
"Maafkan aku, karna aku hanya bisa menjadikan kamu seperti itu. Dari awal aku tidak mencintai kamu ataupun wanita lain yang menjadi partner ku di atas ranjang. Aku hanya butuh kepuasan karna yang aku cintai hanya satu yaitu Silvana." Terus terang Doni.
Penuturan Doni barusan bagaikan belati yang menghujam dada Mona. Walaupun tidak mencintai Doni sungguh-sungguh tapi tetap saja hatinya terasa sakit apalagi setelah mereka bersama kurang lebih 3 tahun. Dengan Doni yang memberikannya segela perhatian yang tiada tara dan mengutamakan ya di bandingkan Silvana membuat Mona sedikit memiliki rasa ingin di perhatikan oleh pria itu.
"****** sialan! Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Doni dariku. Kenapa bahkan di saat putus pun wanita sialan itu masih terus ada di hati pria bodoh ini." Umpat Mona yang mengepalkan tangannya.
"Aku mengerti mungkin salahku juga karna terlalu berharap jauh padamu." Imbuh Mona yang menundukan kepalanya berakting seperti merasa bersalah banget.
Doni yang mendengar ucapan dari Mona langsung menatap wanita di depannya itu dengan intens. Matanya dengan teliti melihat Mona dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Apa maksud mu…?" Doni bertanya dengan suara berat entah kenapa sepertinya dirinya ingin sekali menerkam wanita yang tak berdaya di depannya itu.
"Aku….. aku mencintai kamu Doni tapi aku sadar diri aku tidak pantas untukmu." Ungkap Mona dengan membuang muka. Lebih tepatnya menyembunyikan sebuah senyum penuh kemenangan saat melihat Doni yang mulai gelisah.
Doni yang mendengar itu tertegun tapi bukan itu masalahnya sekarang. Sekarang Doni benar-benar bergairah dan dia membutuhkan Mona sebagai orang yang akan memuaskannya.
"Sial, aku benar-benar tidak tahan. Aku ingin memasukinya dan menuntaskan semua ini. Silvana sayang maafkan aku, aku janji ini terakhir kalinya aku melakukannya setelah itu aku hanya akan menjadi milikmu." Ucap Doni dalam hati yang meminta maaf kepada Silvana.
Tanpa ba-bi-bu Doni langsung berdiri berjalan menghampiri Mona yang masih menunduk sepertinya wanita itu sedang bersedih. Sedangkan Mona yang melihat Doni mendekat ke arahnya langsung tersenyum lebar akan tetapi menyembunyikan.
Sampai di depan Mona yang sedang menunggu Doni langsung berjongkok di depan wanita itu mengangkat dagu Mona dengan jarinya hingga pandangan keduanya bertemu.
"Benarkah kamu mencintaiku?" Tanya Doni yang dengan suara semakin berat dengan napas yang memburu.
Mona yang melihat wajah Doni memerah langsung bersorak dalam hati. Rencananya akan berjalan lancar malam ini hingga membuat Doni menjadi miliknya.
__ADS_1
"Jawab Mona…!" Desak Doni yang sudah sangat tidak tahan untuk melepaskan apa yang dia tahan sedari tadi.
Mona yang mendapat pertanyaan seperti itu pura-pura membuang muka dengan raut cemberut dan sedih secara bersamaan.
"Apa pentingnya? Kamu mencintai Silvana." Ucap Mona pelan seperti wanita yang benar-benar terluka.
"Jika kamu memang mencintaiku, aku ingin bukti dari ungkapan kata cinta itu Mona." Ucap Doni yang mendekati wajah Mona.
Bir4hi Doni semakin meningkat tak sabar ingin mencicipi bibir merah menyalah di depannya itu. Mona yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan dalam hati namun di luar wanita itu mengeluarkan ekspresi lain seperti berpura-pura memasang ekspresi terkejut dengan ucapan Doni.
"Apa maksud mu Doni…?" Tanya Mona yang berpura-pura kaget.
"Aku butuh bukti jika kamu mencintaiku Mona." Desak Doni.
"Aku harus membuktikan bagaimana?" Tanya Mona yang berpura-pura memasang ekspresi lugu.
"Tapi…."
"Hanya malam ini, anggap saja sebagai perpisahan kita. Aku butuh kamu Mona." Desis Doni yang mulai meraba perut rata Mona.
"Baiklah."
Cup
Doni yang sedari tadi menunggu jawaban itu langsung menyambar bibir menggoda Mona saat wanita itu mengucapkan kata setuju setelah dirinya menahan diri beberapa saat. Doni mencium, melum4at bahkan menggigit bibir Mona dengan penuh gairah yang sudah berada di ubun-ubun.
__ADS_1
"Hahahaha kamu hanya milikku Doni, selamanya akan seperti itu." Kata Mona dalam hati dengan tertawa jahat.
Bagaikan orang kesurupan Doni mencumbu leher Mona dengan begitu agresif. Tangannya dengan gatal naik merambat hingga sampai di salah satu gunung yang berada di balik piyama tipis yang di kenakan oleh Mona. Tangannya dengan kuat meremas sesuatu yang kenyal itu membuat Mona semakin bergera liar.
Ah
Satu ******* keluar dari bibir Mona yang sudah tidak bisa wanita itu tahan. Suara des4h4n Mona rupanya membuat Doni semakin bersemangat mencumbui Mona hingga dengan sekali tarikan piyama yang di kenakan Mona langsung terlepas dari tubuh Mona.
Mata Doni semakin berkabut gairah melihat tubuh seksi dan montok Mona membuat hasratnya naik. Doni langsung menyerang gunung kembar di depannya seperti bayi yang kehausan. Hisapan dan gigitan di berikan Doni hingga semakin membuat Mona berteriak nyaring.
Tak mau kalah tangan Mona langsung melepas satu persatu kancing kemeja Doni hingga beberapa saat kemudian keduanya terlihat n4k3t tanpa ada penghalang satu benangpun di tubuh keduanya.
Jleb
Ah….
Mona sampai berteriak tertahan saat Doni masuk dengan kasar karna sudah tak tahan. Tanpa mempedulikan Mona Doni langsung memacu dirinya dengan begitu brutal membuat Mona sampai terpekik-pekik akibat hujaman Doni yang begitu keras dan agresif.
Mona tidak menyesal karna nyatanya bercint4 seperti ini lebih nikm4t di bandingkan Doni sadar. Wanita itu dengan gilanya justru mengimbangi permainan Doni membuat pria itu semangat memacu dirinya tanpa memperdulikan lagi.
"Ah… Mona sayang sedikit lagi…" ucap Doni dengan napas yang terengah-engah semakin mempercepat gerakannya hingga membuat Mona semakin berteriak.
Sleep
Sleep
__ADS_1
Suara kulit yang saling beradu menimbulkan suara aneh dalam apartemen itu. Keduanya tidak peduli jika saat ini mereka bermain di ruang tamu.
Mona yang melihat Doni sudah ingin sampai di puncaknya langsung membalik keadaan hingga berada di atas tubuh Doni. Wanita itu bergerak liar membuat Doni lupa segalanya hingga menumpahkan cairannya di dalam rahim Mona tanpa berpikir jika kejadian ini akan membuat ya menyesal di kemudian hari.