
Riko yang sedang bersantai di taman belakang mension miliknya di kagetkan dengan salah satu pelayan yang datang berbisik kepadanya.
Wajah santai Tuan Riko langsung berganti wajah gelap. Tangannya mengepal erat dengan tatapan tajam langsung berdiri dari kursi duduknya.
"Siapkan mobilku…!" Titah Tuan Riko kepada pelayan itu.
"Baik Tuan." Pelayan itu langsung berbalik berlari menuju garasi untuk mempersiapkan mobil yang akan di pakai atau gunakan sang majikan.
Sedangkan Tuan Riko pria paruh baya itu langsung berbalik berjalan berlawanan arah dengan pelayan tadi.
Tuan Riko naik ke lantai atas mengganti pakaiannya dengan pakaian formal. Setelah memastikan Tuan Riko langsung keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Tuan Riko naik ke mobil yang sudah ada supir di depannya. Mobil Tuan Riko segera meleset meninggalkan mension menuju jalan raya ke perusahaan.
Sampai di perusahaan Tuan Riko langsung turun dari mobil berjalan masuk ke dalam perusahaan. Baru saja di lobby tapi telinga Tuan Riko langsung panas mendengar gosip-gosip sepanjang jalan.
Tuan Riko mempercepat langkahnya menuju lift naik ke lantai paling atas. Sampai di atas Tuan Riko dengan langkah lebar dan langsung berjalan cepat menuju ruangan Doni.
Brak…
"Sial, Kenap bisa seperti ini? Jelas-jelas kemarin masih baik-baik saja. Jika begini terus aku tidak mempunyai waktu untuk menemui Silvana. Kenapa perusahaan sialan ini juga terus terguncang semenjak Vana pergi? Kenapa masalah terus berdatangan? Kenapa…."
"Karna Silvana adalah salah satu pilar yang mengkokohkan perusahaan ini." Tahu Tuan Riko dari luar yang tak sengaja mendengar ucapan Doni.
Doni yang mendengar suara Tuan Riko langsung menoleh ke arah asal suara. Matanya menyipit melihat sang ayah berada di depannya di saat kondisi perusahaan yang sedang genting.
"Sekarang kamu tahu kenapa aku selalu mempercayakan proyek-proyek besar kepada Silvana walau tanpa dirimu..? Itu karena dia mampu. Dia sanggup dan tentunya cerdas, otaknya berjalan dengan cepat berpikir untuk bagaimana jalannya agar bisa sukses. Dia adalah paket lengkap untuk menjadi istri, menantu, bahkan partner kerja. Nyatanya kamu justru melepasnya begitu saja." Ucap Tuan Riko yang benar-benar membuat Doni terdiam mengepalkan tangan.
Doni hanya diam dengan tangan yang mengepal erat entah marah pada perkataan Tuan Riko atau keadaan yang sekarang.
"Bisakah Dad tidak terus memojokkanku..? Aku tahu salah, aku akan memperbaikinya tapi jangan terus memojokan aku. Aku juga sekarang lagi pusing mengembalikan semua kekacauan ini seperti sedia kala." Ucap Doni dengan setengah kesal.
Doni tahu jika dia kesal tapi dia juga muak merasa terus dipojokkan oleh sang Ayah. Lagipula dia bukan ayahnya yang bisa menahan hasratnya, Doni tahu mungkin Ayahnya adalah contoh seorang pria yang benar-benar mencintai wanita begitu besar. Mungkin cinta sejati itu ada dan buktinya adalah ayahnya sendiri.
__ADS_1
Namun, kembali lagi Doni bukan ayahnya yang bisa menahan semua hasrat itu untuk tidak di puaskan. Merasa hampa karna kehilangan Silvana kini harus di sibukan lagi dengan urusan perusahaan mereka yang kebocoran data. Lalu Tuan Riko juga tiba-tiba muncul bukannya membantu justru memojokannya. Hal itu tentu membuat Doni semakin kesal di buatnya.
"Terserah kamu, Ayah keluar dulu." Tuan Riko segera keluar dari ruangan Doni menuju ruangan It.
Tuan Riko berjalan cepat ke ruangan para It Tuan Riko yakin masalah ini bukan hanya kecerobohan para karyawan namun juga ada unsur dari luar.
Sedangkan di dalam ruangan Doni hanya bisa meremas wajahnya dengan kasar. Doni benar-benar kalap sekarang saham perusahaan semakin menurun karna kebocoran data ini. Namun sudah hampir satu jam anak buahnya belum juga kembali memberi kabar baik.
Doni duduk termenung di kursinya kepalanya berputar-putar karna merasa pening memikirkan bagaimana cara mempertahankan semuanya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk…"
"Tuan…"
"Katakan…!" Ucap Doni yang menatap Gio tajam.
Doni harap kali ini Gio membawa kabar baik yang bisa membuat bebannya berkurang walau sedikit.
"Semuanya kembali normal Tuan… Data yang bocor kini telah seperti sedia kala." Lapor Gio.
"Benarkan…?" Tanya Doni yang setengah percaya.
"Benar Tuan….."
Haaaaah
Terdengar Doni menarik nafas lega karena permasalahan yang dia cemaskan sudah bisa di atasi. Walaupun dengan kembalinya data-data yang bocor itu tidak menutup harga saham yang menurun. Akan tetapi koma, masalah utamanya sudah diatasi sekarang tinggal masalah Bagaimana cara mengembalikan saham seperti sedia kala.
__ADS_1
"Keluarlah…."
Gio segera keluar dari ruanga Doni meninggalkan Doni yang sendirian dalam ruangan.
Dret
Doni yang baru bernapas lega di kagetkan dengan bunyi ponselnya yang tiba-tiba. Melihat nama sang pelaku yang merupakan wanita selingkuhannya Doni hanya menghela nafas membiarkan bangsa Indonesia terus berdering.
Ting
Merasa kesal karena terus di hubungi tiada henti Doni langsung mengambil ponselnya. Akan tetapi, matanya menyipit saat melihat nomor asing yang tak di kenalnya mengirimkan pesan padanya.
Dengan rasa penasaran yang kuat Doni segera mengklik membuka pesan dari nomor misterius tersebut. Hingga Doni membulatkan mata saat melihat pesan dari nomor misterius tersebut.
"Bagaimana dengan hadiahku…? Kamu menyukainya..? Ini hanya hadiah awal, jika kamu berani mengusik milikku lagi. Maka akan aku ratakan perusahaan kecil kamu itu sampai rata dengan tanah!"
Zionard Morgan Dewantara
Deg
Doni meremas ponselnya dengan kasar jika saja tidak sayang harga ponsel itu yang puluhan juta sudah Doni buang dan banting benda persegi itu. Matanya memerah menatap pesan dari orang yang membuat perusahaan milik Ayahnya hampir gulung tikar. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah kekasih Silvana.
Brak
"Sial…!" Umpat Doni yang memukul meja.
Darah pria itu seperti mendidih membakar seluruh aliran darahnya. Dadanya kempes kempis pertanda menahan amarah. Doni tidak menyangka jika pria itu akan menyerangnya secepat itu bukan menyerangnya secara fisik namun menyerangnya secara material.
Jika dipikir-pikir siapa wanita di dunia ini yang mau hidup bersama pria yang tidak memiliki apa-apa dengan kata lain miskin. Walaupun ada namun hanya beberapa orang itupun wanita yang benar-benar memiliki hati yang baik.
Lalu Silvana? Apa wanita itu mau hidup bersamanya dengan hidup yang pas-pasan tak memiliki apa-apa dibanding dengan seorang Zionard pengusaha sukses di negara itu. Memikirkan hal itu tanpa dijelaskan Doni pun tahu jika Silvana tidak akan kembali padanya. Bukan karena keadaan miskin Namun karena suatu kesalahan yang begitu rapat.
"Sialan…..! Dasar Zionard brengsek!" Umpat Doni.
__ADS_1
"Itulah balasan orang yang berani mengusik ku!" Ucap Zio yang menyeringai licik.