Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 24


__ADS_3

Zio memasuki ruangan miliknya lalu melihat ke seluruh ruangan mencari sosok yang sudah ia rindukan padahal mereka baru terpisah 2 jam.


"Dimana dia?" guman Zio berjalan menuju ruangan rahasia miliknya.


Ceklek


Zio tersenyum melihat wanita yang dia rindukan terbaring lelap di atas ranjang miliknya. Zio mendekat lalu menyingkirkan rambut nakal yang menghalangi wajah cantik kekasihnya.


Kekasih? Zio tersenyum geli setiap mengingat itu.


"Baby wake up" bisik Zio di telinga Silvana namun Silvana hanya menggeliat tanpa membuka mata.


"Gadis ini! tidak tahukah jika sekarang dia berada di kandang singa dan dia tidur pulas tanpa waspada sedikitpun"


Omel Zio dalam hati gemes sendiri sama kelakuan kekasihnya itu bagaimana jika pria itu bukan dia dapat di pastikan mereka akan langsung menerkamnya.


Siapa coba yang menolak jika di kasih ikan asin? Pikir Zio.


"Baby wake up" ucap Zio datar karna sepertinya jika cara lembut kekasihnya itu tidak akan bangun.


"Baby" panggil Zio lagi dengan suara berat nan datar.


Silvana yang masih tertidur langsung tersentak mendengar suara berat itu dalam tidurnya.


Hah hah hah


Nafas Silvana terengah-engah karna suara itu. Silvana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lalu menyipit kala melihat Zio sedang tersenyum.


"Syukurlah" guman Silvana mengelus dada.


"Kenapa" Zio bertanya dengan menatap rumit Silvana.


"Tidak ada aku hanya mimpi buruk di panggil malaikat maut." kata Silvana.


"Tunggu" Silvana langsung menatap tajam ke arah Zio.


"Ada apa"


"Kau yang membangunkan ku bukan?"


"Iya tapi….."


Bugh


Bugh


"Dasar sialan bahkan suara menyeramkan mu itu masuk di mimpi indah ku" teriak Silvana kesal terus memukul Zio dengan bantal.


"Baby stop! oke aku minta maaf" Zio tidak punya pilihan lain selain menarik tangan Silvana lalu memeluknya dengan erat.


"Lepas" teriak Silvana yang terus berusaha memberontak.


"Diamlah Baby. aku sudah mencoba membangunkan mu dengan cara lembut tapi kamu tidak bergerak sama sekali" Zio berusaha menjelaskannya namun bukannya mereda Silvana malah merasa semakin berang.


Tak


AAAAAA


"Baby kamu…." Zio tidak melanjutkan lagi perkataannya melihat wajah Silvana yang benar-benar merah Madan menahan emosi.


"Jadi kamu menyamakan aku dengan mayat hidup gitu?"


"Bu..bukan begitu"


Bugh


Bruk

__ADS_1


Aaaa


"Dasar pria kejam" maki Silvana lalu pergi meninggalkan Zio begitu saja.


Zio hanya bisa meringis dan mengusap-usap tulang keringnya lantaran Silvana menendang tulang keringnya.


"Kenapa dia mudah sekali tersinggung" Zio lalu berdiri dan berjalan dengan pinjang menuju kursinya.


5 menit kemudian


BRAK


"ZIONARD" teriak Silvana dengan suara melengking yang memekikkan telinga.


"Huuuuh untung sayang" kata Zio dalam hati mengelus dada karna kelakuan bar-bar kekasihnya itu.


"Ada apa baby?" Zio mendekati Silvana lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.


"Zio ka….kamu harus mem…bantuku" ucap Silvana dengan memelas.


Zio mengernyit alis melihat ekspresi wajah Silvana yang terlihat takut dan wajahnya sudah mulai pucat.


"Ada apa? apa ada yang menyakitimu? ayo katakan siapa orangnya biar aku beri pelajaran orang itu?" Zio langsung memberi pertanyaan yang berurutan kepada Silvana.


Zio takut ada orang yang berencana atau mungkin menyakiti Silvana sehingga kekasihnya itu menjadi seperti ini pikir Zio.


"Tidak ada yang menyakitiku" jawab Silvana jujur.


"Lalu kenapa kamu ketakutan dan seperti menahan sakit?" Zio bertanya dengan khwatir dan sedikit heran.


"I…itu aku datang bulan dan….." Silvana terlihat ragu menyampaikannya kepada Zio.


Sedangkan Zio kini memasang wajah serius dan telinganya sudah seperti telinga anjing yang mempertajam pendengarannya.


"Aku tidak punya membalut" cicit Silvana.


Deg


"Kamu belikan aku ya?" pinta Silvana memelas.


Dhuarr


Rasanya dunia Zio langsung jungkir balik tujuh rupa langsung hancur lebur saat itu juga. apa kata dunia seorang Zionard pengusaha sukses, pria kaku, dan dingin itu membeli pembalut.


"Tapi baby…. aku laki-laki mana bisa membeli benda mengerikan itu." kata Zio.


"Jadi kau menolak?" Silvana langsung menatap tajam Zio.


"Bukan seperti itu baby hanya saja….."


"Cih bahkan mantan aku Doni….." kalimat Silvana langsung terpotong karna Zio yang tiba-tiba berdiri.


Sret


"Aku pergi" kata Zio datar lalu berjalan keluar dari ruangannya.


"Hehe memang enak aku kerjain. siapa suruh bikin mood aku rusak." batin Silvana yang tersenyum licik.


Sedangkan di bawah Zio menyeret Arga untuk mengikutinya pergi ke supermarket.


"Tuan sebenarnya kita akan kemana?" tanya Arga kepada Zio.


Arga benar-benar kesal dengan Bosnya itu pekerjaan menumpuk tapi Bosnya malah menyeretnya keluar tanpa penjelasan.


"Supermarket" jawab Zio dingin dengan wajah frutasi.


"Untuk apa ke supermarket Tuan? bukannya jika ingin belanja kebutuhan sudah ada pelayan di mension?"

__ADS_1


"Membeli pembalut"


Sontak Arga yang kaget refleks menginjak pegal rem mengakibatkan Zio hampir terjungkal di depan.


Ckit


Bugh


"Kau ingin membunuhku ha….." teriak Zio kesal menatap tajam Asistennya itu.


"Maaf Tuan saya hanya kaget" kata Arga meminta maaf.


"Cih"


Zio hanya bisa berdecih lalu membuang muka dan menatap keluar jendela sedangkan Arga langsung melanjutkan perjalanan menuju supermarket terdekat.


"Pantas saja muka Tuan tertekan dan Frutasi seperti itu ternyata di suruh beli pembalut" kata Arga dalam hati merasa ngeri sekaligus geli.


Sampai di depan supermarket baik Zio maupun Arga tidak ada yang turun dari UU


mobil.


"Tuan tidak ingin turun?" tanya Arga melirik Bosnya lewat kaca spion.


"Kau saja yang turun" kata Zio seperti perintah.


Glek


"Nona Silvana akan kecewa Tuan" kata Arga menakut-nakuti Zio.


"Kenapa seperti itu"


"Karna dia berharap pada Tuan tapi Tuan malah mematahkan kepercayaan yang di berikan Nona Silvana."


"Cih bahkan mantan aku Doni"


"$hit"


Zio yang mengingat ucapan Silvana tentang mantannya yang mau membelikannya membalut langsung turun dari mobil dan menutup kasar pintu mobil.


Dengan wajah datar dan dingin andalannya, Zio berjalan masuk ke dalam supermarket allu mulai mencari benda yang di sebutkan kekasihnya itu.


"Ini yang mana?" guman Zio penuh tanda tanya melihat jejeran pembalut.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya seorang wanita yang menghampiri Zio.


"Sepertinya wanita ini pekerja disini" kata Zio dalam hati melihat seragam yang di kenakan wanita di depannya.


"Kekasihku membutuhkan pembalut" kata Zio dengan wajah datar.


"Merek yang mana Tuan?"


"Tidak tahu"


"Yang bersayap atau tidak bersayap"


"Bersayap"


"Ukuran berapa cm Tuan"


"Aaaaa" teriak Zio frutasi dalam hati.


Sumpah demi apapun mendapat pertanyaan seperti itu malah membuatnya mati kutu. Zio yang sudah kesal langsung mengambil 1 bungkus setiap merek lalu membawanya di kasir.


"Cepat kekasihku menungguku" sentak Zio kepada kasir wanita yang hanya asyik menatapnya.


Zio sangat tidak menyukai pandangan memuja dan mendapatkan dari kaum wanita yang menurutnya sangat munafik kecuali Silvana karna baginya Silvana itu bagaikan malaikat.

__ADS_1


Selesai melakukan pembayaran tanpa ba-bi-bu Zio langsung mengambil belanjaannya lalu berjalan cepat meninggalkan supermarket.


"Kembali cepat" perintah Zio yang baru masuk dalam mobil.


__ADS_2