna dia yakin jika dia sekali lagi membuat atasannya itu kesal maka dapat di pastikan gajinya akan di kurangi sampai setengah.


Sampai di lobby Arga mengedarkan pandangannya mencari Tuannya hingga ia melihat jika Tuannya sudah di dalam mobil.


"Mampus!" batin Arga.


Masih dengan napas yang terengah-engah Arga berjalan cepat ke mobil lalu masuk di kursi kemudi.


Ceklek


"Dasar lambat bahkan siput lebih cepat" kata Zio dengan pedas.


Sedangkan Arga yang mendengar ucapan pedas Tuannya itu hanya bisa mengelus dan mengelus dada dengan wajah masam.


Pffff


Silvana yang melihat ekspresi masam Arga hampir tertawa.


"Ada apa baby kenapa kamu seperti menahan tawa seperti itu?" tanya Zio lembut.


"Cih sama kekasihnya saja lembut aku yang sudah menemaninya dari kecil kagak pernah di lembutin. Dasar Tuan Somplak." batin Arga.


"Tidak ada aku hanya merasa lucu dengan ekspresi Tuan Arga" kata Silvana menahan tawa.


Sontak membuat Arga langsung membelalakkan mata lalu melirik Zio yang sudah mau memakan dirinya hidup-hidup.


"Nona kau menggalikan kubur untukku" teriak Arga dalam hati.


"Jangan melihat wajahnya baby lihat saja wajahku. Wajahnya itu tidak lebih dari seekor babi" kata Zio pedas.


"Bos gila" umpat Arga dalam hati.


"Kamu memang tampan tapi Tuan Arga juga tampan" kata Silvana polos.

__ADS_1


"NONA…….!"


__ADS_2