Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
Bab 21


__ADS_3

"Doni" Silvana yang melihat Doni sedang mencium bibir seorang wanita di depan umum.


"Dasar brengsek, memalukan" umpat Silvana yang langsung melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah Doni.


Wusssh


Bugh


"Aw" Ringis pria itu yang tak lain adalah Doni.


Doni menunduk menatap sepatu yang tadi mendarat di kepala belakangnya.Doni dengan emosi memungut sepatu itu dan mencekramnya mantap sekelilingnya.


"Siapa yang berani melemparkan, ayo keluar" teriak Doni yang menahan amarah.


"Bagaimana rasanya?" tanya Silvana yang muncul tiba-tiba.


Doni langsung menatap Silvana lalu menatap wanita di sampingnya yang langsung bergelayut manja.


"Silvana ini nggak seperti yang kamu bayangankan kok" kata Doni gelagapan berusaha melepaskan lilitan tangan wanita di sampingnya.


"Cih nyatanya penghianat tetap Penghianat dan sampah tetaplah sampah" sarkas Silvana menatap sinis Doni dan wanita yang bergelayut di lengan Doni.


"Kamu menganggap kami sampah begitu ha…." teriak wanita di samping Doni yang tak lain dan tak bukan adalah selingkuhan Doni yang di pergoki Silvana di hotel waktu itu yaitu Mona sang sekretaris Doni.


"Aku tidak menyebut nama kalian tapi jika kalian merasa itu ku rasa mungkin kalian memang sampah kan?" ucap Silvana santai.


"Kau….. sayang lihat mantanmu ini berani mengatai kita sampah" ucap Mona yang mengadu kepada Doni yang hanya bisa berdiri diam menatap Silvana.


"Silvana ini…." perkataan Doni langsung di potong.


"Dan kamu, baru kemarin kamu datang di apartemen ku mohon-mohon untuk balikan tapi lihat, sekarang bahkan kamu tengah asik bercumbu mesra dengannya di tempat umum seperti seekor anjing" sarkas Silvana.


"Kau, beraninya kau mengumpamakan kami anjing. Kamu memang benar-benar harus di beri pelajaran" kata Mona dengan amarah yang menggebu-gebu mengagungkan tangannya untuk menampar Silvana.


Plak


Plak

__ADS_1


Tapi sayang seribu sayang bukannya menampar Silvana malah dia sendiri yang di tampar bahkan 2 kali lipat sampai ujung bibirnya robek.


"Kau…." Mona hanya bisa menunjuk wajah dan menatap tajam Silvana yang kali ini tidak seperti dulu lagi.


"Kenapa? kau fikir aku akan menjadi Silvana yang bodoh, yang hanya bisa pasra saat kau injak-injak. tidak akan lagi! aku bahkan akan membalas mereka yang menyakitiku 2 kali lipat dari apa yang mereka lakukan padaku" tekan Silvana menatap Mona dan Doni sengit.


"Aku rasa aku cukup beruntung putus dengan sampah sepertimu karna akan sangat rugi jika aku terus mempertahankan barang obral seperti kamu" lanjut Silvana dengan senyum remeh di bibirnya.


"Bilang saja jika kamu cemburu karna Doni lebih memilihku di banding kamu. Makanya jadi cewe itu nggak usah jual mahal. jelas dong Doni lebih memilih aku di banding kamu yang nggak bisa muasin kebutuhan dia" kata Mona penuh senyum kemenangan.


"Jadi aku harus jadi wanita murahan seperti kamu begitu? yang menjajakan tubuhnya kesana Kemari seperti barang obrolan." balas Silvana.


"Silvana bagaimana bisa kamu menghina Mona seperti itu? Apa yang dia katakan itu benar, jika kamu memenuhi kebutuhan batinku, aku tidak akan mungkin….."


"Dan menjadi pemuas nafsumu begitu?" potong Silvana menatap sinis Doni.


"Aku bukan dia yang akan menjajakan tubuhku secara gratis apalagi tidak ada kepastian. Aku mencintai kamu tapi aku lebih mencintai diri aku sendiri. aku memang tak memberikan kamu kepuasan batin tapi harusnya kamu sadar jika aku meminta untuk di nikahi agar menjadi rumah tempatmu pulang bukan menjadi ****** tempatmu singgah" lanjut Silvana tegas.


Mendengar itu Doni langsung tertegun di tempat. Suaranya bagaikan tertelan di tenggorakan saat akan membuka suara. selama ini Silvana menemaninya dari Nol sampai sekarang Silvana adalah pasangan yang sempurna namun satu kelemahannya yaitu tidak mengizinkan Doni memilikinya tanpa ikatan pernikahan dan Doni belum siap jika harus hidup berkomitmen.


Sedangkan di sisi lain Zio mendengar semua percakapan mereka namun saat mendengar pernyataan Silvana yang terakhir dia langsung tertegun, jantungnya berdebar kencang menatap dalam Silvana.


Zio berjalan pelan ke arah Silvana yang belum menyadari keberadaannya karna tadi setahu Silvana mereka sudah masuk dalam mobil.


"Sekarang kembalikan sepatuku" kata Silvana tegas mengadakan tangannya.


Mona langsung melihat ke tangan Doni yang sedang memegang sepatu putih yang begitu cantik dan indah. Mona dapat pastikan jika harga sepatu itu pasti harganya fantasi melihat dari logonya saja.


"Jika tidak mau bagaimana?" kata Mona tersenyum licik langsung merebut sepatu itu dari tangan Doni.


"Kau……" kalimat Silvana terpotong dengan suara berat yang memasuki pendengarannya.


"Tidak perlu mengambilnya kembali baby. aku masih sanggup untuk membelikannya bahkan jika dengan tokonya sekaligus" potong Zio yang berjalan dengan memasukan tangannya di saku celana.


"Tuan Zio"


"Tuan"

__ADS_1


"Tidak perlu memintanya. barang yang sudah kamu buang berarti tidak layak lagi di pakai" kata Zio lembut menyelinapkan helaian rambut Silvana yang menghalangi wajah cantiknya.


"Tapi…."


"Ssst tenang saja itu sepatu murah kok" potong Zio.


Sedangkan Mona dan Doni hanya bisa melongo mendengar Zio mengatakan harga sepatu itu murah padahal harga sepatu itu sekitaran 500juta tapi Zio mengatakan murah.


"Sekarang lepaskan satunya lagi" pinta Zio lembut.


"Tapi….. aku menyukai sepatu itu" cicit Silvana seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


Arga yang di belakang Zio langsung tersedak ludahnya sendiri melihat ekspresi masam wajah Silvana.


"Astaga Nona, bahkan jika anda meminta di belikan dengan pabriknya maka Tuan akan belikan tanpa berpikir 2 kali" kata Arga dalam hati.


"Tidak apa-apa nanti aku akan membelikannya yang lebih bagus dan lebih mahal oke" kata Zio.


"Tapi…." Kalimat Silvana terhenti saat mendengar perintah Zio.


"Arga pesan sepatu untuk Silvana pastikan lebih bagus dan mahal di banding sepatu murah itu" kata Zio datar.


"Baik Tuan" jawab Arga patuh namun tidak dalam hati.


"Sultan mah bebas" kata Arga dalam hati yang hanya bisa diam di balik wajah datarnya.


"Kau dengar bukan? sekarang lepaskan sepatu itu" kata Zio lagi namun dengan nada tegas.


Dengan wajah tak ikhlas Silvana melepaskan sepatu di kakinya dengan pelan. padahal Silvana benar-benar menyukai sepatu itu tapi mau di apa benar kata Zio barang yang di buang tidak pantas di pungut lagi pikir Silvana.


Hap


Seperti biasa Zio langsung menggendong tubuh Silvana ala bridal style untuk kali ini Silvana tidak lagi kaget karna dia harus mulai membiasakan diri untuk ini.


"Tuan….. kenapa Tuan menggendong wanita itu Tuan"


Pertanya Mona membuat senyum Zio langsung pudar dan membalik menatap datar dan tajam ke arah Mona.

__ADS_1


"Apa salahnya menggendong tubuh kekasihku sendiri" kata Zio datar.


"Apa?"


__ADS_2