
"Kamu tidak ingin pulang sayang?"
Tiba-tiba saja Zio masuk dalam ruangan Silvana membuat gadis itu kaget. Hingga menatapnya kesal.
"Kamu membuatku kaget Zi, kamu ingin membuatku cepat mati ha….?" Kesal Silvana.
Cup
"Berhenti mengomel sayang, kamu membuatku gemes" kata Zio yang telah berhasil mencuri satu ciuman singkat di bibir sang kekasih.
"Kamu…."
"Mengomel-lah itu artinya aku akan mendapatkan sebuah ciuman yang banyak" Ucap Zio tersenyum miring.
"Kamu ingin mendapatkan ciuman banyak?" Tanya Silvana yang beranjak berdiri berbalik lalu mengalunkan tangannya di leher Zio.
"Tentu saja aku mau. Apalagi jika bibir ini yang aku cium" ucap Zio yang kembali menyambar bibir Silvana namun hanya singkat.
Silvana tersenyum miring lalu menarik leher Zio hingga bibir keduanya bertemu. Zio yang mendapat serangan dari Silvana langsung membulatkan mata. Namun itu hanya beberapa detik sebelum tersenyum tipis mulai membalas ciuman Silvana.
Beberapa menit kemudian Zio melepaskan ciumannya setelah merasa jika mereka berdua butuh pasokan oksigen.
"Ciuman mu benar-benar memabukan baby" bisik Zio yang menggigit kecil telinga Silvana.
"Tidak heran si Doni itu tidak mau melepaskannya" batin Zio yang menyeringai karna mulai saat ini Silvana telah resmi menjadi miliknya.
"Kita pulang"
Kata Zio yang mengambil tas Silvana menarik lembut dan menggenggam tangan Silvana hingga merekakeluar dengan tangan yang saling berkaitan.
Sampai di lobby ternyata Arga sudah menunggu mereka di samping mobil.
"Silahkan masuk My Queen" kata Zio yang membukan pintu untuk Silvana.
"Bos benar-benar sudah gila" kata Arga dalam hati yang bergidik ngeri terhadap Zio yang tengah tersenyum menyitari mobil masuk dalam mobil di samping Silvana.
"Apa yang kamu lakukan? Cepat jalan!" Perintah Zio datar.
"Baik Bos" jawab Arga
"Tadi saja lembutnya minta ampun nah sekarang kaya singa" gerutu Arga dalam hati.
Dengan hati yang dongkol Arka menjalankan mobilnya menuju Apartemen Silvana. Bagaimana tidak dongkol kedua manusia di belakangnya itu tanpa malu menunjukan kemesraan mereka alhasil Arga yang jomblo malah kebakaran jenggot sendiri.
"Bos ku yang dingin dan datar kini entah pergi kemana? Sekarang yang ada hanya hanya Zio yang berhati hello Kitty"
"Apa yang kamu lihat Arga?" Tanya Zio datar yang menatap tajam Arga saat melihat Arga tengah melihat mereka lewat kaca spion.
"Tidak ada Bos" jawab Arga yang gelagapan sendiri melihat tatapan tajam Zio.
"Cih bilang saya kamu iri 'kan? Karna nggk punya kekasih. Makanya sesekali berkencanlah! Biar tau rasanya jatuh cinta itu bagaimana" ejek Zio yang kembali memeluk Silvana.
__ADS_1
"Apa katanya? Berkencan? Cih apa dia lupa? Semenjak mengenal dan menjadi kekasih Nona Silvana. Aku bahkan tidak pernah di beri libur, Aku bekerja Rodi bersamanya yang setiap hari selalu lembur sedangkan dia? Dia enak-enakan bermesraan dengan Nona Silvana"
Arga rasanya ingin menelan hidup-hidup Bosnya itu bagaimana tidak? Dia menyuruhnya untuk berkencan tapi tidak memberinya hari libur bahkan di hari Minggu sekalipun.
"Iya Tuan Arga. Sesekali carilah udara segar di luar jangan hanya berkencan dengan berkas-berkas itu" timpal Silvana yang ikut menimpali.
"Dam'it kalian membuatku ingin menelan kalian hidup-hidup Nona" kata Arga dalam hati yang sudah semakin dongkol.
Tidak Zio tidak Silvana mereka bagaikan sudah saling telepati membuat Arga benar-benar kesal.
Cukup! Arga tak terima ini. Bisa-bisanya dia di salahkan dan di ejek seperti ini.
"Nona asal Anda tahu? Saya juga ingin menghirup udara segar, mencari gadis di luar sana. Tapi….. semua itu tidak bisa karna banyaknya tumpukan berkas sialan itu yang ada di meja saya. Bukan karna kemauan saya tapi karna pria di samping Nona itu Alias kekasih Nona dan atasan saya tidak memberi saya hari libur bahkan di hari Minggu sekalipun! Jadi, jika ingin menyalahkan orang maka salahkan saja orang di samping anda Nona" Ucap Arga panjang kali lebar dengan kecepatan yang berada di atas rata-rata.
Uhukk Uhuukkk
Zio yang sedang bermanja-manja memeluk lengan Silvana langsung terbatuk-batuk saat mendengar penuturan dari Asistennya itu.
"Jadi kamu menyalahkan ku ha….?" Kata Zio yang menendang kursi jok yang di duduki Arga dengan keras.
"Itu memang kesalahan anda Tuan. Jadi, berilah saya hari libur" kata Arga dengan kesal.
"Cih kau fikir, aku akan memberi kau makan gaji buta? Ck kerja keras kau itu juga sepadan dengan gaji yang kau terima puluhan juta" balas Zio sinis.
"Tapi tidak ada yang sanggup jika bukan saya Bos. Kalau saya resign anda tidak akan menemukan Asisten yang tahan banting seperti saya" bela Arga.
"Ya sudah besok aku tunggu surat pengunduran kamu dari kantor" kata Zio kesal.
Ckittt
Bruk
Aah
"Arga sialan! Mau aku bunuh kau ha….?" Teriak Zio murka saat Silvana menambrak jok kursi depan membuat keningnya memerah dan bengkak.
"Ma….maaf B….Bos sa….saya ti…tidak sengaja B…bos" kata Arga yang gelagapan sendiri.
"Tunggu hukuman mu" Desis Zio yang menatap tajam Arga.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Tanya Zio dengan Khawatir.
Bagaimana tidak khawatir kening sang kekasih telah memerah dan benjol. Pasti itu sangat sakit mengingat tadi dia membentur jok kursi dengan sangat kencang pikir Zio yang mengelus kening Silvana.
"Shhh"
"Arga ke rumah sakit cepat!" Sentak Zio dengan wajah pucat pasi.
"Eh baik Bos"
Arga dengan cepat menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
"Sial. Harusnya tadi aku tidak berhenti mendadak"
Arga Merutuki kebodohannya yang memberhentikan mobil secara tiba-tiba membuat kekasih dari sang Bos terluka.
"Untuk apa ke rumah sakit?" Tanya Silvana yang mengerutkan dahi.
"Tentu saja untuk memeriksa mu sayang" kata Zio yang memeluk Silvana.
"Lho, aku nggk apa-apa ngapain ke rumah sakit coba?"
"Apanya yang tidak apa-apa? Lihat kening kamu, kamu terluka sayang! Dan harus di periksa. Ini semua salah Asisten tak kompoten ini" kata Zio yang menatap sinis Arga.
"Tapi ini hanya merah dan benjol sedikit nanti juga di kompres air dingin langsung turun benjolnya" kata Silvana kesal pada Zio.
"Benarkan tidak sakit?"
"Tidak. Di kompres air Aaaa…. Apa yang kamu lakukan?" Teriak Silvana yang menatap tajam Zio yang kini menatapnya datar.
Silvana meringis sakit saat keningnya malah di jitak oleh sang kekasih padahal dia tahu jika keningnya benjol tapi kenapa malah di jitak.
"Katanya tidak sakit tapi baru di pegang seperti itu malah berteriak sakit" kata Zio datar.
"Jelas sakit….."
"Diam! Kita ke rumah sakit" ucap Zio datar yang menatap tajam Silvana menandakan jika tak ingin di bantah lagi.
Silvana yang melihat tatapan datar Zio langsung duduk diam menutup mulut rapat-rapat.
Sampai di rumah sakit Zio langsung menggendong tubuh ramping Silvana membawanya masuk dalam rumah sakit yang langsung di tangani oleh Dokter.
Siapa yang tidak mengenal seorang Zionard, Sang pengusaha sukses.
"Tuan letakkan disini" kata Dokter wanita muda yang menunduk brankar.
Zio hanya diam menurunkan Silvana duduk di brankar itu dengan terus menggenggam tangannya jika dia tidak ingin keluar dari ruangan itu.
"Cepat obati dia!" Titah Zio.
"Baik Tuan"
Dokter wanita muda itu mulai ke arah Silvana namun langsung mengerutkan dahi saat melihat jika Silvana baik-baik saja.
"Apa yang harus di tangani Tuan? Wanita ini baik-baik saja" kata Wanita muda itu yang menatap Silvana dengan sinis.
"Apa matamu buta ha…? Kamu tidak lihat dahinya merah? Aku tidak mau tahu obati benjolan itu!" Perintah Zio yang terdengar penuh penekanan.
Ba…….baik Tu... Tuan"
"Obati yang benar jangan hanya melihatku! Apa perlu aku congkel bola matamu?"
"Maa..maaf Tuan"
__ADS_1