Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 63


__ADS_3

Ceklek


“Sayang..,”Zio langsung menghampiri Silvana yang ingin mengambil air minum di gelas di meja samping ranjang brankar miliknya.


"Jangan bergerak, biar aku saja." Kata Zio dengan panik berjalan cepat menuangkan air minum Untuk Silvana.


Setelah menuangkan Zio segera memberikan kepada Silvana yang sepertinya kehausan. 


"Mau lagi?" Tawar Zio saat melihat Silvana menghabiskan air di gelas yang di sodorkan tadi tandas diminum oleh Silvana.


"Tidak, ini sudah cukup." Balas Silvana yang menggelengkan kepala tanda tidak mau lagi.


"Bagaimana keadaan kamu? Kamu baik-baik saja kan? Tidak lupa ingatan dan melupakan aku, bukan? Kamu tenang saja aku sudah memberi pelajaran yang paling spesial kepada wanita itu yang sudah berani menyakiti istri cantikku ini."


Silvana yang melihat wajah khawatir milik Zio sebenarnya ingin tertawa. Ternyata pria itu justru percaya dengan apa yang dikatakannya padahal jelas sekali jika itu hanya kebohongan biasa. Namun, bisa-bisanya Zio menelan langsung apa yang dia berikan. Silvana sampai bertanya-tanya apa pria di depannya itu benar-benar adalah pria yang dikabarkan jenius itu di saat dirinya dengan mudah di bodohi oleh Silvana.


Namun, mendengar jika sang suami telah memberi hadiah istimewa untuk sang pelakor membuat Silvana bertanya-tanya dan penasaran hadiah apa yang telah diberikannya pada Angelina. Silvana tentu tahu jika dirinya yang memberi pelajaran pada Angelina mungkin wanita itu tidak akan separah jika Zio turun tangan.


"Aku tidak akan mungkin hilang ingatan karena hanya di Jambak sayang." Hibur Silvana kepada Zio agar pria itu tidak khawatir lagi padanya.


"Tapi kamu pingsan sayang, jika kamu tidak kesakitan kamu tidak akan sampai pingsan." Cetus Zio yang tetap mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Aduh…, ini gimana cara ngejelasinnya? Aku kan tidak pingsan." Batin Silvana yang menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Sebenarnya aku tidak pingsan, aku hanya pura-pura pingsan dan tertidur di mobil." Ucap Silvana pelan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Zio yang mendengar ucapan Silvana langsung terdiam. Silvana yang melihat itu jelas takut jika Zio sampai marah padanya hanya karena kejahilannya itu. Dengan ragu Silvana mengulurkan tangannya menyentuh lengan kokoh Zio yang masih terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Sayang.., kamu tidak marah, bukan?" 

__ADS_1


"Ehem…, aku tidak mungkin marah sayang. Hanya saja lain kali jangan ulangi lagi, kamu membuat aku takut hingga rasanya mau mati." Ungkap Zio yang memeluk Silvana tak lupa mengecup pucuk kepala wanita itu dengan berulang kali.


Silvana hanya tersenyum di dalam pelukan Zio. Dirinya merasa benar-benar dicintai oleh pria itu. Selama mengenal Zio tak pernah sekalipun pria itu membentaknya. Jangankan membentaknya meninggikan suara saja tidak pernah.


"Kita pulang saya ya,"


Zio yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya. Matanya menatap intens Silvana yang sedang menatapnya juga.


"Tapi kamu benar-benar tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja." 


"Kamu tunggu disini, aku ke dokter dulu." 


Zio segera berbalik keluar dari ruangan Silvana menuju ruangan dokter meninggalkan Silvana yang kembali membaringkan dirinya di atas ranjang brankar Rumah sakit. Beberapa menit kemudian Zio kembali masuk ke dalam ruangan Silvana dengan langsung membereskan barang Silvana. Setelah semua selesai pasangan itu keluar dari rumah sakit dengan Zio yang terus menggenggam tangan Silvana.


Sampai di mobil Zio langsung membukakan pintu untuk Silvana tak lupa memakaikan sabuk pengaman kepada wanita itu. Setelah selesai baru menutup pintu lalu berjalan ke samping mobil satunya masuk ke dalam mobil jok kemudi. Zio langsung meleset pergi begitu saja meninggalkan Rumah sakit.


Beberapa menit diam di dalam mobil Silvana mengerutkan dahi saat melihat jika rute yang dilalui Zio bukan menuju perusahaan tapi ke mension mereka. 


"Kok pulang ke mension?" Tanya Silvana dengan bingung.


"Kamu harus istirahat sayang, jadi harus ke mension." Jawab Zio dengan mengecup punggung tangan Silvana.


"Tidak, aku tidak mau."


"Sayang…," 


"Aku nggak mau sayang, di mension aku nggak punya teman lebih baik ke perusahaan, kan?" 

__ADS_1


"Tapi kamu masih sakit sayang."


"Ya sudah aku nggak kerja, aku istrahat saja di ruang pribadi kamu saja." 


Zio yangendengar itu langsung terdiam kaku. Apa yang di katakan Silvana benar juga, di mension istrinya itu tidak mempunyai teman karena pelayan yang di carinya belum dapat. Jika di mension Silvana butuh apa-apa dia tidak bisa bantu tapi jika di perusahaan maka dia bisa membantu wanita itu jika butuh sesuatu.


Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Zio memutuskan untuk memutuskan untuk membawa Silvana ke perusahaan. Zio segera memutar balik mobilnya kembali berjalan ke perusahaan.


"Kamu janji ya, harus istirahat di ruang pribadi aku." 


"Iya iya aku janji,"


Di tempat lain seorang wanita terlihat duduk dengan gelisah. Sudah hampir 2 Minggu wanita itu menunggu tapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda kehamilan.


"Sial, ini sudah mau 2 Minggu tapi aku belum juga ada tanda-tanda kehamilan." Guman Mona yang menggigit jarinya.


Wanita itu sengaja bersembunyi dan tidak muncul di hadapan Doni agar mempermudah rencananya tapi sudah hampir 2 Minggu menunggu apa yang di tunggunya juga belum ada.


"Aku harus melakukan sesuatu, jika tidak maka semua akan sia-sia."


Mona kembali mengatur rencana untuk melancarkan rencananya. Mona begitu terobsesi dengan menjadi wanita kaya apapun akan dia lakukan untuk memenuhi obsesinya itu.


Sedangkan di sisi Doni pria itu sudah hampir 2 hari mengurung diri di dalam kamar menyusun rencana untuk mendapatkan Silvana kembali. Doni tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada kemudian hari. Dirinya benar-benar sudah terobsesi dengan Silvana.


"Kamu sudah menikah dengannya, bukan? Namun bukan berarti aku akan melepasmu begitu saja. Kamu hanya milikku Silvana, milikku bukan milik siapapun. Aku ingin lihat apa di saat kamu sudah ternoda dia akan masih menerimamu," Guman Doni dengan sebuah senyum miring yang entah apa artinya.


Doni sudah membulatkan tekadnya untuk mendapatkan Silvana kembali. Pekerjaan dan perusahaan dia acuhkan hingga dengan terpaksa Tuan Riko yang mengambil alih perusahaan. Tuan Riko sudah berapa kali menasehati Doni untuk merelakan Silvana bahagia dengan pilihannya.


Tuan Riko awalnya ingin meminta Silvana untuk kembali pada putranya tapi  setelah mengetahui siapa pria yang menikahi Silvana. Tuan Riko langsung mundur dan menasehati Doni untuk tidak merebut Silvana lagi. Jika itu terjadi maka perusahaan yang akan kena imbasnya.

__ADS_1


__ADS_2