
Di dalam ruangan terlihat seorang pria yang tak fokus bekerja. Pria itu terus mengajak rambutnya dengan kasar dan juga kesal. Rambut yang tadinya tertata rapi dengan wajah yang tampan kini rambut itu telah berantakan dengan wajah yang sangat terlihat masang dan cemberut.
Sesak itu tak lain dan tak bukan adalah Zio yang uring-uringan karena sudah 3 hari berlalu tetapi Silvana masih terus mengajukannya. Dia sudah meminta maaf berulang kali Tetapi Silvana mengatakan Jika dia berselingkuh dengan Angelina.
“Kamu pasti berselingkuh dengan dia di belakangku iya kan?”
Tuduhan Silvana itu terus berkeliling di otaknya membuat zio langsung. Pria itu tak pernah menangkap kecemburuan istrinya itu bisa sampai ini. Jika saja dari awal dia mengetahui jika akan berakibat seperti ini. Maka Zio akan lebih memilih untuk tidak memberi Angelina waktu untuk masuk ke dalam ruangan.
“Wanita ondel-ondel itu memang benar-benar petaka untukku. Kehadirannya benar-benar membuat suasana yang tadinya adem langsung kacau. Haruskah aku membuat dia pergi dari dunia ini selamanya?” guman Zio dengan frutasi.
“ARGAAAAA!” Zio berteriak keras hingga menggelegar memanggil nama Arga.
“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?” guman Arga. ” Sebenarnya apa yang terjadi dengan si Bos? Kenapa sekarang dia begitu menyebalkan dan memancing emosi? Tidak tahukah jika aku juga sibuk?” gerutu Arga yang masih lanjut mengerjakan berkas di tangannya tanpa mempedulikan panggilan Zio tadi.
“ARGAAA…!”
“Ya Tuhan, tidak bisakah engkau mencabut lebih cepat nyawa dari manusia yang bernama Zionard Morgan Dewantara itu,” Kepala Arga rasanya ingin pecah mendengar panggilan Zio.
Belum lagi jika sampai di sana pria itu pasti hanya akan duduk diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Namun karena tak ingin membuat masalah Arga segera berdiri memperbaiki pakaian yang lalu berjalan keluar dari ruangannya.
“Kemana perginya pria sialan itu? Kenapa dia sangat lama seperti siput saja.” Zio menggerutu dengan pesat.
“ARGA….!”
Ceklek
“Iya Bos ada apa?”
Zio menatap tajam Arga yang baru masuk ke dalam ruangannya setelah tiga kali ia memanggil dengan keras.
“Apa telinga kamu tidak berfungsi dengan baik lagi? Jika ia maka akan lebih baik aku memotongnya saja. Agar semua orang tahu jika kamu itu tuli.” Sarkas Zio yang begitu pedas.
Arga yang mendengar ucapan pedas dari sang Bos hanya bisa menghela napas dengan mengelus dada. Entah kenapa Bosnya itu justru kembali lagi pada Zionard yang dulu. Zio yang berkata tanpa adanya penyaringan membuat orang-orang yang mendengarnya seperti kena mental. Sama seperti Arga yang rasanya ingin menjebloskan pria yang menjadi Bosnya itu ke dalam selokan.
“Maaf Bos tadi saya berada dalam toilet jadi…,”
__ADS_1
“Alasan saja.” Potong Zio dengan menatap tajam Arga.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada manusia satu ini? Kenapa dia selalu membuat orang lain kesal dan juga frutasi tapi mau marah juga tidak bisa.” Batin Arga yang cukup tertekan dengan apa yang di lakukann oleh Zio.
“Sebenarnya ada apa Bos memanggil saya kesini?” Arga lebih memilih bertanya apa yang membuat Zio memanggilnya dengan terus berteriak.
“Diam! duduk saja disana setelah aku ingat apa yang kamu kerjakan nanti aku beri tahu,” Zio menunjuk Sofa agar Arga duduk di sana.
Huhhhhh
Terdengar helaan napas dari Arga yang menandakan jika ia ikut stres dengan apa yang di lakukan oleh Zio.
“Kenapa malah berdiri? Cepat duduk disana! Kamu membuat pemandangan rusak saja,”
“Bos, saya ini sibuk. Pekerjaan di atas meja ku sudah menggunung dan anda memanggil saya hanya karena urusan tak penting. Bahkan saya tidak tahu harus melakukan apa? Apa bos tidak sibuk? Saya lihat tumpukan berkas itu juga banyak.”
“Apa kamu mau aku pecat? Jangan membantahku, aku bosnya.” Balas Zio yang justru lebih menohok.
“Sabar saja lah, daripada nanti aku di pecat.”
"Arga apa yang di sukai wanita yang sedang merajuk?" tanya Zio tiba-tiba.
Uhuuuk uhuuuk
Arga yang mendengar pertanyaaan gila dari sang Bos langsung tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa dirinya yang tak pernah mengenal cinta itu di tanya soal hal yang berbaur perempuan.
Rasa-rasanya Arga ingin sekali menggepok kepala dari pria yang menjadi bos nya itu. Kemana otak yang biasa jenius dan berpikir hebat itu? Kenapa sekarang dia terlihat seperti keledai yang dungu.
“Arga cepat jawab! Bagaimana cara membuat wanita yang sedang merajuk tidak merajuk lagi?” sentak Zio mengkagetkan Arga yang sedang mengumpati Zio dalam hati.
“Mana saya tahu Bos, saya tidak pernah jatuh cinta. Jangankan jatuh cinta dekat dengan wanita saja tidak lalu bagaimana bisa saya mengerti mengenai hal itu.” Arga gelagapan sendiri menjawab pertanyaan dari sang bosnya itu.
“Kenapa kamu tidak membantu sama sekali? Makanya cari kekasih jangan hanya bermesraan dengan berkas saja yang kamu tahu.” ejek Zio dengan pedas.
“Apa otak bos benar-benar sudah tidak ada? Bagaimana bisa dia mengejekku karena terus bermesraan dengan berkas sialn itu sehingga aku tidak dapat kekasih. Apa anda lupas bos ku yang terhormat jika anda yang membuatku harus lembur hampir setiap malam karena terus memberiku pekerjaan yang banyak?”
__ADS_1
Ingin sekali Arga mengeluarkan apa yang ada di otaknya saat ini dengan harapan ia akan mendapatkan cuti. Namun, tiba-tiba Arga menggelengkan kepala kuat-kuat menyadari jika semua itu hanya angan-angan baginya saja.
“Berhenti mengumpatku Arga.” Kata Zio dengan memandang tajam Arga yang hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lihat, bahkan aku belum bicara manusia satu ini langsung tahu.” Guman Arga yang tidak sadar jika gumanan itu dapat di dengar oleh Zio
“Arga..!”
“Iya Bos,” Arga yang kaget langsung berdiri dari duduknya menghadap Zio.
“Tapi Bos..,”
“Aku tidak ingin mendengar kamu belum atau tidak tahu bagaimana meluluhkan wanita yang sedang marah. Jika kamu tidak tahu maka saat ini juga kamu harus tahu jika tidak gaji kamu yang selangit itu aku potong 50 persen!”
“Dam’it, bunuh saja pria ini.” Umpat rga dalam hati dengan kekesalan yang berada di ujung tanduk.
“Tunggu dulu bos,”
Dengan gerakan cepat Arga langsung merogoh saku celananya lalu mengeluarkannya. Jri tangannya dengan cepat menari-nari di atas benda persegi itu hingga beberapa saat kemudian Arga terus serius menunduk menatap ponselnya.
“Bagaimana jika dengan memberi perhiasan?” usul Arga kepada Zio yang sedari tadi sedang menatapnya.
“Silvana tidak suka perhiasan,” balas Zio ketus.
“Emmmmm jika begitu…,” jeda Arga yang menunduk kembali melihat ponselnya.
“Bagaimana jika membelikan hadiah seperti mobil?”
“Tidak, itu ide yang buruk.”
“Membeli pulau,”
“Tidak.’’
“Bulan madu?”
__ADS_1