Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 64


__ADS_3

"Untuk apa kau kemari, Pak Tua?" Tanya Zio sinis menatap pria tua di depannya itu yang tak lain adalah Tuan Handoko.


Zio yang sedang bersantai di ruang tamu terganggu dengan bunyi bel rumah. Saat membuka pintu ternyata yang datang adalah Kakeknya. Lebih bikin kesalnya lagi ternyata Angelina ikut juga.


"Kami hanya mampir sekalian mau makan malam," jawab Tuan Handoko santai.


Zio yang mendengar itu langsung memutar mata jengah. Ia benar-benar tidak ikhlas jika ada orang lain yang memakan masakan Silvana.


"Sayang.., loh ada mereka juga." Silvana menatap dua orang di depannya dengan heran.


"Aku tidak mengundang mereka sayang, mereka saja yang tiba-tiba nongol di sini seperti setan." Kata Zio yang berdiri memeluk pinggang ramping Silvana.


Tuan Handoko yang mendengar apa yang di katakan oleh sang cucu hanya bisa memijit pelipisnya. Apa cucunya itu benar-benar tidak tahu sopan santun? Kenapa dirinya justru di samakan dengan setan?


"Untuk apa anda datang kemari Tuan Handoko yang terhormat? Apa anda masih ingin memisahkan aku dengan suamiku, lalu menikahkan-nya dengan wanita itu?"


"Sudah sepantasnya, karena Angelina setara dengan Zio bukan seperti kamu..,"


"Karena saya miskin begitu?" Potong Silvana langsung.


"Tentu saja,"


"Apa harta kalian bawa mati? Kenapa orang kaya selalu memandang kasta di bandingan harga diri? Anda yakin wanita model sepertinya bisa menjadi pendamping yang di inginkan cucumu? Lihat cara pakaiannya, bahkan bajunya pun kurang bahan semua. Bagaimana bisa dia sebagai wanita memamerkan bagian tubuhnya yang terlarang di hadapan semua orang."


Skakmati


Tuan Handoko langsung terdiam dengan matanya yang melirik ke arah Angelina yang terdiam.

__ADS_1


"Apa anda tidak ingin di hari tua anda bisa berkumpul dengan keluarga anda? Hidup bersama mereka dengan cucu menantu mu yang merawatnya dan cucumu yang mengisi hari-hari tuamu?"


Deg


Tuan Handoko langsung bergetar hatinya saat mendengar ucapan Silvana yang sangat mengenai relung hatinya. Siapa yang tak ingin di rawat oleh keluarga sendiri? Setulus apapun dan sebaik apapun seorang pelayan dan perawat akan lebih baik jika yang melayani hari tuanya.


Namun Angelina, Tuan Handoko jelas tahu bagaimana karakter dari wanita seperti Angelina. Wanita seperti itu hanya tahu bersolek,mempercantik diri, dan shopping berfoya-foya menghamburkan uang.


Sedangkan Angelina, wanita itu sangat ingin membuka mulutnya membalas ucapan pedas dari Silvana. Tapi harus membalas seperti apa? Dia juga tidak mungkin Sudi menghabiskan waktunya hanya untuk mengurus kakek tua di sampingnya itu.


Silvana menarik pelan Zio untuk menuju meja makan tak lupa mengajak mereka juga syukurnya dia memasak cukup banyak malam ini.


"Karena kalian sudah ada disini maka Mari kita makan malam bersama. Jika kalian mau, jika tidak silahkan menunggu." Kata Silvana dengan nada pedas.


Tuan Handoko segera berdiri beranjak mengikuti langkah Silvana. Namun, pria tua itu menghentikan langkahnya saat melihat jika Angelina tidak berdiri dari kursinya.


"Tapi kek…,"


"Berdiri atau aku pulangkan kamu sekarang juga!" Ancam Tuan Handoko kepada Angelina.


Tak punya pilihan lain Angelina hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh Tuan Handoko. Dengan gerakan lambat dan malas wanita itu berdiri dengan memperbaiki kerudung yang di kenakan-nya.


Sampai di meja makan Tuan Handoko segera duduk begitu pula dengan Angelina yang duduk walau hanya terpaksa. Tuan Handoko menatap menu di depannya itu yang tak seperti menu-menu di restoran atau pun menu saat ia makan di mensionnya.


"Ayo di makan?" Kata Silvana yang memberi kode mereka untuk makan.


"Ck ini makanan atau sampah ini," sinis Angelina yang melirik makanan di atas meja.

__ADS_1


"Jika tidak suka, tidak perlu makan. Saya masak juga bukan untuk anda." Balas Silvana ketus.


Silvana hanya menatap Angelina dengan kesal mengambil makanan untuk Zio dan dirinya.


"Hey Pak Tua jangan ambil banyak-banyak!" Sentak Zio yang melototi Tuan Handoko.


Tuan Handoko yang mendengar teriakan Zio hanya mendengus dingin. Bukannya mengurangi pria tua itu justru menuangkan sayur tumis itu di atas piringnya membuat Zio melototkan mata.


“Sayang itu..,”


“Sudah makan saja yang ada,” potong Silvana yang memotong ucapan Zio.


Zio yang mendengar apa yang dikatakan oleh Silvana langsung diam. Dengan diam mereka mulai memaka makanan mereka tak terkecuali Angelina. Walau sempat menghina masakan menu Silvana nyatanya wanita itu juga ikut mengambil bagian.


Selesai maka mereka kembali ke ruang tamu terkecuali Silvana yang langsung mengatur piring kotor an mencucinya.


“Hey pak tua, lihat istriku! Dia melakukan tugasnya dengan baik, mengurus rumah, mengurusku baik dari isi perus sampai pakaian kotor sekalipun. Sedangkan dia, apa yang membanggakan dan bisa melampaui elebihan istriku. Jangankan memasakkan aku, menyetrikan pakaianku saja aku berani jamin pasti tidak bisa.” Sinis Zio.


“Karena itu tugas pelayan.” Sahut Angelina yang tak ingin terus diam.


“Itulah bedanya kamu dan Silvana istriku. Jika kamu tidak bisa maka istriku bisa, bangun subuh memasakan sarapanku, mengecek pakaianku, dan pulang malam namun, masih bisa juga membuat perutku kenyang tanpa harus makn di luar. Jika kamu berfikir jika pekerjaan rumah adalah pekerjaan pelayan maka kamu salah. Karena itu adalah tugas kalian sebaai istri.” Tekan Zio yang menatap remeh sang Kakek.


Tuan Handoko yang melihat tatapan remeh dari sang cucu hanya bisa memutar mata malas. Kali ini pria tua itu tidak bisa berkutik begitu pula Angelina yang baru saja ingin membuka mulutnya nyatanya pahanya langsung di cubit oleh Tuan Handoko.


"Sekarang masih mengatakan wanita ini lebih baik? Aku rasa mata kau yang buta Pak Tua." Ejek Zio yang tersenyum menyebalkan ke arah Tuan Handoko.


"Cucu sialan, kenapa sekarang dia selalu berkata pedas dan seperti racun?" Umpat Tuan Handoko.

__ADS_1


__ADS_2