
Sinar matahari pagi masuk dalam kamar yang membuat dua sosok itu terbangun. Silvana mengucek pelan matanya hingga dahinya mengernyit bingung saat merasakan jika perutnya seperti di lilit sesuatu.
“Kok berat?” Guman Silvana yang dengan pelan membalik badan menghadap belakang hingga bisa melihat wajah tampan Zio sang suami yang tengah tertidur lelap.
Untuk sesaat Silvana terpaku pada pahatan sempurna pada wajah pria di depannya itu. Hingga tiba-tiba Silvana membulatkan mata pada saat mengingat jika tadi malam dirinya mengunci pintu lalu bagaimana bisa Zio masuk ke dalam kamar itu pikir Silvana.
Cup
“Selamat pagi istriku.” Ucap Zio yang mengecup bibir Silvana sekilas.
“Kamu lewat mana masuk ke sini?” Tanya Silvana yang dalam mode introgasi.
“Lewat pintu donk sayang.”
“Mana ada, pintunya aku kunci dari dalam.”
“Kan pake kunci cadang sayang… ups.”
Zio yang tersadar dari apa yang dia ucapkan langsung membekap mulutnya dengan tangannya. Matanya yang tadi hanya terbuka sedikit langsung terbuka sempurna saat merasakan hawa dingin dari sang istri.
Deg
“Mampus aku…!” Umpat Zio dalam hati.
“Sayang dengarin aku dulu, bukan aku yang membeli pakaian kurang bahan, belum selesai jahit, dan baju jaring laba-laba itu. Itu yang beli si Arga aku tidak tahu kenapa dia beli itu.” Ungkap Zio dengan memasang wajah memelas berharap istrinya itu tidak marah lagi.
“Sudahlah, minggir!” Sentak Silvana yang mendorong Zio lalu bangun turun dari ranjang masuk dalam kamar mandi.
“Kamu mau kemana sayang?” Tanya Zio yang buru-buru menghadang langkah kaki Silvana.
“Cuci muka.” Jawab Silvana ketus menatap kesal wajah sang suami.
__ADS_1
Mendengar itu Zio langsung menyinggir dari hadapan Silvana membiarkan istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi. Hingga beberapa menit kemudian Silvana Keluar dari kamar mandi. Zio yang melihat itu langsung menghampirinya. Namun, Silvana hanya menghindar kembali berjalan keluar dari kamar. Lagi-lagi Zio menghadang langkah Silvaa dengan memasang ekspresi yang menggelikan bagi Silvana.
“Kamu mau kemana sayang..?” tanya Zio dengan melempar senyum manis ke arah Silvana.
“Masak..! Kita kan mau ke kantor.” Jawab Silvana yang langsung melewati Zio begitu saja.
“Tapi sayang…”
“Apalagi sih Zi aku tuh lapar ta…! Kita bentar lagi mau berangkat kamu siap-siap sana…!” Perintah Silvana yang langsung menuruni tangga ke lantai bawah.
“Istriku kenapa sih? Perasaan tamunya sudah pergi tapi kenapa masih sensian kayak singa betina. Aku kan cuma mau bilang hari ini hari weekend jadi buat apa ke kantor? Tapi malah aku di semprot mulu.” Guman Zio yang menggerut kesal.
“Sudahlah ada baiknya aku mandi cepat biar nanti Silvana nggak marah lagi. Mungkin istriku marah karna aku bau busuk soalnya kemarin kan aku nggak mandi.” Monolog Zio yang kembali masuk dalam kamar.
Sampai di kamar Zio langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar bersih dan wangi tentunya.
Sedangkan di bawah Silvana mulai membuka kulkas mengambil satu persatu bahan yang di butuhkannya untuk memasak sarapan nanti.
Satu persatu bahan telah di cuci dan di cincang menjadi potong-potongan kecil. Silvana dengan serius mulai merebus dan menumis lauk pauk hingga beberapa menit kemudian bau harum masakan Silvana tercium sampai Zio yang berada di lantai atas dapat mencium bau harum itu.
Sampai di lantai bawah Zio di suguhkan dengan pemandangan yang begitu indah bagi Zio. Bagaimana tidak Zio melihat Silvana yang dengan telanten menyiapkan makanan di atas meja.
“Kamu sudah datang? Kemarilah kita sarapan bersama.” Ajak Silvana saat melihat jika Zio sudah berdiri di dekat meja makan.
Zio yang mendengar nada bicara Silvana yang sudah tidak ketus lagi langsung menyunggingkan senyum manis. Dengan langkah ringan Zio berjalan cepat menuju meja makan. Sampai disana Zio langsung duduk di kursi sedangkan Silvana langsung mengambilkan lauk pauk untuk Zio.
“Makanlah..” Kata Silvana yang menyodorkan piring yang telah ia isi dengan lauk pauknya lengkap.
Deg
Zio yang mendapat perlakuan seperti itu tertegun, matanya menatap dalam piring yang di sodorkan oleh Silvana yang telah di isi lengkap lauk pauk. Dengan tangan yang dingin menerima piring yang telah Silvana isi.
__ADS_1
Silvana tersenyum lalu mengambil lauk pauk untuk dirinya sendiri. Silvana duduk di samping Zio mulai memakan makanannya. Sedangkan Zio pria itu masih terpaku dengan menatap piringnya dan menatap Silvana bergantian yang dilakukan secara berulang-ulang.
"Kenapa bengon? Nggak suka makanannya?"
Suara Silvana yang masuk di telinga Zio membuat pria itu tersadar. Dengan pelan menoleh ke arah sang istri yang tengah menatapnya.
"Kamu nggak suka?" Tanya Silvana ulang Silvana membuat Zio menggelengkan kepala lalu menganggukan lagi kepalanya.
"Aku suka sayang tadi hanya sedikit ada gangguan." Elak Zio yang langsung menyendok makanannya dan memasukkannya dalam mulut.
"Hmmm ini sangat enak." Ungkap Zio yang kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Silvana yang melihat Zio yang memakan makanan yang dia masak dengan lahap langsung tersenyum tipis. Silvana bersyukur jika makanan yang dia masak di sukai oleh suaminya walaupun makanan yang di masak adalah menu sederhana karna bahan yang ada di kulkas juga seadanya jadi Silvana hanya memsak mengikuti bahan yang ada.
“Maaf aku hanya bisa masak ini dulu, karena bahanyang ada di kulks cuma ada ini saja.” Ungkap Silvana yang merasa bersalah karenadi hari pertama dia menjadi istri hany bisa menyuguhkan makanan seadanya pada sang suami.
“Zio yang sedang menguyah makanannya langsung terhenti menoleh ke arah Silvana. “ Aku lupa jika ku belum mengisi kulkas. Harusnya kemarin aku menyuruh Arga untuk belanja kebutuhan rumah.” Kata Zio dalam hati yang menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengisi kulkas dengan lengkap.
“Maaf aku lupa mengisi kulkasnya karena terlalu bersemangat akan tinggal bersamamu. Nanti kita belanja bersama nanti di supermarket.” Kata Zio dengan lembut mengelus kepala Silvana.
“Belanja bersama? Supermarket?” Beo Silvana yang menatap Zio dengan alis yang hampir menyatu.
“Iya belanja bersama tapi selesai makan dan kamu habis mandi.” Terang Zio lagi yang membuat Silvana menganga.
“Tapi….. Apa kamu tidak malu? Nanti akan banyak orang disana?” Ungkap Silvan yang memikirkan jika Zio akan terganggu dengan keadaan yang ramai. Lagi pula hanya berbelanja tak perlu ditemani juga pikir Silvana.
“No….! Untuk apa malu? Aku akan sangat bangga dengan mendampingi kamu berbelanja nanti.” Balas Zio dengan bangga.
“Enak saja istri secantik kamu di biarkan keluar sendirian? Kalau kamu di culik duda-duda kaya bagaimana? Atau berondong aku harus gimana?” Lanjut Zio dalam hati yang rupa-rupanya takut jika Silvana di culik lebih tepatnya Zio cemburu.
Mendengar itu Silvana tidak lagi bersuara toh juga tidak ada gunanya Zio merupakan orang yang tidak bisa di ganggu gugat ucapannya, Jika dia bilang A maka A tidak akan berubah menjadi B apalagi C.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain seorang pria tua duduk angkuh dengan memangku satu kakinya menatap tajam bahan di depannya itu.
“Bagaimana?”