Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 67


__ADS_3

Hari telah berganti malam dengan begitu cepat. Zio yang baru menyelesaikan pekerjaannya langsung melakukan pergerangan otot untuk merangsang ototnya yang sempat kaku karena kelamaan duduk. Setelah merasakan jika otot-ototnya mulai rileks Zio segera berdiri berbalik berjalan menuju ruang pribadi miliknya.


Ceklek


Zio masuk ke dalam ruangan itu, matanya langsung tertuju pada sosok cantik yang tengah tertidur lelap di atas ranjang miliknya. Sosok itu adalah wanita yang di cintainya paling dikasihinya di dunia ini. Zio mendekat mengelus kepala Silvana yang masih tertidur lelap.


Zio melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang ternyata sudah jam 11 malam.


“Pantas tidur lelap ternyata sudah selarut ini, Lebih baik aku gendong saja.”


Guman Zio yang membungkuk lalu menyelipkan tangannya di leher dan juga kaki Silvana hingga menggendong istrinya dengan model ala bridal style. Zio dengan wajah datarnya keluar dari ruangannya menuju lift bersyukur dirinya berpapasan dengan Arga yang sepertinya baru akan pulang juga.


“Tuan,”


“Jangan berisik istriku sedang tertidur.” Gertak Zio yang menatap Arga.


“Maaf Tuan,” ucap Arga yang langsung menundukan kepalanya sebagai tanda maaf.


“Segera cari pelayan 3 orang dan pastikan mereka memiliki umur 40 ke atas.” Titah Zio dengan suara rendah takut membangunkan Silvana.


“Akan saya segera cari Tuan.” Jawab Arga tegas dan yakin.


Sebenarnya Arga ingin bertanya kenapa Tuan Zio ingin mencari seorang pelayan terlebih pelayan ittu juga haruslah wanita paruh baya. Namun, untuk bertanya Arga juga takut apalagi ada Silvana di dalam gendongan Tuan Zio. Jangan sampai Nyonya muda nya itu terbangun.


Jika sampai itu terjadi maka sama saja dengan menyerahkan sisa hidup pada predator di depannya itu. Arga berusaha menekan rasa penasarannya itu. Hingga di menit berikutnya terdengar suara pintu Lift yang terbuka.


Ting


Zio segera berjalan keluar dari lift menuju parkiran mobil khusus untuk dirinya dan juga Arga.

__ADS_1


“Apa perlu saya antar Tuan?” Arga menawarkan diri untuk mengantar Zio dan juga Silvana kembali ke mension mereka.


"Tidak perlu, kamu pulanglah. Aku bisa menyetir." Ungkap Zio yang hanya menyuruh Arga membukakan pintu untuknya.


"Hari-hati Tuan," pesan Arga sebelum mobil Zio keluar dari area parkiran.


Zio menjalankan mobilnya dengan pelan karena tidak ingin membuat Silvana terganggu dan terbangun nantinya. Tanpa di ketahui Zio jika di belakang sana sebuah mobil hitam tengah mengikutinya sewaktu keluar dari perusahaan.


"Lihat saja pria sialan, akan aku kamu terpuruk karena Silvana lebih memilih bersama denganku di banding dirimu." Guman sosok pria itu yang menatap tajam mobil yang di tumpangi Zio dan Silvana.


Doni sudah menunggu beberapa menit di perusahaan Zio hingga apa yang di tunggu-tunggu olehnya keluar juga. Melihat mobil Zio yang melaju tak membuang waktu lagi Doni segera mengikuti Zio dengan jarak aman. Doni tak ingin mengambil resiko dengan mengikuti mobil itu dalam jarak dekat.


Sedangkan di sisi lain Zio yang tidak mengetahui apapun hanya tampak santai. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya Zio sampai di sebuah mansion mereka yang di tinggalinya bersama Silvana.


Zio menoleh ke arah Silvana yang masih tertidur pulas tanpa adanya gangguan sedikitpun. Zio melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil menjemput Silvana membawanya masuk ke dalam mension mereka.


“Jadi disini mereka tingga? Lihat saja aku akan segera menjemput kamu Vana sayang.” Guman Doni dengan senyum miring.


Sedangkan di sisi Zio, pria itu baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Sampai di kamar Zio dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian membaringkan Silvana di atas ranjang.


“Kau pasti kelelahan, harusnya pelayan itu cepat hadir.” Guman Zio yang merapiikan helaian rambut Silvana yang menghalangi wajah cantik istrinya.


Zio menarik selimut untuk menyelimuti tubuh wanita itu sampai dada. Setelah itu baru Zio turun dari ranjang membuka pakaiannya satu persatu menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Zio keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sebuah handuk yang di lilitkan di pinggangnya untuk menutup area pribadi miliknya. Zio segera menuju walk in close mencari pakaiannya.


Zio kembali menuju ranjang dengan bertelanjang dada Pria itu naik di atas ranjang dan membawa Silvana dalam pelukannya.


“Selamat malam my wife,” bisik Zio di telinga Silvana sebelum menutup matanya.

__ADS_1


Sinar mentari memasuki sebuah kamar yang berisikan dua insan yang tengah tertidur dengan saling berpelukan. Kedua insan itu adalah Silvana dan juga Zio yang masih terlelap dalam tidur mereka. Hingga sinar matahari itu membangunkan Silvana.


“Astaga sudah pagi! Aku belum masak apa-apa.” Panik Silvana yang langsung bangun berniat turun dari ranjang tapi di hentikan Zio.


“Mau kemana sayang?” Zio bertanya dengan suara khas orang baru bangun tidur.


“Aku harus masak sayang, jika tidak maka kita tidak akan sarapan.” Kata Silvana dengan berniat melepaskan lilitan tangan Zio di perutnya.


“Sudah kamu mandi saja. Tidak perlu memasak, tidak perlu beres, ataupun melakukan apapun. Kamu mandi dan bersiap kita akan sarapan di luar saja.” Titah Zio dengan datar.


“Tapi..,”


“Sudah jangan membantah, cepat mandi!”


Tak punya pilihan lain Silvana segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Zio pria itu langsung bangun dan bersandar di kepala ranjang.


“Aku harap, Arga sudah menemukan pelayannya. Bagaimana bisa istriku harus melakukan itu semua? Aku menikahi dia dengan menjanjikan sebuah kebahagiaan tapi…, apa yang aku berikan? Aku justru menjadikannya seperti pelayan.” Guman Zio dengan tersenyum miris.


Setelah menunggu beberapa menit kemudian Silvana keluar dari kamar mandi. Melihat itu Zio tersenyum mendekat k arah Silvana.


Cup


“Mulai saat ini kamu dilarang mengerjakan


pekerjaan rumah dan hal lainnya yang menyangkut dengan pekerjaan rumah.” Ungkap Zio dengan lembut mengelus pipi Silvana.


“Tapi…,”


“Dengan Vana, dulu aku mengira semua pekerjaan rumah itu ringan. Oleh karena itu, aku membiarkan dan mengizinkan kamu untuk melakukan semuanya. Akan tetapi, setelah aku tinggal bersama mu aku menyadari semua itu berat. Bagaimana bisa aku membiarkan orang yang aku cintai kesusahan baik fisik maupun otak.”

__ADS_1


“Tapi sayang aku sanggup menjalan kannya. Bukankah itu semua juga tugasku sebagai istri? Sudah..,”


“Persetan dengan tugas istri, kamu hanya boleh melayaniku di atas ranjang, menyiapkan pakaianku, terakhir melayaniku di meja makan. Di lain itu tidak ada lagi, jika aku melihat kamu melakukan hal yang tidak aku sebutkan tadi. Aku akan menghukumku.” Ancam Zio dengan segera berlalu masuk ke dalm kamar mandi dengan menutup pintu kamar mandi dengan keras.


__ADS_2