Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 53


__ADS_3

“Heran aku sama Bos, dulu saja saat Nona Silvana masih menjadi kekasihnya malah di sia-siain. Di selingkuhi beberapa kali bahka tak memberikan perhatian sedikit pun kepada Nona Silvana. Giliran di tinggalkan dan menikah sama pria lain eh…. Si bos malah jadi drop. Terus yang salah disini siapa yah si Bos lah.” Gerutu Gio dalam hati.


Gio ingin sekali mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya sekarang ini. Dirinya benar-benar kesal dengan ulah dan apa yang Bos nya itu lakukan di masa lalu. Bahkan dirinya saat Silvana menjadi kekasihnya tak pernah sekalipun dia memberikan perhatian lebih kepada Silvana.


Lalu sekarang? Saat melihat jika Silvana menikah dengan pria lain dia sampai segitunya. Gio benar-benar hanya bisa menertawakan kebodohan sang atasan yang melepas berlian demi sebuah batu air.


Bagi Gio kemana pun Silvana pergi gadis itu akan selalu menarik di mata pria. Silvana gadis sederhana, namun sifat dan karakternya sangat menarik di mata pria. Wanita yang tak pernah menyerah dan berjuang untuk hidupnya walau hanya sebatang kara. Wanita yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya yang tak mau di sentuh oleh seorang pria hanya atas nama cinta tanpa bukti.


Silvana merupakan wanita yang dengan karakter dirinya sendiri yang begitu memikat bahkan Gio juga sempat menaruh hati pada mantan kekasih dari bosnya itu. Saat mengetahui jika Sang atasan dan Silvana putus, Gio sangat senang karna mempunyai peluang untuk mendekati Silvana.


Namun, siapa yang menyangka. Bahkan sebelum bergerak Gio harus di pukul mundur oleh kenyataan saat mengetahui jika Silvana telah di klaim oleh seorang pengusaha sukses di negri ini.


"Walau aku tidak bisa memilikinya, tapi aku bahagia akhirnya dia menemukan pria yang benar-benar mau mencintainya dan mengikatnya dengan tali suci pernikahan. Aku akan sangat merasa terpukul jika nanti Nona Silvana menikah dengan bos yang tidak memiliki pendirian yang kuat." Kata Gio dalam hati.


Sedangkan di tempat lain Silvana berjalan keluar dari supermarket saat setelah belanja kebutuhan rumah selama 1 Minggu ke depan. Di belakang Silvana terlihat Zio yang mengekori sang istri dengan tangan yang penuh akan kresek belanjaan mereka. Walau di tangannya penuh dengan kresek, namun wajah Zio menunjukan rasa senang.


Bagi Zio tak apa terlihat konyol dengan membuntuti Silvana pergi berbelanja yang terpenting dirinya bisa mengawasi dan dekat dengan istrinya. Walau belanjaan mereka banyak dan berat tapi pria itu merasa senang karena dirinya merasa di butuhkan oleh sang istri.


Dengan langkah ringan dan lebar Zio berjalan di belakang Silvana yang terlihat berjalan santai. Sampai di mobil Zio langsung memasukan kresek-kresek di tangannya ke dalam bagasi mobil


Mencuci tangannya dengan air yang telah di siapkan.


Setelah merasa sudah bersih, Zio menutup bagasi lalu berlari kecil dan masuk ke dalam mobil bagian jok kemudi.

__ADS_1


"Mau pulang sekarang?" Zio bertanya dengan menatap Silvana.


"Ini sudah siang, kita makan siang saja dulu." Balas Silvana dengan senyum tipis di wajahnya.


Zio yang mendengar itu tidak bersuara lagi, tangannya terulur mengambil tangan sang istri mencium telapak tangan wanita itu. Tangan kirinya menggenggam tangan istrinya sedangkan tangan yang lainnya mengatur stir agar stabil dan tidak oleng.


Setelah beberapa saat mencari akhirnya Zio menemukan sebuah tempat yang cocok untuk mereka makan. Zio memarkirkan mobilnya di depan sebuah Cafe yang terlihat sederhana dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai. Kenapa Zio memilih tempat itu karena itu pasti di sukai oleh Silvana yang tidak menyukai hal yang berbaur kemewahan.


“Ayo kita turun, tapi kamu tunggu disini.” Zio langsung membuka pintu mobil keluar lalu berjalan menuju pintu Silvana, membukakan pintu untuk sang wanitanya agar bisa turun dari mobil.


Zio dan Silvana masuk ke dalam cafe itu dengan Zio yang menggenggam tangan Silvana. Hingga lagi lagi mereka terus menjadi pusat perhatian, apalgi saat Zio dengan penuh perhatian menarikkan kursi untuk Silvana duduk. Para wanita yang berada di cafe itu bahkan tak sedkit dari mereka yang memekik. Ada pula yang hanya bisa menggigit jari kuku melihat perlakuan romantis dari Zio.


“Mau pesan apa Tuan…. Nona” Mendengar suara laki-laki Zio langsung berbalik menatap sengit pelayan pria di depannya itu yang menatap istri tercintanya.


“Jauhkan matamu dari istriku, jika tidak ingin matamu ku congkel.” Bisik Zio yang menatap pelayan itu dengan aura permusuhan.


“Ma…maaf Tu..,Tuan” Pelayan itu langsung meminta maaf dan segera menundukan kepalanya.


Zio yang melihat itu hanya tersenyum dingin kembali menoleh ke arah Silvana.


“Kamu mau pesan apa sayang?” Tanya Zio dengan super lembut membuat pelayan yang berada di sampingnya itu ikut tertegun.


“Apa saja, yang penting enak.” Jawab Silvana asal karena dia memang bukan pemilih makanan.

__ADS_1


Zio yang mendengar penuturan dari sang istri segera memilih makanan yang menurutnya enak. Walaupun mereka belum pernah ke cafe itu.


**********


“Ngehhh”


“Syukurlah kamu sudah sadar Nak.” Ucap pria paruh baya yang berada di samping Doni yang ternyata kini dia berada di kamarnya.


“Dad, kita kok bisa disini?” Tany Doni dengan suara serak.


“Kamu tadi pingsan jadi, daddy bawa pulang.” Jawab Tuan Riko.


Doni yang mendengar itu terdiam lalu ingatannya kembali jika tadi ia melihat berita pernikahan Silvana dengan Zio di berita.


“Vana menikah dad,” Ucap Doni lemah dengan suara pelan.


Terlihat tatapan pria itu meredup dengan wajah yang semakin masam. Tuan Riko yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Siapa sangka jika putranya itu akan kehilangan kesempatan untuk selama-lamanya. Tuan Riko sadar, andaikan yang mereka hadapi adalah pria biasa Tuan Riko tak perlu takut. Tapi sayangnya yang mereka hadapi adalah seorang Zionard. Pria yang menjadi nomor satu di negara itu.


Tuan Riko tidak tahu harus berbuat apa, sedari awal ini memang salah putranya. Namun, kenapa saat putranya sudah mulai berubah Silvana justru menikah dengan orang lain.


“Lebih baik kamu ikhlasin Silvana, sampai kapan pun kamu tidak akan bisa memiliki wanita itu lagi. Saingan kamu bukan pria biasa melainkan pria nomor satu negara ini.” Ujar Tuan Riko degan napas yang memberat.


Sebenarnya sangat sulit bagi Tuan Riko mengatakan hal itu pada sang putra yang pasti menyakiti hati putranya. Akan tetapi, dia juga tiak punya pilihan lain selain memberi nasihat seperti itu. Akan sangat bahaya jika sampai Doni terus maju dan mengejar Silvana. Bisa-bisa perusahaan mereka bangkrut dan rata dengan tanah. Tuan Riko tidak mungkin mengorbankan perusahaan dan puluhan orang hanya karena ulah sang putra yang mengejar seorang wanita yang jelas-jelas sudah bersuami.

__ADS_1


“Istirahatlah, pikirkan baik-baik apa akibatnya jika kamu tetap nekat mengejar Silvana. Jika itu sampai terjadi maka perusahaan dan para karyawan juga akan terkena imbasnya.” Terang Tuan Riko yang menepuk bahu sangputra.


Setelah berkata seperti itu Tuan Riko langsung berbalik pergi meninggalkan Doni yang masih terdiam dengan tangan yang di kepal erat-erat.


__ADS_2