
"Sayang kamu kenapa mendiami aku terus?" Tanya Zio yang entah kesekian kalinya.
Namun untuk kesekian kalinya pula dia di cueki oleh kekasihnya itu. Sejak keluar dari Rumah sakit wajah Silvana sudah tidak enak di pandang apalagi dari tadi kekasihnya itu terus mendiaminya.
"Kamu marah karna aku menginap di apartemen kamu?"
Zio memang tadi mengatakan akan menginap di apartemen Silvana dengan alasan jika nanti Silvana membutuhkan bantuan akan langsung bisa membantunya. Zio mengatakan itu memang khawatir akan keadaan Silvana dan kedua dia ingin memiliki sedikit waktu dengan Silvana. Zio tidak pernah berfikir untuk melakukan hal lebih terhadap Silvana apalagi usia hubungan mereka masih sangatlah baru. Namun akan berbeda jika Silvana yang meminta.
"Jika kamu marah akan hal itu, baiklah aku akan pulang" kata Zio yang membalik badannya menuju pintu.
"Kamu mau pergi menemui Dokter muda itu ha…..? Pergi sana!" Ucap Silvana dengan kesal.
"Dia cemburu?" Guman Zio yang menatap punggung Silvana yang menjauh.
BRAK
Zio mengelus dada mendengar suara pintu yang di banting oleh Silvana. Dapat Zio tebak jika kekasihnya itu sedang cembukor alias cemburu.
"Astaga kekasihku sangat lucu jika sedang cemburu" kata Zio pelan dengan menahan gemes.
Dengan langkah cepat Zio menuju kamar sang kekasih yang pasti sedang merajuk sekarang.
Ceklek
"Dasar mata keranjang….. Cih nggak bisa lihat cewe bening dikit matanya dah melotot saja. Dasar pria playboy cap kodok"
Zio yang mendengar gumaman Silvana hanya bisa menahan senyum karna gadisnya itu terlihat menggemaskan dengan ekspresi seperti itu. Namun senyum Zio langsung luntur saat mendengar kalimat Silvana yang selanjutnya.
"Aku kira Zio beda mah si Doni kuda Nil itu eh taunya sama saja" gerutu Silvana yang memukul-mukul guling dengan tangannya.
Grep
"Jangan menyamakan aku dengan mantam kamu yang penjahat kelamin itu sayang" kata Zio yang memeluk Silvana dari belakang.
"Kenapa?" Silvana berbalik hingga keduanya saling berhadapan satu sama lain.
"Karna aku jelas berbeda sayang" kata Zio dengan datar namun tidak dingin.
"Cih kalian sama saja, matamu bahkan hampir keluar dari tempatnya melihaDok...Humpppp"
Kalimat Silvana tidak berlanjut lagi karna mulutnya langsung di bungkam oleh Zio.
Cup
Cup
Cup
Cup
"Aku tidak pernah menatapnya sayang…. Tak perlu cemburu karna aku hanyalah milikmu hanya milik Silvana Aurora seorang" kata Zio tegas yang menatap mata hitam Silvana.
"Cih dasar gombal" dungus Silvana yang membuang muka.
"Hey…. Aku tidak menggombal aku mengatakan yang sebenarnya" ucap Zio yang menarik dagu Silvana hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.
__ADS_1
"Kenapa dia sangat tampan dan….. Aaaa aku ingin menerkamnya sekarang" jerit Silvana dalam hati yang menatap Zio dengan tatapan penuh damba.
"Kenapa menatapku seperti ni hmm?" Tanya Zio yang mengelus pipi Silvana..
"Aku butuh bukti bukan hanya bualan…."
"Lakukan apapun aku milikmu"
"Benarkah?"
"Apapun itu aku tak akan menolak"
Mendengar itu Silvana langsung tersenyum miring dengan pikiran yang entah apa.
Glek
"Jangan menyesal" kata Silvana yang langsung naik di atas tubuh Zio.
"Sayang kau….."
Cup
Kalimat Zio langsung terhenti dengan mata melotot saat merasakan bibir Silvana yang menempel sempurna di atas bibirnya. Tak hanya menempelkan Namun kekasihnya itu dengan berani memainkan bibirnya.
"Silvana….."
Zio hanya bisa bergumam tidak jelas sebelum mulai membalas ciuman Silvana dengan ciuman yang menuntut. Ciuman yang awal hanya pelan dan lembut kini berganti menjadi ciuman agresif dan menuntut.
Cup
"Shhhs Sa…sayang"
Zio bergerak gelisah dengan napas yang memburu dan memberat. Wajahnya memerah dengan urat-urat menonjol di lehernya saat Silvana dengan berani mencium dan menggigit kecil lehernya..
"Sa…sayang hen…hentikan" Zio menarik lembut kepala Silvana hingga wajah Silvana menjauh sedikit dari leher Zio.
Tatapan sayu keduanya bertemu dengan napas yang sama-sama memburu menahan sesuatu dalam diri mereka. Zio semakin terlena saat melihat tatapan sayu Silvana padanya.
Sret
Dalam satu kali tarikan semua kancing baju Zio langsung terlepas. Hingga memperlihatkan dadanya dan perutnya yang berotot menandakan jika dia sering melakukan olahraga dan gym.
Cup
Silvana dengan berani mulai mencium dada bidang Zio membuat Zio tersentak.
Sret
Zio menarik lembut rambut Silvana membuat Silvana mendongak melihat Zio.
"Kenapa hmm…?"
"Aku ingin memiliki kamu aku ingin kamu menjadi milikku" jawab Silvana dengan mata yang semakin sayu dan hal itu sukses membuat Zio semakin mabuk dan jatuh dalam pesona seorang Silvana.
Silvana menggambar pola abstrak di dada bidang Zio, mengelus lembut penuh sensual bulu-bulu halus yang ada dan tumbuh pada dada Zio.
__ADS_1
"Aku ingin kamu memasuki ku" bisik Silvana yang menggigit daun telinga Zio.
Sret
"Kamu yang memulai sayang… jangan salahkan aku jika bukan aku yang menjadi milikmu tapi kamu yang menjadi milikku" Desis Zio di depan wajah Silvana dengan jarak yang begitu dekat.
Cup
Entah setan apa yang meracuni Silvana hingga memiliki inisiatif mencium dan memagut bibir Zio dengan kasar yang menandakan jika dia benar-benar menginginkan Zio.
Cup
Srek
Zio dengan hati-hati membuka satu persatu kancing baju Silvana hingga kini baju Silvana telah terbuka entah kemana.
Cup
"Ini sangat menantang sayang"
Zio menggelapkan wajahnya di antara dua bukit yang menantang di depannya itu. Di cumbunya dengan penuh semangat dada Silvana. Bahkan bagaikan bayi kehausan Zio terus menyedot ****** susu pink itu dengan tangan yang terus merambat entah kemana.
"Ah…. Zi….o" Silvana mendesah pelan saat putingnya di hisap kuat oleh Zio
Zio yang mendengar ******* Silvana langsung tersadar dan menjauhkan wajahnya dari dada Silvana.
"Kenapa?" Silvana bertanya dengan napas yang ngos-ngosan.
Zio hanya diam menatap wajah sang kekasih yang telah memerah dengan tatapan mata yang begitu sayu. Zio tau sang kekasih telah bergairah tapi dia tidak ingin merusak Silvana.
"Ini salah sayang…. Aku tidak bisa melakukannya aku tak ingin merusakmu terlebih lagi aku tak ingin kamu menyesal suatu saat nanti" kata Zio lembut yang dengan pelan bergerak turun dari atas tubuh Silvana.
"Kamu…. Menolak ku?" Tanya Silvana dengan tatapan tidak suka.
"Bukan menolak sayang tapi aku tidak ingin membuat kamu menyesal" ralat Zio.
"Cih intinya kau menolakku kan?" Tuding Silvana dengan kesal.
"Huh baiklah aku menolak mu untuk melakukannya" balas Zio yang rela mengalah.
"Brengsek, tau gini lebih baik aku melakukannya dengan Doni saja"
Sret
"Sayang aku tidak suka kamu mengatakan itu" ucap Zio datar dan dingin.
"Terserah" balas Silvana ketus berbalik memungguni Zio.
"Sayang aku tidak…."
"Diam! aku mau tidur" potong Silvana yang penuh penekanan.
Zio yang mendengar itu hanya bisa menghela napas dengan berat. Dengan lembut Zio memeluk Silvana dari belakang hingga beberapa menit kemudian Zio mendengar denguran halus Silvana yang menandakan jika gadis itu telah tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
mungkin **ada yang mau di buatin group WA pembaca hubungi Othor yah siapa kita bisa saling mengenal lebih dekat.
Wa 082251574615**