
Tok
Tok
Tok
“Masuk..!” Sahut Zio yang tanpa mengangkat pandangannya dari kertas yang ada di depannya.
“Zionard!”
Zio yang sedang menunduk langsung tertegun saat mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar itu. Dengan gerakan pelan Zio mulai mengangkat kepalanya hingga pandangannya langsung bertemu dengan pandangan tajam pria tua di depannya yang berdiri dengan menggunakan tongkat.
“Selamat datang kakek.” Zio segera menyambut ke datangan pria tu itu yang merupakan kakeknya.
“Cih kamu masih mengingat jika kamu punya kakek ha..?” Sentak Tuan Handoko yang menatap tajam sang cucu.
“Aku tidak melupakan kakek.”
“Sudahlah, kakek datang disini ingin mempertanyakan tentang berita yang beredar di internet. apa itu benar?” Tuan Handoko melayangkan tatapan nyalang ke arah Zio yang duduk santai di depannya.
Angelina yang sejak tadi mengikuti Tuan Handoko langsung duduk di samping Zio saat melihat jika pria itu duduk disana. Zio yang merasakan pergerakan di sampingnya langsung menoleh dan di detik berikutnya Zio langsung berdiri menatap tajam wanita yang sudah berani duduk di sampingnya.
“Siapa kamu?” Tanya Zio datar dengan menahan amarah.
“Dia Angelina, wanita yang akan kakek jodohkan dengan mu.” Jawab Tuan Handoko yang mengakuinya dengan begitu gamblang.
“Apa kakek tidak melihat jika ali sudah menikah dan memiliki istri?”
“Aku tidak mau tahu! Ceraikan wanita itu dan nikahi Angelina.” Bentak Tuan Handoko.
“Kenapa? Istriku lebih cabtik dan tentunya berotak cerdas di banding dengan wanita pilihan kakek ini.”
“Kita beda kasta Zio! Wanita itu hanya wanita biasa yatim piatu yang bahkan berasal dari keluarga rendah.”
Deg
__ADS_1
Zio yang mendengar hinaan kakeknya terhadap istrinya langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Zio tidak pernah terima jika istrinya di jelek-jelekan apalagi di hina dengan sedemikian rupa.
“Lalu wanita seperti apa yang menurut kakek? Wanita seperti ini? ang berasal dari keluarga terpandang tapi tidak mempunyai harga diri?” Zio menatap Angelina dari ujung kaki hingg ujung kepala dengan sinis.
Angelina yang mendengar apa yang di katakan oleh Zio langsung mengepalkan tangannya. Seumur hidupnya tak pernah satu kalipun i mendapat hinaan seperti ini? Apa salahnya jika dia duduk di samping Zio yang akan menjadi pria masa depannya nanti.
“Apa maksud Tuan? Saya tidak seperti itu?” Sanggah Angelina dengan suara yang di lembut-lembutkan.
“Kau…..”
“Tidak seperti apa maksud nona..? Tidak memiliki harga diri, ukankah itu benar adanya? Jika nona memang wanita terhormat and tidak akan merebut suami wanita lain.”
Kali ini bukan Zio yang menjawab melainkan Silvana yang menyahut dari pintu. Zio yang yang melihat istrinya masuk di dalam ruangan itu langsung berkeringat dingin,dirinya akan baik-baik saja jika yang di sembur adalah wanita di depannya itu. Namun, akan sangat bahaya jika sampi dirinya juga kena imbasnya. Zio tahu Silvana bukanlah karakter cewe yang hanya akan adu mulut jika di usik. Silvana adalah wanita dengan karakter wanita yang akan langsung bertindak tanpa pikir panjang jika di usik.
“Siapa kamu?” Angelina menatap tajam Silvana yang baru masuk karena dirinya tidak terlalu mengenal wajah Silvana.
“Aku? Aku adalah wanita yang suaminya yang sedang kau goda dan juga rebut.” Balas Silvana dengan nada pedas.
Grep
“Yah kamu istri tercintaku.” Ucap Zio dengan senyum manis tapi dengan ekspresi masam.
“Aku hanya diam sayang, aku tidak melakukan apapun.” seperti itulah arti tatapan Zio kepada Silvana yang ternyata tangan satunya sedang mencubit pinggangnya.
Sedangkan Angelina dan Tuan Handoko hanya bisa membulatkan mata melihat bagaimana sikap Silvana yang ternyata sangat berbanding terbalik dengan apa yang mereka pikirkan. Mereka pikir Silvana adalah karakter lemah dan hanya tahu menangis saat hubungannya tidak direstui hanya tahu menangis maka mereka salah besar. Ternyata karakter Silvana bisa di katakan keras dan bar-bar
“Dasar rendahan, bagaimana bisa kalian bermesraan saat masih ada di ruangan ini.” Teriak Tuan Handoko yang murka karena dirinya benar-benar tidak diberi muka oleh kedua orang di depannya itu.
“Lalu yang berkualitas yang bagaimana pak tua?”
Uuuhuk uhukk
Tuan Handoko langsung tersedak dengan air liurnya sendiri mendengar panggilan Silvana yang sangat pedas padanya. Sedangkan Zio pria itu hanya mampu menggigit bibirnya menahan untuk tidak sampai tertawa. Silvana memang unik dengan ciri khasnya tersendiri hal itu pula yang menarik perhatian Zio di pertemuan pertama mereka. Lebih tepatnya Zio sudah tertarik dengan sosok Silvana yang makan di restoran dengan begitu lahap tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.
Bahkan jika wanita lain yang sakit hati karena diselingkuhi melampiaskannya dengan minuman alkohol, pergi ke klub malam, atau bahkan bunuh diri maka berbeda dengan Silvana yang justru melampiaskannya pada makanan hingga makannya menjadi banyak.
__ADS_1
“Wanita kurang ajar, aku kakek suamimu!” Bentak Tuan Handoko yang murka berdiri dengan tongkatnya.
“Aku tidak tahu, lagi pula anda sudah tua bukan? Pakai tongkat lagi.” Ejek Silvana yang menatap mengejek Tuan Handoko dengan tongkatnya itu.
“Cucu sialan..! Lihat wanita mana yang kamu nikahi ini? Dia berani menghina dan merendahkan kakek kamu sendiri. Dan kamu bukannya memarahi istrimu kamu malah tertawa ha..?”
“Aku tidak menegurnya karena apa yang di katakan oleh istriku itu kebenarannya. Anda memang sudah tua, jadi kalau tua yah akui saa tua tidak perlu berpura-pura mudah lagi.”
Tuan Handoko yang mendengar balasan dari Zio hanya bisa melototkan matanya hingga hampir keluar dari tempatnya. Lidah cucunya memang sudah beracun, tapi tidak sampai setajam itu. Tapi kenapa sekarang cucunya itu juga justru sangat beracun jika berbicara.
Cup
“Suamiku sangat keren.” Kata Silvaa yang mengecup pipi Zio.
Zio yang mendapat vitamin dari Silvana langsung tersenyum manis hingga membuat Tuan Handoko melotot. Sejak kapan cucunya itu bisa tersenyum selebar itu pikir Tuan Handoko dengan menatap aneh ke arah sang cucu. Sedangkan Angelina yag melihat senyum lebar Zio semakin menyukai pria itu dan bertekad akan mendapatkan Zio bagaimana pun caranya. Dan tentunya tatapan ambisi tu di sadari oleh Silvana sehingga wanita itu mendengus kesal.
Plak
“Jangan tersenyum, tampanmu sama seperti monyet.” Kata Silvana yang mengusap wajah Zio dengan kasar tk lupa juga menabok mulut pria itu.
Pfffft
Tua Handoko yang melihat apa yang dilakukan Silvana kepada sang cucu dan wajah masam Zio hampir tertawa terbahak-bahak.
“Sayang aku salah apa?” Tanya Zio dengan wajah masam.
“Wajah kamu jelek. Kamu nggak lihat kalau disini ada tante girang.” Sindir Silvana yang melirik sinis Angelina.
“Maaf aku lupa sayang.” Balas Zio yang memeluk Silvana tak lupa menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Silvana menyembunyikan senyumnya karena istrinya itu cemburu.
Tuan Handoko yang melihat tingkah dari Zio langsung mendengus kesal. Pria tua benar-benar tidak menyangka Bagaimana bisa cucunya yang dengan kutub utara itu bisa menjadi pribadi yang berada di depannya itu.
“Angelina, ayo kita pergi.” Kata Tuan Handoko yang langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Tapi kek…?”
__ADS_1