Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 27


__ADS_3

"Kamu memang tampan tapi Tuan Arga juga tampan" kata Silvana polos.


"NONA…….!" Arga berteriak dalam hati menatap tajam Silvana yang sedang menahan tawa.


Sedangkan Zio hanya diam namun tatapan matanya sudah seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Arga yang melihat tatapan Tuannya itu hanya bisa menelan ludah dengan paksa.


"Arga cepat jalan" titah Zio datar dan dingin membuat Arga dan Silvana tersentak.


"Zi….Zio kamu marah ya?" Silvana bertanya dengan takut-takut lantaran wajah Zio terlihat menakutkan untuk saat ini di pandang.


"Aku tidak marah hanya saja aku cemburu saat kamu memuji pria lain baby" kata Zio yang masih bernada sama yaitu dingin dan datar.


"Lain kali jangan memuji pria lain selain diriku baby" lanjut Zio yang memberi peringatan kepada sang kekasih.


"Hm" Silvana hanya berdehem dan mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.


(Cari aman katanya biar kagak di amuk sama kekasih posesif)


Sedangkan Arga hanya terlihat diam dan fokus menyetir tapi percayalah kedua tangan dan kakinya gemetar dari tadi apalagi Tuannya itu masih terus menatap tajam dirinya. bulir-bulir keringat sebesar biji jagung keluar menetes di dahi Arga.


Beberapa menit kemudian Arga memarkirkan mobilnya di depan sebuah Kafe yang terlihat begitu ramai.


"Kenapa kau berhenti disini?" tanya Zio dingin.


"Ini terlihat ramai pasti makanan dan minumannya….." perkataan Arga langsung di potong oleh Zio.


"Cari yang lain atau aku potong gaji kamu!" potong Zio.


"Baik Tuan"


Arga hanya bisa patuh pada perintah Tuannya yang kelewat batas itu.


"Apa salahnya sih makan disana Zio apa yang di katakan Tuan Arga itu benar disana pasti makanannya pada enak-enak." timpal Silvana menggerut kesal Karna dia sekarang benar-benar lapar namun Zio malah menunda-nunda membuatnya tambah kesal saja.


"Makanan disana tidak enak baby, walau pun enak pasti sudah banyak kumannya, sudah tidak higenis lagi. kau tidak lihat disana banyak orang pasti kuman dan bakteri yang di bawah orang luar langsung hinggap di hidangan makanan mereka." kata Zio enteng.


Sedangkan Silvana yang mendengar penuturan Zio langsung melototkan matanya. bagaimana bisa hanya karna rame makanan di tempat itu di simpulkan banyak kuman dan bakteri yang benar saja pikir Silvana.


"Tapi masalahnya aku sudah sangat lapar Zio……! dan kamu dengan seenak jidat kamu menunda-nunda waktu makan kalau aku mati kelaparan gimana" teriak Silvana kesal.


Silvana benar-benar lupa siapa sosok yang dia teriaki di depannya itu. Entah lupa atau pura-pura lupa hanya Silvana yang tahu yang jelas yang di perlukan Silvana sekarang adalah makan untuk mengisi perut dan memberi makan cacing di perutnya yang sudah sedari tadi terus berdemo minta jatah makan.


"Kau sudah lapar rupanya baby" balas Zio enteng membuat Silvana semakin meradang.

__ADS_1


"Jika aku mati kelaparan yang akan aku datang hantui adalah kalian berdua." kata Silvana dengan kesal.


Sontak ucapan Silvana langsung membuat Zio menatapnya tajam sedangkan Arga hanya bisa menelan ludah mendengar Silvana akan menghantui dia juga.


"Stop! baby. aku tidak suka kamu menyebut kata mati" kata Zio dingin.


"Cih…. tidak suka tapi kau yang membuatku kelaparan" Guman Silvana cemberut namun masih di dengar oleh Zio.


"Baiklah maafkan aku Baby. sebagai permintaan maaf aku kamu bisa menentukan tempat makan mana yang kamu inginkan akan aku penuhi walau di restoran termahal sekalipun." kata Zio yang masih sempat-sempatnya juga sombong di akhir kalimatnya.


"Benarkah?" Silvana bertanya dengan wajah berseri-seri.


"Apapun untukmu." balas Zio.


Seketika itu pula senyum aneh melengkung di sudut bibir Silvana namun tidak ada yang menyadari itu.


"Baiklah jika begitu kita ke jalan mawar" kata Silvana dengan semangat.


"Kau tadi mengatakan di kafe sana banyak kumannya 'kan mari akan aku tunjukan seperti apa rasanya makan di tempat panas tanpa AC." kata Silvana dalam hati tersenyum licik.


Beberapa menit kemudian terlihat Arga sudah sampai di jalan yang di katakan oleh Silvana.


"Tuan Arga anda boleh berhenti di kedai depan" kata SILVANA menunjuk warung makan di depan sana.


Arga mengikuti arah tunjuk Silvana mata Arga langsung membulat dengan menelan ludah melirik Zio yang masih fokus dengan ponselnya.


Ckit


Arga memberhentikan mobilnya pas di depan warung makan itu.


"Zio ayo turun kita sudah sampai." ucapa Silvana.


"Oh sudah sampai baik ayo kita turun baby" kata Zio yang langsung turun tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


"Mana restorannya sayang?" tanya Zio kepada Silvana.


"Bukan restoran tapi kedai, tuh ada di belakang kamu" kata Silvana menunjuk di belakang Zio dengan dagunya.


Mendengar kata kedai Zio langsung kaget dengan kepala patah Zio menoleh ke belakang, dan benar saja mata Zio langsung membulat sempurna melihat kedai makanan yang di pilih oleh sang kekasih itu. Bahkan, wajah Zio langsung memucat.


Sedangkan Arga yang melihat wajah pucat sang Tuan hanya bisa tertawa jahat dalam hati menatap iba Atasannya itu.


"Makan tuh kedai. Jika Tuan nurut saja tadi mana mungkin makan di tempat beginian" kata Arga yang cekikikan sendiri dalam hati.


"Ada apa dengan muka mu Zi?" Tanya Silvana menatap heran Zio yang sudah berwajah pucat.

__ADS_1


"Eh…. Tidak apa-apa kok" jawab Zio yang gelagapan sendiri.


"Sudah kalau gitu ayo kita masuk" ucap Silvana yang menarik tangan Zio namun Zio menahannya.


"Ada apa?"


Silvana berbalik lagi lalu melihat Zio yang menarik tangannya dengan menatap aneh kedai di depannya itu.


"Sayang kita makan di tempat lain saya yah"


"Lah kenapa?"


"Sayang lihat kedai itu begitu….."


"Begitu sederhana? Begitu kotor begitu?"


Zio yang mendengar perkataan Silvana langsung diam tidak lagi harus mau bicara apa.


"Terserah deh. kalian mau makan dimana, aku nggk peduli yang aku pedulikan sekarang adalah aku lapar dan aku butuh makan. Jika kalian tidak makan disini silahkan cari makanan lain tapi aku akan makan disini titik nggak pake koma apalagi tanda tanya" omel Silvana yang langsung pergi meninggalkan Zio dan Arga yang mematung di depan kedai itu.


Selepas kepergian Silvana kedua pria itu langsung saling melirik satu sama lain.


"Apa yang harus kita lakukan Tuan? Apa kita pergi mencari restoran terdekat saja?" Kata Arga yang mengusulkan ide kepada Zio.


"Dan membiarkan kekasih ku di lihat dan lirik oleh pria-pria itu?" Sentak Zio yang menatap tajam Arga.


"Buset. Aku salah apalagi? 'kan Tuan sendiri yang nggk mau masuk gimana sih?" Gerutu Arga dalam hati.


"Lalu apa kita harus menahan lapar disini? Tuan aku lapar, tapi Tuan tidak mungkin masuk ke dalam sana. Jadi, lebih baik kita cari restoran……"


"Enak saja. Kamu pikir aku akan membiarkan kekasihku di lirik-lirik oleh pria mata keranjang? Tidak akan aku biarkan!"


"Lalu kita harus bagaimana Tuan?"


"Yaa masuklah ngapain lagi!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Selamat pagi para reader tercintaku😂🤭🤭


Jangan lupa mampir di karya teman Othor yang satu ini ya😉


Judul : Drama Wife


By : Rima Junia Ermolina**

__ADS_1




__ADS_2